Kamis, 24 Oktober 2013

Perencanaan Pembelajaran

PENDEKATAN SISTEM DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN A. PENGERTIAN SISTEM Menurut etimologi pendekatan sistem lebih menekan padaprosedurnya dengan mendefinisikan sistem sebagai suatu jaringankerja dari prosedur – prosedur yang saling berhubungan,berkumpul bersama -sama untuk melakukan kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu, yang dimaksud adalah alat – alat pengendalian sosial untuk melanggengkan dalam system pengendalian.Sistem menurut terminologi adalah pendekatan sistem yang lebih menekan pada elemen atau komponennya, dengan mendefinisikan sistem yaitu kumpulan dari elemen – elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sistem merupakan satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem mempunyai tiga ciri, yaitu: 1. Setiap sistem memiliki tujuan 2. Setiap sistem memiliki fungsi 3. Setiap sistem memiliki komponen  Sistem pembelajaran Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.  Manusiawi ; guru, siswa, serta orang-orang yang mendukung pembelajaran  Material; berbagai bahan pelajaran yang dapat disajikan sebagai sumber belajar  Fasilitas dan perlengkapan; segala sesuatu yang dapat mendukung terhadap jalannya proses pembelajaran  Prosedur; kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran.  Konsep Sistem Istilah sistem meliputi spektrum konsep yang sangat luas. Sebagai misal, seorang manusia, organisasi, mobil, susunan tata surya dan sekolah merupakan suatu sistem. Contoh-contoh tersebut memiliki batasan-batasan tersendiri yang satu sama lain berbeda. Meskipun demikian terdapat kesamaan dari segi prosesnya dalam hal ini terdapat masukan dan menghasilkan keluaran. Itulah sebabnya pengertian sistem tidak lain adalah suatu kesatuan unsur-unsur yang saling berinteraksi secara fungsional yang memperoleh masukan menjadi keluaran. B. TUJUAN SISTEM Tujuan merupakan komponen penting dalam sistem pembelajaran, karena tujuan mengandung arah pembelajaran. Tujuan menentukan kondisi siswa yang ingin dibentuk melalui proses tersebut. Tujuan dalam proses pembelajaran menempati posisi yang sangat penting, bagaikan jantung pada tubuh manusia. Ia merupakan komponen yang pertama dan utama dalam sistem pembelajaran. Indonesia, saat ini dengan KTSP nya mejadikan kompetensi sebagai tujuan, artinya bahwa tujuan yang diharapkan adalah siswa dapat menguasai sejumlah kompetensi yang tergambar dalam kompetensi dasar maupun dalam standar kompetensi.  kriteria yang mempengaruhi system pembelajaran  Faktor guru Dalam sistem pembelajaran, guru berperan sebagai perencana (planer) atau desainer (desainer) pembelajaran, sebagai implementator atau mungkin sebagai keduanya. Dalam melaksanakan perannya sebagai implementator rencana dan desain pembelajaran bukan hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarinya akan tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi kualitas guru.  Faktor Siswa Faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dari aspek siswa terdiri dari: • Pupil formative experience, jenis kelamin dan latar belakang kehidupan sosial siswa. • Pupil properties, segala seuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki oleh siswa.  Faktor sarana dan prasarana Sarana adalah segala sesuatu yang secara langsung mendukung kelancaran proses pembelajaran. Sedangkan prsarana adalah segala sesuatu yang tidak langsung mendukung kelancaran proses pembelajaran. Terdapat beberapa keuntungan bagi lembaga pendidikan yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana, yaitu: • Dapat menumbuhkan motivasi dan gairah guru dalam mengajar • Dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar.  Faktor lingkungan Dilihat dari lingkungan, ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu: • Faktor organisasi kelas Faktor ini meliputi jumlah siswa dalam suatu kelas. organisasi kelas yang terlalu besar kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran, sehingga kelas cenderung: a. Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa sehingga waktu yang tersedia semakin sempit. b. Kelompok belajar akan kurang mampu memanfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. c. Kepuasan belajar siswa cenderung akan menurun d. Perbedaan individu antar anggota akan semakin nampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan. e. Anggota kelompok yang terlalu banyak cenderung akan memaksa sebagian besar siswa menunggu. f. Anggota kelompok yang terlalu banyak cenderung siswa kurang aktif dan berpartisifasi dalam belajar. • Faktor iklim sosial-psikologis Faktor sosial-psikologis adalah keharmonisan hubungan antar orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim ini terjadi secara internal (dalam sekolah ) dan eksternal (dengan dunia luar sekolah). C. FUNGSI-FUGSI SISTEM Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, diperlukan berbagai fungsi yang beraktivitas. Misalnya seorang manusia agar dapat hidup dan menunaikan tugasnya di dalam dirinya diperlukan adanya fungsi koordinasi dan penggerak, fungsi pernafasan, fungsi perencanaan makanan, fungsi peredaran darah, fungsi penginderaan, fungsi perlindungan terhadap penyakit dan berbagai bahaya, serta fungsi pembiakan dan lain-lain. D. KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM Komponen-komponen system dalam pembelajaran terdiri dari : 1. Siswa Proses pembelajaran pada hakekatnya diarahkan untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga siswa harus dijadikan sebagai pusat dari segala kegiatan. 2. Tujuan Tujuan adalah komponen terpenting dalam pembelajaran setelah komponen siswa sebagai subjek belajar. Dalam dunia pendidikan, persoalan tujuan merupakan persoalan tentang visi dan misi lembaga pendidikan itu sendiri. Tujuan yang lebih umum diturunkan kepada tujuan yang lebih spesifik. Tujuan khusus yang direncanakan guru meliputi:  Pengetahuan, informasi, serta pemahaman sebagai bidang kognitif.  Sikap dan apresiasi sebagai bidang afektif  Berbagai kemampuan sebagai bidang motorik 3. Kondisi Kondisi adalah berbagai pengalaman belajar yang dirancang agar siswa dapat mencapai tujuan khusus seperti yang telah dirumuskan. Pengalaman belajar harus mendorong siswa supaya aktif baik secara fisik maupun nonfisik. 4. Sumber-sumber belajar Sumber belajar berkaitan dengan segala sesuatu yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar, yang meliputi lingkungan fisik dan fersonal. Desainer harus mampu menentukan sumber belajar apa dan bagaimana cara memanfaatkannya. 5. Hasil belajar Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Tugas utama dalam hal ini adalah merancang instrumen yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran. E. INTERAKSI ATAU SALING BERHUBUNGAN Semua komponen dalam system pembelajaran haruslah saling berhubungan satu sama lain. Misalnya dalam proses pembelajran disajikan penyampaian pesan melalui media atau alat, seperti infocus, maka diperlukan adanya aliran listrik untuk membantu dalam proses belajar tersebut. F. PENGGABUNGAN YANG MENIMBULAKAN JARINGAN KETERPADUAN Penggabungan yang menimbulakan keterpaduan ini berdasar pada hokum Gestallt yang menyatakan bahwa suatu keseluruhan itu mempunyai nilai atau kemampuan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jumlah bagian-bagian dalam kaitan dengan kegiatan pembelajran,, para guru berusaha menjalin keterpaduan antara sesama guru. G. PROSES TRANSFORMASI Semua sistem mempunyai misi untuk mencapai suatu meksud atau tujuan tertentu. Untuk itu diperlukan suatu proses yang mengubah masukan (input) menajdi hasil (output). SEPULUH LANGKAH MENDESAIN PEMBELAJARAN MENURUT DICK AND CARREY Model Dick – Carey adalah model desain Instruksional yang dikembangkan oleh Walter Dick, Lou Carey dan James O Carey. Model ini adalah salah satu dari model prosedural, yaitu model yang menyarankan agar penerapan prinsip disain Instruksional disesuaikan dengan langkah-langkah yang harus di tempuh secara berurutan. Model Dick – Carey tertuang dalam Bukunya The Systematic Design of Instruction edisi 6 tahun 2005. Perancangan Instruksional menurut sistem pendekatan model Dick & Carey terdapat beberapa komponen yang akan dilewati di dalam proses pengembangan dan perencanaan tersebut. Model Dick and Carey terdiri dari 10 langkah. Setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, system yang terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya. Model ini termasuk ke dalam model prosedural. Langkah–langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalaah : 1. Identifikasi Tujuan (Identity Instructional Goal(s)). Sebagaimana kita ketahui bahwa tujan akhir pembelajaran adalah tercapainya tujuan umum pembelajarantersebut.Karena itu, setiap perancang harus mempertimbangkan secara mendalam tentang rumusan tujuan umum pembelajaran yang akan di tentukannya. Mempertimbangkan secara dalam artinya, untuk merumuskan tujuan umum pembelajaran harus mempertimbangkan karakteristik bidang studi, karakteristik siswa, dalam kondisi lapangan. Dick and carrey(1985) menjelaskan bahwa tujuan pengajar adalah untuk menentukan apa yang dapat di lakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Di dalam buku akta mengajar v (Depdikbud, 1982) tujuan pembelajaran sangat penting dalam proses intruksional atau dalam setiap kegiatan belajar mengajar, sebab tujuan pembelajaran yang di rumuskan secara spesifik dan jelas, akan memberikan keuntungan kepada: a. Siswa untuk dapat mengatur waktu, dan pemusatan perhatian pada tujuan yang ingin di capai; b. Guru untuk dapat mengatur kegiatan instruksionalnya, metodenya, dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut; c. Evaliator untuk dapat menyusun tes sesuai dengan apa yang harus di capai oleh anak didik. Rumusan tujuan umum pembelajaran menurut Dick and carrey (1985) harus jelas dan dapat di ukur, terbentuk tingkah laku. Pandangan lain seperti (Uno Hamsah, 1993, juga Miarso, 1984) mengemukakan rumusan pembelajaran yang baik adalah (a) mengunakan istilah yang operasional, (b) berbentuk hasil belajar, (c) berbentuk tingkah laku,(d) jelas hanya mengukur satu tingkah laku. Pendapat lain dikemukakan Mudhofir (1990) rumusan tujuan pembelajaran yang baik (a) formulasi dalam bentuk yang operasional, (b) bentuk produk belajar, (c) dalam tingkah laku si pelajar, (d) jelas tingkah laku yang ingin di capai, (e) hanya mangandung satu tujuan belajar, (f) tingkah keluasan yang sesuai, (g) rumusan kondisi pembelajaran jelas dan cantumkan standar tingkah laku yang dapat di terima. Adapun (Degeng, 1989,juga Uno Hamzah, 1993) Mengemukakan ada tiga komponen utama dari suatu rumusan tujuan pembelajaran, yaitu prilaku , kondisi, dan derajat kriteria keberhasilan. Instruksional Development institute (IDI) menambahkan suatu komponen yang perlu lagi dispesifikasikan dalam rumusan tujuan, yaitu sasaran (Audience). Selanjutnya komponen-komponen ini oleh Degeng (1989), Uno Hamzah (1993) untuk lebih mudah mengingatnya di sebut dengan bantuan mnemonik ABCD (Audience, Behavioral, Conditions, dan Degree). 2. Melakukan analisis pembelajaran Dengan cara analisis pembelajaran ini akan diidentifikasikasi keterampilan – keterampilan bawahan (subordinate skills). Jadi, posisi analisis pembelajaran dalam keseluruhan desain pembelajaran merupakan perilaku prasyarat , sebagai perilaku yang menurut urutan gerak fifik yang berlangsumg lebih dulu, perilaku yang menurut proses psikologis muncul lebih dulu atau secara kronologis terjadi lebih awal, sehingga analisis ini merupakan acuan dasar dalam melanjutkan langkah – langkah desain belajar tertentu. Dick and carrey (1985) mengatakan bahwa tujuan pengajaran yang telah diidentifikasi perlu analisis untuk mengenali keterampilan – keterampilan bawahan (subordinate skills) yang mengharuskan anak didik belajar menguasainya dan langkah-langkah prosedural bawahan yang ada harus diikuti anak didik untuk dapat belajar tertentu . Gagne,brigs, dan Wager (1988), tujuan analisis pengajaran adalah untuk menentukan keterampilan-keterampilan yang akan dijangkau oleh tujuan pembelajaran, serta memungkinkan untuk membuat keputusan yang diperlukan dalam urutan mengajar. Adapun atwi suparman (1991), analsisis instruksional adalah proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logik dan sistematik. Dengan melakukan analisis pembelajaran ini, akan tergambar susunan perilaku khusus yang paling awal sampai yang paling akhir. Untuk menemukan keterampilan-keterampilan bawahan yang bersumber dari tujuan pembelajaran, digunakan pendekatan hierarki. Mengapa harus menggunakan pendekata hierarki, karena anak didik dituntut harus mampu memecahkan masalah atau melakukan kegiatan informasi yang tidak dijumpai sebelumnya, seperti mengklasifikasi dengan ciri-cirinya, menerapkan dalil atau prinsip untuk memecahkan masalah. Menganalisis subordinate skills sangatlah diperlukan, karena iapabila ketermapilan bawahan yang seharusnya daka dikuasai tidak diajarkan, maka banyak anak didik tidak akan memiliki latar belakang diperlukan untuk mencapai tujuan , dengan demikian pembelajaran menjadi tidak efektif. Sebaliknya, apabila keterampilan bawahan yang berlebihan, pembelajaran akan memakan waktu yang lebih lama sebagaimana mestinya, dan ketermapilan yang tidak perlu diajarkan malah mengganggu anak didik dalam belajar menguasai keterampilan yang diperlukan. Cara ynag digunakan untuk mengidentifikasi subordinate skills dengan cara memilih keterampilan bawahan yang berhubungan langsung dengan ranah tujuan pembelajaran. Biasanya untuk maa kuliah atau mata pelajaran tertentu keseluruhan tujuan merupakan keterampilan intelektual. Tekntik analisis keterampilan bawahanya menggunakan pendekatan hierarki, yaitu dengan memilih apa yang harus diketahui dan dilakukan oleh anak didik, sehingga denagan usaha pembelajaran sedikit mungkin untuk dikuasai atau dipelajari atau dikuasai melalui belajar. 3. Mengidentifikasi Tingkah Laku Masukan dan Karekteristik Mahasiswa Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakterisitik siswa sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas perseorangan untuk dapat dijadikan sebagai petunjtu dalam mempreskripsikan strategi pengolahan pembelajaran. Aspek-aspek yang diungkap dalam kegiatan ini berupa bakat, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir, minat, atau keterampilan awal. Untuk mengungkap kemamouan awal mereka dapat dilakukan dengan pemberian panduan kurikulum. Adapun minat, motivasi, kemampuan berpikir, gaya belajar, dan lain-lainya dapat dilakukan dengan bantuan tes buku yang telah dirancang para ahli. Misalnya tes gaya belajar bisa menggunakan tes yang dibuat oleh keffe, (1992), tes berfikir formal menggunakan tes menurut piaget(1978) yang sudah pernah dilakukan di AS. 4. Merumuska Tujuan Performansi Menutut dick and carrey (1985) menyatakan bahwa tujuan performansi terdiri atas: (1) Tujuan harus menguraikan apa yang akan dpat dikerjakan, atau diperbuat oleh anak didik. (2) Menyebutukan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat, yang hadir pada waktu anak didik berbuat. (3) Menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksud pada tujan. 5. Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan Tes acuan patokan terdiri atas soal-soal yang secara langsung mengukur istilah patokan yang dideskrpsikan dalam suatu pernagkap tujuan khusus. Istilah patokan (criterion) dipergunakan karena soal-soal tes merupakan rambu-rambu untuk menentukan kelayakan penampilan siswa dalam tujuan, keberhasilan siswa dalam tes ini menentukan apakah siswa telah mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan atau belum, tes acuan patokan (criterion-referenced test) disebut juga tes acuan tujuan (objective-referenced test). Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengmbangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk: (1) Mendiagnosis dan menempatkannya dalam kurikulum; (2) Mendorong hasil belajar dan menemukan kesalahan pengertian, sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutukan; (3) Menjadi dokumen kemauan belajar; Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, dick and carrey (1985), merekomendasikan 4 (empat) macam tes acuan patokan yaitu : (1) Test entry behaviors merupakan tes acuan patokan untuk mengukur keterampilan sebagaimana adanya pada permulaan pembelajaran; (2) Pretes merupakan tes acuan patokan yang berguna bagi keperluan tujuan yang telah dirancang sehinnga diketahui sejauh mana pengetahuan anak didik terhadap semua keterampilan yang berada diatas batas, yakni keterampilan prasyarat. Maksud dari pretes ini bukanlah untuk menetukan nilai akhir(perolehan belajar) tetapi lebih mengenai profil anak didik berkenaan analisis pembelajaran. Tes sisipan merupakan tes acuan patokan yang melayani dua fungsi penting, yaitu (1) mengetes setelah satu atau dua tujuan pembelajaran diajarkan sebelum pascates, (2) untuk mengetes kemajuan anak didik, sehingga dapat dilakukan perbaikan (remedial) yang dibutuhkan sebelum pascates yang lebih formal. Pascates atau postes; merupakan tes acuan patokan yang menakup seluruh tujuan pembelajaran yang mencerminkan tingkat perolehan belajar sehingga dengan demikian dapat diidentifaksi bagian-bagian mana di antara tujuan pembelajaran yang belum tercapai. Misalnya diterapkan pada mata kuliah perencanaan pengajaran, maka untuk melaksanakan tes entry behavioral dilaksanakan bersama-sama dengan ptites, mengapa? Hal ini didasarkan pada dua alternatif, yaitu (1) kedua tes tersebut sejauh mana keterampilan yang dimilki si belajar sebelum pembelajaran dimulai, sehingga bagi perancang dapat ditentukan star awal pembelajaran-nya; (2) jam yang tersedia menurut kurikulum sangat terbatas mengingat jumlah sks-nya hanya 3, sehingga jika dilakukan secara terpisah dianggap merugikan jam pembelajaran. Untuk keperluan pascatest, mengapa? Hal ini disebabkan oleh 1) mata kuliah perencanaan pembelajaran mempunyai pascatest 30 soal. Sebagian besar tes tersebut adalah informasi verbal, sehingga si belajar ( mahasiswa) harus mengingat sejumlah konsep untuk keperluan pesintesian jawaban, dalam hal ini apabila dilakukan satu kali diperhitungkan waktu yang tersedia (100 menit) tidak cukup. Mengapa bentuk soal yang dibuat untuk keperluan pascates berbentuk essay? Hal ini sesuai dengan mata kuliah perencanaan pembelajaran yang telah ditentukan pada kurikulum, yaitu menganalisis, sehingga soal yang cocok untuk keperluan menganalisis adalah soal dengan bentuk esay. Untuk mempelajari masing-masing pokok bahasan mata kuliah perncanaan pengajaran dapat dilakukan secara terpisah tanpa tergantung pada bahasan pokok yang lain, sehingga pascates dapat dilakukan 3(tiga) kali, lebih baik jika dilakukan setiap satu pokok bahasan selesai diajarkan jika waktu yang tersedia pada kurikulum memungkinkan. 6. Mengembangkan strategi pembelajaran Dalam strategi pembelajaran, menjelaskan komponen umum siswa suatu perangkat material pembelajaran dan mengembangkan materi secara prosedural haruslah berdasarkan karakreristik siswa. Karena material pembelajaran yang dikembangkan, pada akhirnya dimaksudkan untuk membantu siswa agar memperoleh kemuduahan dalam belaja. Untuk itu sebelim dikembangkan materi perlu dilihat kembali karakteristik siswa. Dalam tulisan lain dianjurkan melihat pula karakteristik materi. Dick dan carrey (1985), mengemukakan bahwa dalam perencanaan dalam satu unit pembelajaraan ada tiga tahap, yaitu (1) mengurutkan dan merumpunkan tujuan kedalam pembelajaran;(2)merencanakan pembelajaran,pengetesan, dan kegiatan tidak lanjut;(3) menyusun alokasi waktu berdasarkan strategi pembelajaran. Mengapa harus mengurutkan dan merumpunkan kedalam pembelajaran? Karena untuk mengembangkan material pembelajaran, menilai material yang ada, merevisi material, dan merencanakan pembelajaran . dengan mengurutkan tujuan ke dalam pembelajaran dapat lebih bermakna bagi isi belajar. Komponen-komponen hasil belajar terdiri atas; (a) kegiatan pra pembelajaran, (b) penyajian informas, (c) peran serta mahasisw,(d) pengetesan, dan (e) kegiatan tindak lanjut. a. Kegiatan prapembelajaran Mengapa harus ada kegiatan prapembelajaran? Kegiatan pra pembelajaran dianggap penting karena dapat memotivasi anak didik atau (mahasiswa) untuk mempelajari mata kuliah perencanaan pembelajaran misalnya. Disamping dapat memotivasi juga mereka akan dapat petunjuk-petunjuk yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran, sehingga pada akhir perkuliahan si belajar ( mahasiswa ) mampu mengusainya. b. Penyajian informasi Mengapa harus ada penyajian informasi? Karena dengan adanya penyajian informasi, anak didik ( siswa atau mahasiswa ) akan tahu seberapa jauh material pembelajaran yang harus meraka pelajari, disajikan sesuai dengan urutannya keterlibatan mereka dalam setiap urutan pembelajaran. c. Peran serta mahasiswa Mengapa peran serta si belajar ( siwa atau mahasiswa ) dianggap penting? Anak didik harus diberikan kesempatan berlatih( terlibat ) dalam setiap langkah pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran, apakah itu dalam bentuk tanya jawab atau mengerjakan soal-soal latihan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kertas-kertas kerja, baik perorangan maupun kelompok setelah diberi komentar atau penilaian oleh dosen dikembalikan sebagai umpan balik untuk mereka terhadap apa yang telah dikerjakan. Semakin terlibat si belajar pada setiap kegiatan pembelajaran, diharapkan semakin baik perolehan belajar anak didik ( siswa atau mahasiswa) tersebut. Demikian juga halnya keterlibatan pembelajaran dalam dalam hal pemberian umpan balik tugas-tugas anak didik ( siwa atau mahasiswa). d. Pengetesan Untuk keperluan pengetesan ada empat macam tes acuan patokan yang dapat digunakan, yaitu :(1) tes tingkah laku masukan;(2) prates;(3) tes sisipan; dan (4) pascates. Apakah perlu keempat macam tes acuan patokan tersebut perlu dilakukan, karena sesuai dengan fungsinya akan memberikan umpan balik bagi pengajar untuk memperbaiki, merevis, baik material pembelajaran, strategi, maupun strategi pengetesan. e. Kegiatan tindak lanjut Apakah kegiatan tindak lanjut harus dilakukan? Mengapa? Karena rancngan pembelajaran dalam mata kuliah atau mata pelajaran tertentu dapat dikuasai seluruhnya oleh anak didik ( siswa atau mahasiswa) diukur pada penguasaan psacates. Dalam hal ini jika di bawah 80%, kepada mereka diberikan remedial dan tugas, kemudian diuji kembali sampai dinyatakan lulus. Bagaimana dengan si belajar (siswa atau mahasiswa) yang telah dinyatakan lulus? Bagi mereka yang sudah lulus, sementara yang lainya belum, maka kepada mereka akan diberikan bahan pengayaan( remedial ). Mengapa harus ada penetapan alokasi waktu? Hal ini dimaksudkan agar menjadi pedoman bagi pengajar dalam melaksanakan pembelajaran ( tatap muka ) sehingga tidak menyimpang dari alokasi waktu yang telah ditetapkan. Setiap tatap muka terdiri atas 100 menit dengan rincian waktu; (i) pembukaan + penyajian informasi = 45 menit;(ii) tanya jawab atau diskusi = 30 menit;(iii) penyimpulan hasil diskusi oleh guru atau dosen = 25 menit. Jumlah pertemuan = 16 kali meliputi penyajian, diskusi, pnegetesan, dan remedial. 7. Mengembangkan dan memilih material pembelajaran Dick and carrrey (1985) menyarankan ada tiga pola yang dapat diikuti oleh pengajar untuk merencang atau menyampaikan pembelajaran, yaitu sbb. (1) Pengajar merancang bahan pembelajaran individual, semua tahap pembelajaran dimasukkan ke dalam bahan, kecuali prates dan pascates. (2) Penagar memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan strategi pembelajaran. Peran pengajar akan bertambah dalam menyampaikan pembelajaran. Beberapa bahan mungkin saja disampaikan tanpa bantuan pengajar, jika tidak ada, pengajar harus memberi penjelasan. (3) Pengajar tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut strategi pembelajaranya yang telah disusunya. Penegajar menggunakan strategi pembelajaranya yang telah disusunnya. Pengajar mengguanakan strategi pembelajarannya sebagai pedoman termasuk latihan dan kegiatan kelompok. Kebaikan dari strategi ini adalah pengajar dapat segera memperbaiki dan memperbarui pembelajaran bila terjadi perubahan isi. Adapun kerugiannya adalah sebagian besar waktu tersita untuk menyampaikan informasi, sehingga sedikit sekali waktu untuk membantu anak didik . Untuk keperlian program pengembangan mata pelajaran atau mata kuliah, misalnya mata kuliah perencanaan pembelajaran, khususnya untuk material pembelajarannya dipilih dari beberapa buku yang sesuai dengan keperluan pembelajaran mata kuliah tersebut. Sebagai contoh, salah satu buku yang diambil adalah buku yang disusun oleh Dr. Nyoman Sudana Degeng tentang pengembengan desain instruksioanal. 8. Mendesain dan melaksanakan Evaluasi Formatif Mengapa evaliasi formatif perlu dilakukan? Karena evaluasi adalah salah satu langkah dalam mngembangkan desain pembelajaran yang berfungsi untuk mengumpulkan data untuk perbaikan pembelajaran. Dengan kata lain karena melalui evaluasi formatif dan ditemukan berbagai kekurangan yang terdapat kegiatan pembelajaran, sehingga kekurangan-kekuranagan tersebut dapat diperbaiki. Menurut dick and carrey ( 1985), ada tiga fase pokok penilaian formatif, yaitu (1) fase perorangan atau fase klinis. Pada fase ini perancang bekerja dengan siswa secara perorangan untuk memeperoleh d data guna untuk menyempurnakan bahan pelajaran. Data yang dimaksud di sini biasanya kesalahan-kesalahan. (2) fase kelompok kecil, yaitu sekelompok siswa yang terdiri atas delapan sampai sepuluh orang merupakan wakil cerminan populasi sasaran mempelajari bahan secara mandiri, dan kemudian diuji untuk memperoleh data yang diinginkan. (3) fase uji lapangan. Boleh diikuti oleh banyak siswa; sering 30 orang sudah mencukupi. Tekanan dalam uji coba lapangan ini adalah pada pengujian prosedur yang diperlukan untuk memberlakukanpembelajaran itu dalam suatu keadaan yang sangat nyata mungkin. Mengapa melakukan evaluasi kelompok kecil? Hal ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan perubahan yang telah dibuat, dan untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi anak didik jika menggunakan bahan tersebut. Mengapa uji coba lapangan perlu dilaksanakan? Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah perubahan- perubahan yang telah dibuat dari hasil penilaian perseorangan dan penilaian perseorangan dan penilaian kelompok kecil efektif jika digunakan dalam keperluan pembelajaran. 9. Merevisi Bahan Pembelajaran Mengapa merevisi bahan pembelajaran perlu dilakukan? Untuk menyempurnakan bahan pembelajaran sehingga lebuh menarik, efektif bila digunakan dalam keperluan pembelajaran, sehingga memudahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Untuk dapat merevisi pembelajaran sesuai dengan data yang diperoleh dari evaluasi formatif, yaitu penilaina perseorangan, penilaian kelompok kecil, dan hasil akhir uji coba lapangan Dick and Carrey (1985) mengemukakan ada dua revisi yang perlu dipertimbangakan, yaitu (1) revisi terhadap isi atau subtansi bahan pembelajaran agar lebih cermat sebagai alat ajar, (2) revisi terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran. Untuk keperluan bahan pembelajaran ada empat macam keterangan pokok yang menjadi sumber dalam melakukan revisi, yaitu ( 1 ) ciri anak didik dan tingkah laku masukan; ( 2 ) tanggapan langsung terhadap pembelajaran termasuk tes sisipan; ( 3 ) hasil pembelajaran pascates; ( 4 ) jawaban terhadap kuisioner. 10. Mendesain dan melaksanakan Evaluasi sumatif Mengapa perlu dilaksnakan evaluasi sumatif? Karena melalui evaluasi sumatif dapat ditetapkan dan diberikan nilai apakah suatau desain pembelajaran, di mana dasar keputusan penilaian di dasarkan pada keefektifan dan efisiansi dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, evaluasi sumatif diarahkan pada keberhasilan pencapaian tujuan yang telah di tetapkan, yang diperlihatkan oleh unjuk kerja siswa. Apa bila semua tujuan sudah dapat dicapai, efektivitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam mata pembelajaran tertentu dianggap berhasil dengan baik. Demikian pula jika keberhasilan siswa dicapai dalam rentangan waktu yang relatif pendek, maka dari segi efisiensi pembelajaran dapat dicapai. Dan terakhir, jika dengan rancangan pembelajaran ini mungkin dengan memberlakukan strategi yang baik, aktivitas belajar siswa meningkat, maka dari segi keberhasilan pada daya tarik pengajaran dapat dicapai. Dapatkah hal ini kita lakukan, semuanya terpeluang kepada guru yang merencanakan pembelajaran. 2. Tujuan penggunaan model belajar Dick and Carrey Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar : (1) pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal–hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran, (2) adanya pertautan antara tiap komponen khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki, (3) menerangkan langkah–langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.

Psikologi Sosial

Metode Ilmiah Psikologi metode ilmiah yang menunjukkan pada jawaban apa dan mengapa yang telah kita pahami. Banyak orang yang mengalami kebahagiaan dan ganjaran kehidupan, seperti perasaan kebermaknaan hidup, ketenangan pikiran, cinta sejati dan masih banyak lagi. Orang-orang dapat mengetahui kapan mereka bahagia ataupun tidak, dengan menggunakan ekspresi kebahagiaan apa yang mungkin menjadi pengalaman kehidupan manusia. Jadi, pengalaman kebahagiaan bukan berarti merusak kebahagiaan itu, tetapi memberikan warna dan memperbaiki kehidupan untuk lebih baik. Pemahaman yang jelas dari ilmu pengetahuan dengan mengetahui apa dan mengapa artinya pendekatan ilmiah dan pentingnya kolaborasi mempelajari metode ilmiah. Metode ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu, apakah benar, dan sebagainya. Definisi Metode Ilmiah,Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.” B. Pendekatan Ilmiah Pusat pendekatan ilmiah adalah empat sikap : 1. Rasa ingin tahu paling penting adalah rasa kringintahuan (curious). Ilmuwan memperhatikan hal-hal di dunia dan ingin mengetahui apa itu dan mengapa seperti itu. 2. Skeptis meragukan hal-hal yang orang lain terima apa adanya. Ras dapat memengaruhi IQ seseorang 3. Objektivitas menggunakan metode empiris yaitu berasal dari pengamatan berbagai peristiwa dengan penalaran logis. Menjadi objektif sebagai melihat hal-hal apa adanya. 4. Kesediaan untuk berfikir kritis berfikir reflektif, produktif, dan mengevaluasi bukti untuk mengetahui bagaimana sebuah gagasan benar-benar mendukung. C. Langkah- Langkah dalam Metode Ilmiah 1. Mengamati sejumlah gejala Aspek penting dari pengonseptualisasian sebuah masalah penelitian adalah menghasilkan cara kongkret.definisi operasional menghapus beberapa kebingungan dal ketidakmenentuan yang mungkin berkeliaran di dalam pikiran kita. Kuesioner meliputi item-item, seperti “kondisi hidup saya sempurna”. Keberhasilan finansial hanya memiliki keterkaitan lemah dengan kebahagiaan. 2. Merumuskan hipotesis dan dugaan Hipotesis adalah gagasan yang muncul secara rasional dari sebuah teori. Manusia cenderung merasa dirinya puas ketika hidup mengenai 3 kebutuhan : keterhubungan, otonomi, dan kompeten. 3. Menguji melalui penelitian empiris Empiris adalah mengumpulkan dan menganalisis data. Pengumpulan data sesuai dengan penelitian yang digunakan dan partisipan. 4. Menarik kesimpulan Penelitian ilmiah menghasilkan hasil yang konsisten dan dapat direproduksi. 5. Mengevaluasi kesimpulan Mengubah cara berfikir kita dari hasil gagasan baru. E. Kriteria Metode ilmiah 1. Berdasarkan fakta 2. Bebas dari prasangka 3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa 4. Menggunakan hipolesa 5. Menggunakan ukuran objektif 6. Menggunakan teknik kuantifikasi. DAFTAR PUSTAKA www.kuliahpsikologi.com http://sitirobiatunnuroniyah.blogspot.com/2012/10/metode-ilmiah-psikologi.html KONSEP DAN DEVINISI KELOMPOK Devinisi kelompok Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama,mengenal satu sama lain,dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga,kelompok diskusi,kelompok pemecah masalah,atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Ada beberapa para ahli yang memberikan definisi tentang kelompok,antara lain : Menurut Hernert Smith bahwa “ kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu,yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi. Menurut DeVito (1997) kelompok merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil bagi semua anggota untuk berkomunikasi secara relatif mudah. Menurut Hornby,A.S (1973:441) berpendapat bahwa kelompok adalah sejumlah orang atau benda yang berkumpul atau ditempatkan secara bersama-sama atau secara alamiah berkumpul. Menurut Webster (1989:425),mengatakan bahwa kelompok adalah sejumlah orang atau benda yang bergabung secara erat dan menganggap dirinya sebagai suatu kesatuan Sherif (1962),berpendapat kelompok adalah unit sosial yang terdiri dari sejumlah individu yang mempunyai hubungan saling ketergantungan satu sama lain sesuai dengan status dan perannya secara tertulis atau tidak mereka telah mengadakan norma yang mengatur tingkah laku anggota kelompoknya.. Slamet Santosa (1992:8),’Kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi”. Selain itu karakteristik kelompok adalah 1). Adanya interaksi, 2). Adanya struktur, 3). Kebersamaan, 4). Adanya tujuan, 5). Ada suasana kelompok, 6). Dan adanya dinamika interdependensi. Oleh sebab itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok adalah unit komunitas yang terdiri dari dua orang atau lebih yang memiliki suatu kesatuan tujuan dan pemikiran serta integritas antar anggota yang kuat. Dalam konteks perpektif kelompok holistic berpendapat bahwa kelompok tersebut harus sesuai dengan pandangan gestalt sebagai suatu sistem kesatuan yang tidak dapat dipisahkan serta mudah dipahami dengan dilakukannya pengujian tersebut. Gestalt berpendapat bahwa dalam kelompok keseluruhan itu lebih besar daripada bagian. Kelompok tidak bisa dipahami hanya dengan melihat kualitas dan karakteristik tiap anggota saja. Lewin mengembangkan sebuah teori medan bahwasanya perilaku harus digunakan dalam kedua fungsinya yaitu sebagai karakteristik pribadi individu dan karakteristik lingkungan Macam-Macam Kelompok Dalam masyarakat dikenal beberapa jenis atau macam kelompok yaitu : Asosiasi Asosiasi merupakan kelompok yang memenuhi tiga kriteria tersebut. Suatu asosiasi atau organisasi formal terdiri atas orang-orang yang memiliki kesadaran akan kesamaan jenis,ada hubungan sosial di antara warga kelompok dan organisasi. Kelompok Sosial Kelompok sosial adalah kelompok yang para anggotanya memiliki kesadaran akan kesamaan jenis serta hubungan sosial di antara warganya,tetapi tidak mengenal organisasi. Kelompok Kemasyarakatan Kelompok kemasyrakatan merupakan kelompok yang berisi orang-orang yang memiliki kesadaran jenis saja,tidak ada hubungan sosial di antara orang-orang tersebut maupun organisasi. Kelompok Statistik Kelompok Statistik merupakan kelompok yang terdiri atas orang-orang yang memiliki kesamaan jenis,tetapi tidak memiliki satu pun dari tiga kriteria kelompok. Berbagai macam kelompok/asosiasi dalam masyrakat yaitu : In group-Out group In group(kelompok dalam)Merupakan kelompok sosial dimana di antara anggota-anggotanya saling simpati dan mempunyai perasaan dekat satu dengan lainnya.Outgroup(kelompok luar) ialah kelompok yang berada diluar suatu kelompok yang di tandai oleh adanya antagonisme prasangka atai antipati. Demikian dikemukakan oleh W.G.Sumner (1940). Kelompok primer dan kelompok sekunder Klasifikasi ini dikemukakan oleh C.H.Colley(1909).Kelompok primer dan kelompok sekunder dibedakan berdasarkan ada tidaknya ciri saling mengenal atau kerjasama yang erat dan bersifat personal di antara anggota-anggotanya. Kelompok dengan ciri demikian disebut kelompok primer,dan yang tidak disebut kelompok sekunder. Kelompok Formal dan Kelompok Informal Klasifikasi ini dikemukakan oleh Van Doorn dan Lammers(1964). Kelompok formal merupakan kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan. Sedangkan Kelompok Informal merupakan kelompok yang dibangun berdasarkan hubungan-hubungan yang bersifat personal dan tidak ditentukan oleh aturan-aturan yang resmi. Kelompok Organik dan Kelompok Mekanik Klasifikasi ini dikemukakan oleh Emmile Durkheim didasarkan pada ada tidaknya pembagian kerja dalam kelompok. Didalam kelompok organik terdapat pembagian kerja yang rinci dan tugas di antara anggota-anggotanya,Sedangkan Pada kelompok mekanik tidak terdapat pembagaian kerja. Ada tidaknya pembagian kerja ini menimbulkan pula sifat solidaritas antar anggota yang berbeda. Pada kelompok organik terdapat solidaritas organik,dan dalam kelompo0k mekanik terdapat solidaritas mekanik. Membership dan Reference group Klasifikasi ini dikemukakan oleh Robert K.Merton. Membership group merupakan kelompok dengan anggota-anggota yang tercatat secara fisik sebagai anggota. Sedangkan Reference group merupakan kelompok acuan. Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok B. Ada beberapa para ahli yang memberikan definisi tentang kelompok, antara lain sebagai berikut: 1. Menurut Hernert Smith bahwa “kelompok adalah suatu uni yang terdapat beberapa individu, yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan atas dasar kesatuan persepsi”. 2. Menurut DeVito (1997) kelompok merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil bagi semua anggota untuk berkomunikasi secara relatif mudah. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan beberapa tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur diantara mereka. Kelompok mengembangkan norma-norma, atau peraturan yang mengidentifikasi tentang apayang dianggap sebagai perilaku yang diinginkan bagi semua anggotanya. 3. Menurut Joseph S. Roucek Suatu kelompok meliputi dua atau lebih manusia yang diantara mereka terdapat beberapa pola interasi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan. 4. Menurut Mayor Polak Kelompok sosial adalah satu group, yaitu sejumlah orang yang ada antara hubungan satu sama lain dan hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur. 5. Menurut Wila Huky Kelompok merupakan suatu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang saling berinteraksi atau saling berkomunikasi. 6. Menurut Merton, kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva merupakan orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagai niai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peran konsep lain yang diajukan Merton ialah konsep kategori sosial. 7. Menurut Homans (1950) : kelompok adalah sejumlah individu berkomunikasi satu dengan yang lain dalam jangka waktu tertentu yang jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tiap orang dapat berkomunikasi dengan semua anggota secara langsung. 8. Menurut Bonner (1959) : kelompok adalah sejumlah individu yang berinteraksi dengan individu yang lain. 9. Menurut Stogdill (1959) : kelompok adalah satu sistem interaksi terbuka dimana pola interaksi tersebut ditentukan oleh struktur sistem tersebut. 10. Menurut Smith (1945) : kelompok adalah satu unit yang terdiri dari sejumlah organisme yang mempunyai persepsi kolektif tentang kesatuan mereka dan mempunyai kemampuan untuk berbuat dan bertingkah laku dengan cara yang sama terhadap lingkungan. C. Karakteristik Kelompok 1. Karakteristik Umum Kelompok Ada dua karakteristik yang melekat pada suatu kelompok, yaitu norma dan peran.Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tentang norma. Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan lainnya. Ada tiga kategori norma kelompok, yaitu norma sosial, prosedural dan tugas. Norma sosial mengatur hubungan di antara para nggota kelompok. Sedangkan norma prosedural menguraikan dengan lebih rinci bagaimana kelompok harus beroperasi, seperti bagaimana suatu kelompok harus membuat keputusan.  Karakteristik Kelompok: Beberapa ahli mengatakan bahwa dalam suatu kelompok terdapat ciri – ciri, yaitu. 1. Terdiri dari 2 orang atau lebih 2. Adanya interaksi yang terus menerus 3. Adanya pengembangan identitas kelompok 4. Adanya norma – norma kelompo 5. Adanya diferensiasi peran 6. Peran yang saling tergantung 7. Produktivitas bertambah atau meningkat 8. Saling membagi tujuan yang sama D. Tahapan Pembentukan Kelompok Tahap-tahap Pembentukan Kelompok 1. Tahap 1 – Forming Pada tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu banyak dihabiskan untuk merencanakan, mengumpulkan infomasi dan mendekatkan diri satu sama lain. 2. Tahap 2 – Storming Pada tahap ini kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah apa yang harus merka selesaikan, bagaimana fungsi mereka masing-masing dan model kepemimpinan seperti apa yang dapat mereka terima. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasikan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula beberapa kelompok yang mandek pada tahap ini. Tahap storming sangatlah penting untuk perkembangan suatu kelompok. Tahap ini bias saja menyakitkan bagi anggota kelompok yang menghindari konflik. Anggota kelompok harus memiliki toleransi terhadap perbedaan yang ada. 3. Tahap 3 – Norming Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Kelompok mulai menemukan haromoni seiring dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi penting masing-masing anggota untuk kelmpok. 4. Tahap 4 – Performing Kelompok pada tahap ini dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling tergantung satu sama lainnya dan mereka saling respek dalam berkomunikasi. Supervisor dari kelompok ini bersifat partisipatif. Keputusan penting justru banyak diambil oleh kelompok. 5. Tahap 5 – Adjourning dan Transforming Ini adalah tahap yang terakhir dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap manapun ketika mereka mengalami perubahan (transforming). Misalnya jika ada review mengenai goal ataupun ada perubahan anggota kelompok. E. Kekuatan Team Work Teamwork disini artinya kemampuan bekerjasama untuk menuju satu visi yang sama dan hal ini hal ini hanya akan terbangun jika setiap individu dan unit kerja di dalam perusahaan menyadari bahwa mereka tidak mungkin mampu mencapai tujuan perusahaan secara sendiri-sendiri. Tiap individu atau tiap unit memang memiliki tujuan masing-masing. Akan tetapi, dalam teamwork yang efektif, tujuan masing-masing kelompok akan muncul sebagai target bersama dan menimbulkan ketergantungan satu dengan yang lainnya secara positif. Secara umum, untuk membangun teamwork yang solid dibutuhkan beberapa syarat : 1. Jangan bersikap individualistis. Dalam suatu tim yang solid, kita tidak boleh menunjukkan ego masing-masing. Setiap anggota tim harus keluar dari diri sendiri dan masuk ke dalam kesatuan tim. Adanya kesediaan untuk saling menghormati, saling memaafkan saling menerima kekurangan, dan memberi pelayanan satu sama lain. Dalam kondisi ini perlu ada kesediaan individu untuk meninggalkan kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih besar yaitu perusahaan. 2. Berikan kontribusi Keberhasilan suatu teamwork hanya bisa dicapai karena adanya kontribusi dari setiap individu yang terlibat. Untuk itu setiap anggota tim harus mampu berperan sesuai dengan kompetensinya, sehingga satu sama lain bisa saling melengkapi. Masing-masing unit harus menjalankan tugas dan tanggung jawab, saling menyelaraskan antara upaya yang telah dilakukan satu unit dengan upaya unit lain dalam satu tim sehingga apa yang menjadi sasaran perusahaan dapat tercapai. Kebersamaan tim hanya dapat terwujud, manakala setiap orang atau unit dapat memainkan perannya semaksimal mungkin, dapat mengisi kekurangan unit lain dan bukannya saling menyalahkan. 3. Bersikap fleksibel Dalam suatu tim, kita harus mampu bersikap fleksibel. Ada kesediaan untuk beradaptasi dengan tuntutan lingkungan. Misalnya dulu biasa dilayani, sekarang harus merubah paradigma yaitu ada kesediaan untuk melayani. Selain itu kita juga perlu kreatif, bila satu cara tidak memberikan hasil, kita harus mampu mencari cara lain yang lebih efektif. Selalu ada keinginan mencoba gagasan baru dan cara-cara baru. Kita tidak boleh kaku dan terpaku pada kebiasaan lama atau keberhasilan masa lalu. Setiap tim harus menjadi ‘learning community’ artinya mereka harus cepat memetakan situasi serta mempelajari ketrampilan baru yang diperlukan untuk menjadi pemenang dalam situasi persaingan. 4. Komunikasi Ketika seluruh anggota tim tidak mementingkan diri sendiri, mampu bersikap fleksibel dan beradaptasi satu sama lain, maka tim mampu bersatu dalam kebersamaan. Untuk menjadi tim yang kuat, satu sama lain harus saling mengerti, saling memahami, saling memuji. Komunikasi adalah cara untuk saling mengenali satu sama lain. Dalam prosesnya, hubungan yang erat, dimana satu sama lain saling mengenal dengan baik, saling memahami sehingga dapat membaca apa yang sedang dibutuhkan yang lain tanpa harus mengatakannya. 5. Komitmen Setiap anggota harus memberikan komitmen yang tinggi dalam mencapai tujuan perusahaan. Hal ini ditandai dengan sikap loyal, semangat untuk mencapai tujuan, berupaya untuk menampilkan hasil kerja yang berkualitas dan sempurna, bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya dan disiplin. 6. Kepercayaan dan Saling Menghargai Dengan saling percaya dan saling menghormati, tidak ada musuh yang dapat mengalahkan kita. Dalam satu tim, kita harus menunjukkan kasih sayang dan kepedulian. Setaip anggota tim dapat saling bergantung dan berpegang bersama menempuh berbagai tekanan, menghadapi perlawanan, menghadapi persoalan, baik dari dalam maupun dari luar perusahaan. 7. Patuhilah Pemimpin Dalam suatu tim, peran kepemimpinan juga cukup penting. Bagaimana sasaran bisa tercapai bila tidak ada pemimpin yang mampu menggerakkan anggotanya untuk mencapai sasaran perusahaan. Dalam kerja tim, anggota tim harus bersedia mematuhi pemimpinnya. Meski demikian, ini tidak berarti pemimpin harus menjadi tiran, yang hanya memaksakan kehendak, dan anggota hanya sebagai hamba saja. Pemimpin dan pemain adalah partner, dengan peran yang berbeda. Tetapi apabila anggota tim menentang, mengabaikan atau menggerogoti wibawa kepemimpinan, maka kebersamaan tim akan terpecah belah. Suatu kelompok dapat dinamakan kelompok sosial, apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut 1. Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan yang lain. (menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama 2. Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain (akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat) 3. Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing. 4. Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok memiliki struktur. Struktur kelompok ini dapat memengaruhi tingkah laku individu yang menjadi anggotanya atau individu lain di luar kelompok. Terdapat 6 Struktur kelompok, terdiri dari peran, status, jenjang komunikasi, norma, kohesivitas dan sosialisasi kelompok Berikut ini akan dibahas 2 struktur terlebih dahulu: peran dan status. 1. Peran Yang dimaksud peran adalah serangkaian tingkah laku yang dijalankan dan atau diharapkan dijalankan oleh anggota kelompok yang memiliki posisi tertentu di dalam kelompok sehingga membedakan ia dari anggota lain yang memiliki posisi yang berbeda. 2. Status Status terbentuk karena adanya perbedaan peran di dalam kelompok. Ada peran-[eran yang pemegangnya lebih dihormati dibandingkan yang lain. Berarti pemegang peran itu memiliki status yang lebih tinggi daripada yang lain, misalnya pemimpin. Status mengindikasikan bahwa di dalam kelompok ada hierarki (Vaughan dan hogg, 2005). Ada anggota kelompok yang lebih tinggi statusnya dan ada yang lebih rendah. KEPENTINGAN KELOMPOK A. Pengertian Kelompok Sosial Secara sosiologis pengertian kelompok sosial adalah suatu kumpulan orang-orang yang mempunyai hubungan dan saling berinteraksi satu sama lain dan dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Disamping itu terdapat beberapa definisi dari para ahli mengenai kelompok sosial. Menurut Josep S Roucek dan Roland S Warren kelompok sosial adalah suatu kelompok yang meliputi dua atau lebih manusia, yang diantara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan. B. Proses Terbentuknya Kelompok Sosial Menurut Abdul Syani, terbentuknya suatu kelompok sosial karena adanya naluri manusia yang selalu ingin hidup bersama. Manusia membutuhkan komunikasi dalam membentuk kelompok, karena melalui komunikasi orang dapat mengadakan ikatan dan pengaruh pisikologis. secara timbal balik. Ada dua hasrat pokok manusia sehingga ia terdorong untuk hidup berkelompok, yaitu: 1. Hasrat untuk bersatu dengan manusia lain di sekitarnya 2. Hasrat untuk bersatu dengan situasi alam sekitarnya C. Syarat Terbentuknya Kelompok Sosial Kelompok-kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama dan saling berinteraksi. Untuk itu, setiap himpunan manusia agar dapat dikatakan sebagai kelompok sosial, haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Setiap anggota kelompok memiliki kesadaran bahwa dia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan. 2. Ada kesamaan faktor yang dimiliki anggota-anggota kelompok itu sehingga hubungan antara mereka bartambah erat. Faktor-faktor kesamaan tersebut, D. Macam-Macam Kelompok Sosial a. Berdasarkan besar kecilnya anggota kelompok Menurut George Simmel, besar kecilnya jumlah anggota kelompok akan memengaruhi kelompok dan pola interaksi sosial dalam kelompok tersebut. Dalam penelitiannya, Simmel memulai dari satu orang sebagai perhatian hubungan sosial. b. Berdasarkan derajat interaksi dalam kelompok Derajat interaksi ini juga dapat dilihat pada beberapa kelompok sosial yang berbeda. Kelompok sosial seperti keluarga, rukun tetangga, masyarakat desa, akan mempunyai kelompok yang anggotanya saling mengenal. c. Berdasarkan kepentingan dan wilayah Sebuah masyarakat setempat merupakan suatu kelompok sosial atas dasar wilayah yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu. Sedangkan asosiasi adalah sebuah kelompok sosial yang dibentuk untuk memenuhi kepentingan tertentu. d. Berdasarkan kelangsungan kepentingan Adanya kepentingan bersama merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terbentuknya sebuah kelompok sosial. Suatu kerumunan misalnya, merupakan kelompok yang keberadaannya hanya sebentar karena kepentingannya juga tidak berlangsung lama. Namun, sebuah asosiasi mempunyai kepentingan yang tetap. e. Berdasarkan derajat organisasi Kelompok sosial terdiri atas kelompok-kelompok sosial yang terorganisasi dengan rapi seperti negara, TNI, perusahaan dan sebagainya. Namun, ada kelompok sosial yang hampir tidak terorganisasi dengan baik, seperti kerumunan. Secara umum tipe-tipe kelompok sosial adalah sebagai berikut. 1. Kategori statistik, yaitu pengelompokan atas dasar ciri tertentu yang sama, misalnya kelompok umur. 2. Kategori sosial, yaitu kelompok individu yang sadar akan ciri-ciri yang dimiliki bersama, misalnya PBSI.(Persatuan sepak bola seindonesia) 3. Kelompok tidak teratur, yaitu perkumpulan orang-orang di suatu tempat pada waktu yang sama karena adanya pusat perhatian yang sama. Misalnya, orang yang sedang menonton sepak bola. 4. Organisasi Formal, yaitu kelompok yang sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditentukan terlebih dahulu. 1. Kelompok Sosial dipandang dari Sudut Individu Pada masyarakat yang kompleks, biasanya setiap manusia tidak hanya mempunyai satu kelompok sosial tempat ia menjadi anggotanya. Namun, ia juga menjadi anggota beberapa kelompok sosial sekaligus. Terbentuknya kelompok-kelompok sosial ini biasanya didasari oleh kekerabatan, usia, jenis kelamin, pekerjaan atau kedudukan. Keanggotaan masing-masing kelompok sosial tersebut akan memberikan kedudukan. Namun yang perlu digarisbawahi adalah sifat keanggotaan suatu kelompok tidak selalu bersifat sukarela, tapi ada juga yang sifatnya paksaan. Misalnya, selain sebagai anggota kelompok di tempatnya bekerja, misal nya salah seorang anggota masyarakat, anggota perkumpulan bulu tangkis,dll 2. Kelompok Primer (Primary Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group) Menurut Charles Horton Cooley, kelompok primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri saling mengenal antara anggota-anggotanya serta kerja sama yang erat yang bersifat pribadi. Sebagai salah satu hasil hubungan yang erat dan bersifat pribadi tadi adalah adanya peleburan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompok juga. Oleh karena itu hubungan sosial di dalam kelompok primer berisfat informal (tidak resmi), akrab, personal, dan total yang mencakup berbagai aspek pengalaman hidup seseorang. Di dalam kelompok primer, seperti: keluarga,atau sejumlah sahabat, hubungan sosial cenderung bersifat santai. Para anggota kelompok saling tertarik satu sama lainnya sebagai suatu pribadi. Mereka menyatakan harapan-harapan, dan kecemasan-kecemasan, berbagi pengalaman,dan saling memenuhi kebutuhan akan keakraban sebuah persahabatan. 3. Paguyuban Konsep paguyuban dan patembayan dikemukakan oleh Ferdinand Tonnies. Pengertian paguyuban adalah suatu bentuk kehidupan bersama, di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah, serta kekal. Dasar hubungan tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah dikodratkan. Bentuk paguyuban terutama akan dijumpai di dalam keluarga, kelompok kekerabatan, rukun tetangga, dan sebagainya. Di dalam setiap masyarakat selalu dapat dijumpai salah satu di antara tiga tipe paguyuban berikut. 1. Paguyuban karena ikatan darah ,atau paguyuban yang merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan. Misalnya keluarga dan kelompok kekerabatan. 2. Paguyuban karena tempat , yaitu suatu paguyuban yang terdiri atas orang-orang yang berdekatan tempat tinggal sehingga dapat saling tolong-menolong. Misalnya kelompok arisan, rukun tetangga. 3. Paguyuban karena jiwa pikiran, yaitu paguyuban yang terdiri atas orang-orang yang walaupun tidak mempunyai hubungan darah ataupun tempat tinggalnya tidak berdekatan, akan tetapi mereka mempunyai jiwa, pikiran, dan ideologi yang sama. Ikatan pada paguyuban ini biasanya tidak sekuat paguyuban karena darah atau keturunan. Sebaliknya, patembayan adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu tertentu yang pendek. Patembayan bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka serta strukturnya bersifat mekanis seperti sebuah mesin. Bentuk terutama terdapat di dalam hubungan perjanjian yang bersifat timbal balik. Misalnya, ikatan perjanjian kerja, birokrasi dalam suatu kantor, perjanjian dagang, dan sebagainya. 4. Formal Group dan Informal Group Menurut Soerjono Soekanto, formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar sesamanya. Kriteria rumusan organisasi formal group merupakan keberadaan tata cara untuk mengkordinir usaha-usaha demi tercapainya tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang bersifat khusus. Organisasi biasanya ditegakkan pada landasan mekanisme Misalnya, sekolah terdiri atas beberapa bagian, seperti kepala sekolah, guru, siswa, orang tua murid, bagian tata usaha dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan pengertian informal group adalah kelompok yang tidak mempunyai struktur dan organisasi yang pasti. Kelompok-kelompok tersebut biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang berulang kali. Dasar pertemuan-pertemuan tersebut adalah kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang sama. Misalnya klik , yaitu suatu kelompok kecil tanpa struktur formal yang sering timbul dalam kelompok-kelompok besar. Klik tersebut ditandai dengan adanya pertemuan-pertemuan timbal balik antaranggota yang biasanya hanya “antarakita” saja. E. Kelompok Sosial yang Tidak Teratur 1. Kerumunan Kerumunan adalah sekelompok individu yang berkumpul secara kebetulan di suatu tempat pada waktu yang bersamaan. Ukuran utama adanya kerumunan adalah kehadiran orang-orang secara fisik. Sedikit banyaknya jumlah kerumunan adalah sejauh mata dapat melihat dan selama telingan dapat mendengarkannya. Kerumunan tersebut segera berakhir setelah orang-orangnya bubar. Oleh karena itu, kerumunan merupakan suatu kelompok sosial yang bersifat sementara . F. Masyarakat Setempat (Community) Masyarakat setempat adalah suatu masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografis) dengan batas-batas tertentu. Faktor utama yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar di antara anggota dibandingkan dengan interaksi penduduk di luar batas wilayahnya. Secara garis besar masyarakat setempat berfungsi sebagai ukuran untuk menggaris bawahi kedekatan hubungan antara hubungan sosial dengan suatu wilayah geografis tertentu. Akan tetapi, tempat tinggal tertentu saja belum cukup untuk membentuk suatu masyarakat setempat. Hal ini masih dibutuhkan adanya perasaan komunitas Kisi kisi Secara garis besar Kingsley Davis membedakan bentuk kerumunan menjadi: a. Kerumunan yang berartikulasi dengan struktur sosial Kerumunan ini dapat dibedakan menjadi: 1) Khalayak penonton atau pendengar formal (formal audiences), merupakan kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan tujuan yang sama. Misalnya, menonton film, mengikuti kampanye politik dan sebagainya. 2) Kelompok ekspresif yang telah direncanakan (planned expressive group), yaitu kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu penting, akan tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktivitas kerumunan tersebut. b. Kerumunan yang bersifat sementara (Casual Crowd) Kerumunan ini dibedakan menjadi: 1) Kumpulan yang kurang menyenangkan (inconvenient aggregations). Misalnya, orang yang sedang antri tiket, orang-orang yang menunggu kereta. 2) Kumpulan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik (panic crowds), yaitu orang-orang yang bersama-sama berusaha untuk menyelamatkan diri dari bahaya. Dorongan dalam diri individu-individu yang berkerumun tersebut mempunyai kecenderungan untuk mempertinggi rasa panik. Misalnya, ada kebakaran dan gempa bumi. 3) Kerumunan penonton (spectator crowds), yaitu kerumunan yang terjadi karena ingin melihat kejadian tertentu. Misalnya, ingin melihat korban lalu lintas. c. Kerumunan yang berlawanan dengan norma-norma hukum Kerumunan ini dibedakan menjadi: 1) Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs), yaitu kerumunan yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Misalnya aksi demonstrasi dengan kekerasan. 2) Kerumunan yang bersifat immoral (immoral crowds), yaitu kerumunan yang hampir sama dengan kelompok ekspresif. Bedanya adalah bertentangan dengan norma-norma masyarakat. Misalnya, orang-orang yang mabuk. 2. Publik Berbeda dengan kerumunan, publik lebih merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi, seperti pembicaraan pribadi yang berantai, desas-desus, surat kabar, televisi, film, dan sebagainya. Alat penghubung semacam ini lebih memungkinkan suatu publik mempunyai pengikut-pengikut yang lebih luas dan lebih besar. Akan tetapi, karena jumlahnya yang sangat besar, tidak ada pusat perhatian yang tajam sehingga kesatuan juga tidak ada. 3. In-Group dan Out-Group Sebagai seorang individu, kita sering merasa bahwa aku termasuk dalam bagian kelompok keluargaku, margaku, profesiku, rasku, almamaterku, dan negaraku. Semua kelompok tersebut berakhiran dengan kepunyaan “ku”. Itulah yang dinamakan kelompok sendiri (In group) karena aku termasuk di dalamnya. Banyak kelompok lain dimana aku tidak termasuk keluarga, ras, suku bangsa, pekerjaan, agama dan kelompok bermain. Semua itu merupakan kelompok luar (out group) karena aku berada di luarnya. In-group dan out-group dapat dijumpai di semua masyarakat, walaupun kepentingan-kepentingannya tidak selalu sama. Pada masyarakat primitif yang masih terbelakang kehidupannya biasanya akan mendasarkan diri pada keluarga yang akan menentukan kelompok sendiri dan kelompok luar seseorang. Jika ada dua orang yang saling tidak kenal berjumpa maka hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari hubungan antara keduanya. Jika mereka dapat menemukan adanya hubungan keluarga maka keduanya pun akan bersahabat karena keduanya merupakan anggota dari kelompok yang sama. Namun, jika mereka tidak dapat menemukan adanya kesamaan hubungan antara keluarga, maka mereka adalah musuh sehingga merekapun bereaksi. Pada masyarakat modern, setiap orang mempunyai banyak kelompok sehingga mungkin saja saling tumpang tindih dengan kelompok luarnya. Siswa lama selalu memperlakukan siswa baru sebagai kelompok luar, tetapi ketika berada di dalam gedung olahraga mereka pun bersatu untuk mendukung tim sekolah kesayangannya. Di sisi lain, kelompok sekunder adalah kelompok-kelompok besar yang terdiri atas banyak orang, antara dengan siapa hubungannya tidak perlu berdasarkan pengenalan secara pribadi dan sifatnya juga tidak begitu langgeng. Dalam kelompok sekunder, hubungan sosial bersifat formal, serta didasarkan pada manfaat. Seseorang tidak berhubungan dengan orang lain sebagai suatu pribadi, tetapi sebagai seseorang yang berfungsi dalam menjalankan suatu peran. Kualitas pribadi tidak begitu penting, Beberapa unsur komunitas adalah: 1. Seperasaan Unsur perasaan akibat seseorang berusaha untuk mengidentifikasikan dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok tersebut. Akibatnya, mereka dapat menyebutnya sebagai “kelompok kami” atau “perasaan kami”. 2. Sepenanggunan Setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan masyarakat sendiri memungkinkan peranannya dalam kelompok. 3. Saling memerlukan Individu yang bergabung dalam masyarakat setempat merasakan dirinya tergantung pada komunitas yang meliputi kebutuhan fisik maupun biologis. Untuk mengklasifikasikan masyarakat setempat, dapat digunakan empat kriteria yang saling berhubungan, yaitu: 1. Jumlah penduduk 2. Luas, kekayaan, dan kepadatan penduduk 3. Fungsi-fungsi khusus masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat 4. Organisasi masyarakat yang bersangkutan

Rabu, 23 Oktober 2013

Media Pembelajaran Penddkn BHS Indonesia

Pengenalan Beberapa Media Pembelajaran Media pembelajaran memiliki beberapa jenis, diantaranya teknologi cetak, teknologi audio visual, teknologi berbasis komputer, teknologi gabungan. Kemp & Dayton (1985) mengelompokkan media pembelajaran kedalam delapan jenis, yaitu, media cetakan, media pajang, proyektor transparansi, rekaman audio tape, slide, film dan video, televisi, penyajian multi-image, dan komputer. Dengan beberapa jenis media pembelajaran tersebut, pengajar dapat menggunakan yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Beberapa jenis media pembelajaran tersebut, mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pengertian dan Ciri dari Beberapa Media Pembelajaran 1. Teknologi Cetak Teknologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan meteri, seperti buku dan materi visual statis, terutama melalui proses percetakan mekanis atau fotografis. Kelompok media hasil teknologi cetak meliputi teks, grafik, foto atau representasi fotografik dan reproduksi. Ciri-ciri teknologi cetak yaitu, teks dibaca secara linear, sedangkan visual diamati berdasarkan ruang, baik teks maupun visual menampilkan komunikasi satu arah dan reseptif, teks dan visual ditampilkan statis (diam), baik teks maupun visual berorientasi pada siswa. 2. Teknologi Audio-Visual Teknologi audio-visual yaitu, produksi dan penggunaan materi yang penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran dan tidak tergantung pada pemahaman kata atau symbol-simbol yang serupa. Ciri-ciri utama teknologi media audio-visual adalah, biasanya bersifat linear, biasanya menyajikan visual yang dinamis, digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebalumnya oleh pembuat, berorientasi pada guru dengan tingkat pelibatan interaktif murit yang rendah. 3. Teknologi Berbasis Komputer Teknologi berbasis komputer merupakan cara menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikro-prosesor. Beberapa ciri media yang dihasilkan teknologi berbasis komputer adalah, dapat digunakan secara acak, non-sekuensi, atau secara acak, dapat digunakan berdasarkan keinginan, biasanya gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata, symbol, dan grafik, prinsip-prinsip ilmu kognitif untuk mengembangkan media ini, pembelajaran dapat berorientasi siswa dan melibatkan interaktivitas siswa yang tinggi. 4. Teknologi Gabungan Teknologi gabungan adalah cara untuk menghasilkan dan menyampaikan materi yang menggabungkan pemakaian beberapa bentuk media yang dikendalikan oleh komputer. Ciri-ciri utamanya yaitu, dapat digunakan secara acak, sekuensial, secara linear, dapat digunakan sesuai dengan keinginan siswa, bahan-bahan pelajaran melibatkan banyak interaktivitas siswa, bahan-bahan pelajaran memadukan kata dan visual dari berbagai sumber. Sedangkan menurut Kemp & Dayton ada delapan yaitu, media cetak, media pajang, transparansi proyektor, rekaman audio tape, slide, film dan komputer. · Media Cetakan Media cetakan meliputi bahan-bahan yang disiapkan diatas kertas untuk pengajar dan informasi. Di samping buku teks dan buku ajar, termasuk pula lembaran penuntun berupa daftar cek tentang langkah-langkah yang harus diikuti ketika mengoperasikan suatu peralatan. Lembaran ini berisi gambar atau foto disamping teks penjelasan. Beberapa kelebihan media cetak adalah, siswa dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing, di samping dapat mengulangi materi dalam media cetak, siswa akan mengikuti urutan pikiran secara logis, perpaduan teks dan gambar dalam halaman cetak sudah merupakan hal lumrah, dan ini dapat menambah daya tarik, serta dapat memperlancar pemahaman informasi yang disajikan dalam dua format, verbal dan visual. Dan keterbatasan dari media cetak yaitu, sulit menampilkan gerak dalam halaman media cetak, biaya percetakan akan lebih mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna, proses pencetakan media seringkali memakan waktu beberapa hari sampai berbulan-bulan, tergantung pada peralatan percetakan dan kerumitan informasi pada halaman cetak, jika tidak dirawat dengan baik, media cetakan cepat rusak atau hilang. - Kelebihan 1. Siswa dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing. 2. Disamping dapat mengulangi materi dalam media cetakan siswa akan mengikuti urutan secara logis. 3. Perpaduan teks dan gambar dalam halaman cetak sudah merupak hal lumrah, dan ini dapat menambah daya tarik, serta dapat memperlancar pemahaman informasi yang disajikandalam dua format, verbal dan visual. - Keterbatasan 1. Sulit menampilkan gerak dalam halaman media cetakan. 2. Baiaya percetakan apabila ingin menampilkan ilustarasi, gambar, atau foto yang berwarna warni. 3. Proses percetakan media sering kali memakan waktu beberapa hari sampai berbulan-bulan, tergantung pada peralatan percetakan dan kerumitan informasi pada halaman cetakan. · Media Pajang Media pajang pada umumnya digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi didepan kelompok kecil. Media ini meliputi papan tulis, papan magnet, papan kain, papan buletin, dan, pameran. Media pajang yang paling sederhana dan hampir tersedia adalah papan tulis. Kelebihan media ini adalah, bermanfaat di ruang manapun tanpa harus ada penyesuaian khusus, mudah dipersiapkan dan materinya mudah digunakan, fasilitas papan tulis atau white board selalu tersedia di ruang-ruang kelas. Dan keterbatasannya adalah, terbatas penggunaannya pada kelompok kecil, memerlukan keahlian khusus dari penyajinya (apalagi jika memerlukan penjelasan verbal), mungkin tidak dianggap penting jika dibandingkan media-media yang diproyeksikan. - Kelebihan 1. Bermanfaat diruang manapun tanpa harus ada penyesuaian khusus. 2. Pemakai dapat secara fleksibel membuat perubahan-perubahan sementara penyajian berlansung. 3. Mudah dipersiapkan dan materinya mudah digunakan. - Keterbatasannya 1. Memerlukan keahlian khusus dari penyajiannya (apalagi jika memerlukan penjelasan verbal). · Proyektor Transparansi (OHP) Transparansi yang diproyeksikan adalah visual baik berupa huruf, lambang gambar, grafik atau gabungannya pada lembaran bahan tembus pandang atau plastic yang dipersiapkan untuk diproyeksikan ke sebuah layar dinding melalui sebuah proyektor. Kelebihan OHP adalah, dapat menjangkau kelompok yang besar, guru selalu dapat bertatap muka dengan siswa karena OHP dapat diletakkan di depan kelas, memiliki kemampuan untuk menampilkan warna, dapat disimpan dan digunakan berulang kali. Keterbatasannya yaitu, fasulitas OHP harus tersedia, listrik pada ruang harus tersedia, harus memiliki tehnik khusus untuk pengaturan urutan baik dalam penyajian maupun penyimpanan. - Kelebihan 1. Pantulan proyeksi gambar dapat terlihat jelas pada ruangan yang terang (tidak perlu dalam ruangan yang gelap) sehingga guru dan murid saling melihat. 2. Dapat menjangkau kelompok yang besar. - Keterbatasan 1. Pasilitas OHP harus tersedia. 2. Listrik pada ruangan harus tersedia. · Rekaman Audio Tape Rekaman audio tape adalah cara ekonomis untuk menyiapkan isi pelajaran atau jenis informasi tertentu. Rekaman dapat disiapkan untuk sekelompok siswa , dan sekarang ini sudah lumrah rekaman dipersiapkan untuk menggunakan perorangan. Keuntungannya yaitu, rekaman dapat digandakan untuk keperluan perorangan sehingga pesan dan isi pelajaran dapat berada di beberapa tempat pada waktu bersamaan, merekam peristiwa atau isi pelajaran untuk digunakan kemudian, atau rekaman pekerjaan siswa sendiri dengan media audio, pengoperasian radio tape/ tape recorder relafif mudah. Keterbatasan dari rekaman audio tape adalah dalam suatu rekaman sulit menentukan lokasi suatu pesan atau informasi, kecepatan merekam dan pengaturan trek yang bermacam-macam menimbulkan kesulitan untuk memainkan kembali rekaman pada suatu mesin perekam yang berbeda dengannya. - Kelebihan 1. Radio Tape telah menjadi perlatan yang rumlah dalam rumah tangga, sekolah, mobil,bahkan kantongan (walkman). 2. Merekam pereistiwa atau isi pelajaran untuk digunakan kemudian, atau merekam pekerjaan siswa sendiri dapat dilakukan dengan media audio. - Keterbatasan 1. Dalam suatu rekaman, sulit menentukan lokasi suatu pesan atau informasi. 2. Kecepatan dan pengaturan trek yang bermacam-macam menimbulkan kesulitan untuk memainkan kembali rekaman yang direkam pada suatu musim perekam yang berbeda dengannya. · Slide Slide adalah suatu film transparansi yang berukuran 35mm dengan bingkai 2x2 inci. Bingkai tersebut terbuat dari karton atau plastic. Film bingkai diproyeksikan melalui slide proyektor. Keuntungan dari menggunakan media slide yaitu, urutan gambar (film bingkai) dapat diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan, film bingkai dapat ditayangkan pada ruangan masih terang, film bingkai dapat digunakan sendiri atau digabung dengan suara / rekaman, film bingkai dapat menyajikan peristiwa masa lalu. Pengelompokan berbagai jenis media pembelajaran apabila dilihat dari segi perkembangan teknologi, menurut Seels & Galsgow (1990:181-183) dibagi dalam dua kategori yaitu, pilihan media tradisional dan pilihan media mutakhir. - Kelebihan 1. Urutan gambar dapat diubah sesuai dengan kebutuhan. 2. Film bingkai dapat menyajikan pereistiwa masa lalu atau peristiwa ditempat lain. - Keterbatasan 1. Gambar dan grafik visual yang disajikan tidak bergerak sehingga daya tariknya tidak sekuat dengan televisi film. 2. Meskipun biaya produksinya tidak terlalu mahal, film bingkai masih memerlukan biaya lebih besar dari pada pembuatan media foto, gambar, grafik yang tidak di proyeksikan. · Film dan Video Film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu. Sama halnya dengan film, video dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Kemampuan film dan video melukiskan gambar hidup dan suara memberi daya tersendiri. Kedua jenis media ini pada umumnya digunakan untuk tujuan-tujuan hiburan dokumentasi dan pendidikan. - Keuntungannya 1. Film merupakan pengganti alam sekitar dan bahkan dapat menunjukan objek yang secara normal tidak dapat dilihat, seperti pada kata kerja jantung ketika berdenyut. 2. Film dan video dapat menggambarkan suatu proses secara teapat yang dapat disaksikan secara berulang-ulang jika dipandang perlu. 3. Disamping mendorong dan meningkatkan motivasi, film dan video menanamkan sikap dan segi-segi efektif. - Keterbatasan 1. Pengadaan film dan video umumnya memerlukan biaya mahal dan waktu ynag banyak. 2. Pada saat film dipertunjukan, gambar-gambar bergerak terus sehingga tidak semua siswa dapat mampu mengikuti informasi yang ingin disampaikan melalui film tersebut. · Komputer Komputer adalah mesin yang dirancang khusus untuk memanipulasi informasi yang diberi kode, mesin elektronik yang otomatis melakukan pekerjaan dan perhitungan sederhana dan rumit. - Keuntungan 1. Komputer dapat mengapodasi siswa yang lamban menerima pealajaran, karena ia dapat memberikan iklim yang lebih bersipat efektif dengan cara denganyang lebih individual, tidak pernah lupa, tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan intruksi seperti yang diingikan program yang digunakan. 2. Komputer dapat meransang siswa untuk mengerjakan latiahan, melakukan kehiatan laboratirum atau simulasi karena tersedianya animasi grafik warna, dan musik dapat menambah realisme. - Keterbatasan 1. Untuk menggunakan komputer diperlukan pengetahuan dan keterampilan khusus tentang komputer. 2. Komputer hanya efektif apabla digunakan oleh satu orang atau beberapa orang dalam kelompok kecil. PENGGUNAAN MEDIA Salah satu ciri media pembelajaran adalah bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada penerima yaitu siswa. Sebagaian media dapat mengolah pesan dan respon siswa sehingga media itu sering disebut media interaktif. Media pembelajaran yang akan dibahas mengikuti taksonomi Leshin, dan kawan-kawan (1992) yaitu : a. Media Berbasis Manusia Media berbasis manusia merupakan media tertua yang digunakan untuk mengirimkan dan mengkomunikasikan pesan atau informasi. Media ini bermanfaat khususnya bila tujuan kita adalah mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa. Misalnya, media manusia dapat mengarahkan dan mempengaruhi proses belajar melalui eksplorasi terbimbing dengan menganalisis dari waktu ke waktu apa yang terjadi pada lingkungan belajar. Langkah-langkah rancangan jenis pembelajaran ini adalah sebagai berikut: a. Merumuskan masalah yang relevan; b. Mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang terkait untuk memecahkan masalah; c. Ajarkan mengapa pengetahuan itu penting dan bagaimana pengetahuan itu dapat diterapkan untuk pemecahan masalah; d. Tuntun eksploarasi siswa e. Kembangkan masalah dalam konteks yang beragam dengan tahap tingkat kerumitan; f. Nilai pengetahuan siswa dengan memberikan masalah baru untuk dipecahkan. Salah satu faktor penting dalam pembelajaran dengan media berbasis manusia ialah rancangan pembelajaran yang interaktif. Pelajaran interaktif mendorong partisipasi siswa dan jika digunakan dengan baik dapat mempertinggi hasil belajar siswa. a. Media Berbasis Cetakan Materi pembelajaran berbasis cetakan yang paling umum dikenal adalah buku teks, buku penuntun,jurnal,dan lembaran lepas. Teks berbasis cetakan menuntut enam elemen yang perlu diperhatikan pada saat merancang, yaitu koensistensi, format,organisasi,daya tarik,ukuran huruf dan penggunaan spasi kosong. • Konsistensi a. Gunakan konsistensi format dari halaman ke halaman. Usahakan agar tidak menggabungkan cetakan huruf dan ukuran huruf. b. Usahakan untuk konsisten dalam jarak spasi. Jarak antara judul dan baris pertama serta garis samping supaya sama, dan antara judul dan teks utama. • Format a. Jika paragrap panjang sering digunakan, wajah satu kolom lebih sesuai; sebaliknya, jika paragraph pendek-pendek, wajah dua kolom akan sesuai. b. Isi yang berbeda supaya dipisahkan dan dilabel secara visual. c. Taktik dan strategi pembelajaran yang berbedasebaiknya dipisahkan dan dilabel secara visual. • Organisasi a. Upayakan untuk selalu menginformasikan siswa/pembaca mengenai dimana mereka atau sejauh mana mereka dalam teks itu. Siswa harus mampu melihat sepintas bagian atau bab berapa meraka baca. b. Susunlah teks sedemikian rupa sehingga informasi mudah diperoleh. c. Kotak-kotak dapat digunakan untuk memisahkan bagian-bagian dari teks. • Daya tarik Perkenalkan setiap bab dengan cara yang berbeda. Ini diharapkan dapat memotivasi siswa untuk membaca terus. • Ukuran Huruf a. Pilihlah ukuran huruf yang sesuai dnegan siswa, pesan, dan lingkungannya. Ukuran huruf biasanya dalam poin per inci. Misalnya, ukuran 24 poin per inci. Ukuran huruf yang baik untuk teks ( buku teks atau buku penuntun ) adalah 12 poin. b. Hindari penggunaan huruf capital untuk seluruh teks karena dapat membuat proses membaca itu sulit. • Ruang (spasi kosong) a. Gunakan spasi kosong lowong tak berisi teks atau gambar untuk menambah kontras. Hal ini penting untuk memberikan kesempatan siswa/pembaca untuk istirahat pada titik tertentu pada saat matanya bergerak menyusuri teks. Ruang kosong dapat berbentuk : 1. Ruangan sekitar judul 2. Batas tepi (margin); batas tepi yang luas memaksa perhatian siswa atau pembaca untuk masuk ke tengah-tengah halaman 3. Spasi antarkolom; semakin lebar kolomnya, semakin luas spasi diantaranya 4. Permulaan paragraf diidentasi 5. Penyesuaian spasi antar baris atau antar paragraf b. Menyesuaikan spasi antar baris untuk meningkatkan tampilan dan tingkat keterbacaan. c. Tambahkan spasi antar paragraph untuk meningkatkan tingkat keterbacaan. c. Media Berbasis Visual Media berbasis visual (image atau perumpamaan) memegang peran yang penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman ( misalnya melalui elaborasi struktur dan organisasi) dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Bentuk visual bisa berupa: a. Gambar representasi, seperti gambar, lukisan atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya suatau benda. b. Diagram yang melukiskan hubungan-hubungan konsep, organisasi dan struktur isi materi. c. Peta yang menunjukkan hubungan-hubungan ruang antara unsur-unsur dalam isi materi. d. Grafik seperti tabel, grafik, dan chart (bagan) yang menyajikan gambar atau kecenderungan data/ antar hubungan seperangkat gambar atau angka-angka. Warna dan pemberian bayangan digunakan untuk mengarahkan perhatian dan menbedakan komponen-komponen. DAFTAR PUSTAKA Arsyad Azhar, M.A. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta : Rajawali Pers. http://maszhiday.blogspot.com/2013/04/media-berbasis-manusia.html http://maszhiday.blogspot.com/2013/04/media-berbasis-cetakan.html http://zuhroelhq-zuhrotarbiyah.blogspot.com/2012/01/media-berbasis-visual.html PEMILIHAN MEDIA Pembelajaran yang efektif memerlukan perancanaan yang baik. Media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran itu juga memerlukan perencanaan yang baik. Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukan bahwa seorang guru memilih salah satu media dalam kegiatannya di kelas atas dasar pertimbangan antara lain: a) Ia merasa sudah akrab dengan media itu, papan tulis atau proyektor transparansi. b) Ia merasa bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri misalnya diagram pada flip chart. c) Media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian siswa, serta menuntunnya pada penyajian yang lebih terstruktur dan terorganisasi. Pertimbangan ini diharapkan oleh guru dapat memenuhi kebutuhannya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Wilkinson, ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam memilih media pembelajaran, yakni : 1. Tujuan Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran yang dirumuskan. Tujuan yang dirumuskan ini adalah kriteria yang paling cocok, sedangkan tujuan pembelajaran yang lain merupakan kelengkapan dari kriteria utama. Perlu di kaji tujuan pembelajaran apa yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran. Dari kajian Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau Tujuan Instruksional Khusus (TIK) ini bisa dianalisis media apa yang cocok guna mencapai tujuan tersebut. 2. Ketepatgunaan Jika materi yang akan dipelajari adalah bagian-bagian yang penting dari benda, maka gambar seperti bagan dan slide dapat digunakan. Apabila yang dipelajarai adalah aspek-aspek yang menyakut gerak, maka media film atau video akan lebih tepat. Wilkinson menyatakan bahwa penggunaan bahan-bahan yang bervariasi menghasilkan dan meningkatkan pencapain akademik. 3. Keadaan siswa Media akan efektif digunakan apabila tidak tergantung dari beda interindividual antara siswa. Msialnya kalau siswa tergolong tipe auditif/visual maka siswa yang tergolong auditif dapat belajar dengan media visual dari siswa yang tergolong visual dan juga sebaliknya. Dalam hal ini media haruslah familiar dengan karakteristik siswa/guru. Yaitu mengkaji sifat-sifat dan cirri media yang akan digunakan. Hal lainnya karakteristik siswa, baik secara kuantitatif (jumlah) ataupun kualitatif (kualitas, ciri, dan kebiasaan lain) dari siswa terhadap media yang akan digunakan. Terdapat media yang cocok untuk sekelompok siswa, namun tidak cocok untuk siswa yang lain. 3. Kesesuaian dengan Karakteristik Pebelajar atau siswa. Dalam hal ini media haruslah familiar dengan karakteristik siswa/guru. Yaitu mengkaji sifat-sifat dan ciri media yang akan digunakan. Hal lainnya karakteristik siswa, baik secara kuantitatif (jumlah) ataupun kualitatif (kualitas, ciri, dan kebiasaan lain) dari siswa terhadap media yang akan digunakan. Terdapat media yang cocok untuk sekelompok siswa, namun tidak cocok untuk siswa yang lain. 4. Ketersediaan Walaupun suatu media dinilai sangat tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran, media tersebut tidak dapat digunakan jika tidak tersedia. Menurut wilkinson, media merupakan alat mengajar dan belajar, peralatan tersebut harus tersedia ketika dibutuhkan untuk memenuhi keperluan siswa dan guru. Bagaimana bagusnya sebuah media, apabila tidak didukung oleh fasilitas dan waktu yang tersedia, maka kurang efektif. 5. Biaya Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan menggunakan media, hendaknya benar-benar seimbang dengan hasil-hasil yang akan dicapai. Dalam kaitannya dengan pemilihan media pembelajaran yang sesuai dan tepat guna, kriteria yang paling utama adalah media harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai. Sebagai contoh, bila tujuan atau kompetensi peserta didik bersifat menghafalkan kata-kata tentunya media audio yang tepat untuk digunakan. Jika tujuan atau kompetensi yang dicapai bersifat memahami isi bacaan maka media cetak yang lebih tepat digunakan. Bila tujuan pembelajaran bersifat motorik (gerak dan ativitas), maka media film dan video bisa digunakan. Di samping itu, terdapat kriteria lainnya yang bersifat melengkapi (komplementer). 6. Alokasi waktu, waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran akan berpengaruh terhadap penggunaan media pembelajaran. Untuk itu ketika memilih media pembelajaran kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan seperti; apakah dengan waktu yang tersedia cukup untuk pengadaan media, apakah waktu yang tersedia juga cukup untuk penggunaannya. Alokasi Waktu Isu ketersediaan waktu dalam pembelajaran memang sangat krusial. Guru selalu dikejar waktu untuk menyelesaikan tuntutan kurikulum. Oleh karena itu, penggunaan media pembelajaran yang notabene efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran, mempunyai relevansi yang baik dengan materi pelajaran, dan berbagai kelebihan lainpun kadang-kadang terpaksa harus dikesampingkan bilamana alokasi waktu menjadi pertimbangan yang penting. Akan tetapi ketersediaan waktu seringkali bisa disiasati dengan berbagai cara berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki oleh guru. 7. Fleksibelitas (kelenturan) Media Pembelajaran Prinsip pemilihan media pembelajaran berikutnya adalah fleksibelitas. Media pembelajaran yang dipilih oleh guru untuk kegiatan belajar mengajar di kelasnya seharusnya memiliki fleksibelitas yang baik. Media pembelajaran itu dikatakan mempunyai fleksibelitas yang baik apabila dapat digunakan dalam berbagai situasi. Kadangkala, saat proses pembelajaran berlangsung terjadi perubahan situasi yang berakibat tidak dapat digunakannya suatu media pembelajaran. Contoh media pembelajaran yang menggunakan sumber energi untuk pengoperasiannya kadangkala justru dapat menghambat kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung bila aliran listrik mati. PEMILIHAN MEDIA MENURUT SIFAT TUGAS PEMBELAJARAN Media Tujuan/tugas isi Guru instruktur cetak Transparansi slide Gambar ilustrasi Audio tape Video kaset radio film komputer simulasi videodisc permainan televisi Sifat tugas -menghafal v v v v v v v Memerlukan prosedur fisik v v v v v v v v v v V v v Memerlukan penerapan prinsip-prinsip v v v v v v v v v V v Pemahaman konsep-konsep & hubungan-hubungan v v v v v v v v v V v Memerlukan pemikiran tingkat lebih tinggi v v v v v v v v V Media Tujuan/tugas isi Guru instruktur cetak transparansi slide Gambar ilustrasi Audio tape Video kaset radio film komputer simulasi Videodisc permainan televisi Sifat respons -memerlukan respon lisan v v v v v v v Memerlukan peralatan teknis v v v v v v v v v v V v V Suara penting untuk mempelajari/ menguasai tugas v v v v v v v V v Konteks pembelajaran -memerlukan revisi & update v v v v v v v Kelompok besar (? 50) v v v v v v v v v Kelompok sedang (10-50) v v v v v v v v v v Kelompok kecil (2-10) v v v v v v v v v v v V v Latihan/tutor perorangan v v v v v v v v v v V DAFTAR PUSTAKA Arsyad, Azhar. 2013. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Neylie, 2011. Kriteria pemilihan media dalam proses pembelajaran. 25 september 2013. http://nellywedya.wordpress.com/bahan-ajar/praktek-media-pembelajaran/kriteria-pemilihan-media-dalam-proses-pembelajaran/.

Keterampilan Dasar Mengajar

A. PENGERTIAN TUGAS GURU Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahakn, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU No. 14 tahun 2005 : 2) Guru menurut paradigma baru ini bukan hanya bertindak sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator dan fasilitator proses belajar mengajar yaitu realisasi atau aktualisasi potensi-potensi manusia agar dapat mengimbangi kelemahan pokok yang dimilikinya. Sehingga hal ini berarti bahwa pekerjaan guru tidak dapat dikatakan sebagai suatu pekerjaan yang mudah dilakukan oleh sembarang orang, melainkan orang yang benar-benar memiliki wewenang secara akademisi, kompeten secara operasional dan profesional. Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat. Untuk menyandang predikat sebagai seorang guru tidaklah mudah, sebab predikat seorang guru hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar memiliki wewenang secara mutlak. B.TUGAS GURU Guru memiliki tugas yang beragam dalam bentuk pengabdian. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan. 1.Tugas Guru di Bidang Profesi Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. a. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Maka, guru tidak hanya menyampaikan materi yang harus diterima siswa, akan tetapi juga memberikan arahan kepada siswa tersebut. b.Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu guru memiliki kewajiban untuk berperan sesuai dengan perannya yang berkaitan dengan manajemen sekolah. Peran tersebut meliputi peran guru dalam proses belajar mengajar dalam kelas yang sering disebut dengan manajemen kelas. c.Melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. Sebagai seorang pelatih, guru melatih siswa dalam belajar cara berpikir dan bekerja, juga berdialog dengan siswa untuk memperbaiki pemahaman siswa yang keliru dan cara-cara berpikir yang kurang masuk akal dan sistematis. Berkaitan dengan tugasnya di bidang profesi, guru mempunyai beberapa peran, yaitu: a)Peran guru dalam proses belajar mengajar/ manajemen kelas : Peran seorang guru sangat signifikan dalam proses belajar mengajar. Menurut Adam & Decey dalam Basic Principles of student Teaching, peranan dan kompetensi guru dalam proses pembelajaran meliputi banyak hal, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing siswa, pengatur lingkungan, partisipan kegiatan belajar mengajar, perencana bahan ajar, motivator, dan konselor bagi siswa. b)Peran Guru sebagai Manajer Kelas Dari hasil survey mengenai keefektifan guru melaporkan bahwa keterampilan manajemen kelas menduduki posisi primer dan menentukan keberhasilan proses pembelajaran yang diukur dari efektifitas proses belajar siswa atau peringkat yang dicapainya. Dengan demikian, keterampilan manajemen kelas sangat krusial dan fundamental dalam mendukung proses pembelajaran. Guru-guru yang rendah keterampilannya dalam bidang manajemen kelas, tidak dapat menyelesaikan banyak hal yang menjadi tugas pokoknya. c)Peran Guru Dalam manajemen perilaku Siswa Dalam tugas kesehariannya, guru berhadapan dengan siswa yang tinggi, sedang, atau rendah prestai akademiknya. Guru juga berhadapan dengan siswa yang baik-baik dan santun, arogan, cuek, pengganggu, bahkan siswa yang pernah melakukan tindakan kriminal. Juga siswa yang kuat, sedang, lemah fisiknya. Dan juga keragaman itu dilihat dari perspektif sosial, ekonomi, agama, dan sebagainya. Siswa yang cenderung bermasalah biasanya menjadi beban tambahan sekaligus sumber kepedulian utama bagi guru. Bahkan siswa yang bermasalah ini makin menjadi pusat kepedulian utama para guru, administrator, orangtua, bahkan publik. Tetapi kondisi yang anak yang seperti itu akan menjadi peluang bagi guru untuk mengelola kelasnya secara efektif bagi penciptaan faktor yang mempengaruhi motivasi, prestasi, dan perilaku siswa. Keadaan negatif yang dirasakan guru ini benar-benar terasa mengganggu mereka. Faktor yang menyebabkan siswa cenderung berperilaku buruk, antara lain : faktor sosial, ekonomi, kurtural, agama, jenis kelamin, ras, tempat tinggal, pebedaan potensi kognitif, kesehatan, dan lain-lain. Ada tantangan serius bagi sekolah untuk menciptakan iklim yang kondusif. Pertama, memperkuat kinerja dan misi akademik sekolah, kedua, menetapakan tata aturan dan prosedur disiplin yang jelas dan standar, serta mengikat semua anak didik. Ketiga, melembagakan dan member keteladanan mengenai norma-norma etik yang menjadi pemandu hubungan antar subyek di lingkungan sekolah. d)Peran guru dalam pengadministrasian Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian, seorang guru dapat berperan sebagai berikut : a.Pengambil insiatif, pengarah dan penilai kegiatan pendidikan. b.Wakil masyarakat, yang berarti menjadi anggotaa maasyarakat dalam lingkungaan sekolah, seorang guru harus bersikap baik. c.Ahli dalam bidang mata pelajaran. Guru memiliki tanggung jawab untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan. d.Penegak disiplin, guru haarus selalu menjaga agar tercapai suatu suasana yang disiplin. e.Pelaksana administrasi pendidikan, disamping menjadi pengajar, guru juga bertanggung jawab akan kelancaran pendidikan dan kegiatan administrasi. f.Pemimpin generaasi muda untuk menjadi anggota masyarakat yang dewasa. g.Penerjemah segala perkembangan dunia pada masyarakat, khususnya tentang masalah pendidikan. e)Peran Guru Sebagai Pribadi Sebagai dirinya sendiri guru harus berperan sebagai: a. Petugas sosial, yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat guru senantiasa merupakan petugas-petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi didalamnya. b. Pelajar dan ilmuwan, yaitu senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan. Dengan berbagai cara setiap saat guru senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. c. Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan setelah keluarga, sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga, guru berperan sebagai orang tua bagi siswanya. d. Teladan, yaitu yang senantiasa mencarikan teladan yang baik untuk siswa. Guru menjadi ukuran bagi norma-norma tingkah laku. e. Pengaman, yaitu yang senantiasa mencarikan rasa aman bagi siswa. Guru menjadi tempat berlindung bagi siswa untuk memperoleh rasa aman dan puas di dalamnya. f) Peran Guru Secara Psikologis Guru juga mempunyai peran secara psikologis, khususnya psikologis pendidikan dan perkembangan siswa. Peran – peran tersebut antara lain : a. Ahli psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. b. Relationship, artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. c. Catalytic/pembaharu, yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik. d. Ahli psikologi perkembangan, yaitu guru adalah seorang yang memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya. 2. Tugas Guru dalam Bidang Kemanusiaan Tugas guru bidang kemanusian adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana guru harus menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Adapun yang diberikan atau disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa. Oleh karena itu harus mampu memahami jiwa dan watak anak didik. Maka pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar. Jika seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik , maka kegagalan pertama adalah tidak dapat menanamkan benih pengajarannya kepada para siswanya. Guru harus menanamkan nilai kemanusiaan kepada anak didik. Dengan begitu anak didik mendidik agar mempunyai sifat kesetiakawanan sosial. 3.Tugas Guru di Bidang Kemasyarakatan Di bidang masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent). Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari "citra" guru di tengah-tengah masyarakat. DAFTAR PUSTAKA http://www.referensimakalah.com/2012/11/pengertian guru menurut bahasa dan istilah. Syukir, Asmuni. Tugas dan Peran Guru Profesional. [Online]. Tersedia: www. astikip.wordpress.com. Rudianto, Onny. (2010). Tugas dan Peran Guru . [Online]. Tersedia: www. onnyrudianto.wordpress.com A. Arti Penting Mengajar Banyak sekali para ahli menyebutkan pengertian tentang mengajar. Tidak dapat dipungkiri bahwa mengajar mempunyai posisi yang sangat penting. Bisa dikatakan bahwa mengajar sebuah penentuan dalam keberhasilan memenuhi kebutuhan anak didik. Cara mengajar yang salah juga akan membuat kegagalan pendidik dalam menyampaikan sebuah materi atau ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Contoh kasus yang dapat diambil akhir-akhir ini adalah ramainya pemberitaan tentang tawuran antar pelajar. Kenapa hal tersebut bisa terjadi, ini pasti ada yang tidak benar dalam cara mengajar yang diterapkan kepada peserta didik tersebut. Melihat dari hal itu, pendidik juga perlu meningkatkan dalam memahami setiap kemauan dan kemampuan peserta didik agar bisa menyesuaikan cara mengajar yang dianggap tepat dan baik. Dalam menjalankan tugasnya sebagai penyaji pelajaran khususnya di kelas, guru tidak hanya dituntut mentransfer pengetahuan atau isi pelajaran yang disajikan kepada para peserta didiknya melainkan lebih dari itu. Tapi guru juga harus membimbing dan membantu untuk memudahkan siswa dalam menjalani proses perubahannya sendiri, yaitu proses belajar untuk meraih kecakapan cipta, rasa, dan karsa yang menyeluruh dan utuh. Seluruh ranah psikologis itu tidak dapat dicapai secara langsung tetapi tetap ada prosesnya. B. Definisi dan Contoh Mengajar 1. Definisi Mengajar Definisi menurut beberapa ahli Pengertian umum dipahami orang terutama mereka yang awam dalam bidang studi kependidikan, ialah bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa. Dengan demikian tujuan hanya berada sekitar pencapaian penguasaan siswa atas sejumlah pengetahuan dan kebudayaan. Dari pengertian semacam ini timbul gambaran bahwa peranan dalam proses pengajaran hanya dipegang guru, sedangkan peserta didik dibiarkan pasif. Menurut Tardif (1989) mendefinisikan mengajar adalah any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the learner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini peserta didik) melakukan kegiatan belajar. Kata the teacher (guru) dan the learner (orang yang belajar) dalam definisi Tardif itu semata-mata hanya sebagai contoh yang mewakili dua individu yang sedang berinteraksi dalam proses pengajaran. Dari definisi tadi juga ada interaksi antar individu seperti antara orangtua dengan anak atau antara kiai dengan santri. Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar. Lingkungan dalam pengertian ini tidak hanya ruang kelas, tetapi juga meliputi guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium, dan sebagainya yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik. Biggs (1991) seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian, yaitu sebagai berikut: a. Pengertian kuantitatif Dimana mengajar diartikan sebagai the transmission of knowledge, yaitu penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa, bukan tanggung jawab pengajar. b. Pengertian institusional Yaitu mengajar berarti the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat, kemampuan, dan kebutuhannya. c. Pengertian kualitatif Dimana mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri. Dari definisi mengajar oleh para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidikan dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga terjadi proses belajar dan tujuan pengajaran tercapai. Mengingat tuntutan psikologis dan sosiologis yang tercermin dalam undang-undang negara kita. Sudah selayaknya mengajar itu diartikan secara representatif dan komprehensif dalam arti menyentuh segenap aspek psikologis peserta didik. Kedudukan guru sudah tidak dapat dipandang sebagai penguasa tunggal dalam kelas atau sekolah, tetapi dianggap sebagai manager of learning(pengelola belajar) yang harus siap membimbing dan membantu para peserta didik dalam menempuh perjalanan menuju kedewasaan mereka sendiri yang utuh dan menyeluruh. 2. Contoh Mengajar Sebagai pengelola kegiatan siswa, guru sangat diharapkan menjadi pembimbing dan pembantu para siswa, bukan hanya ketika mereka berada dalam kelas saja melainkan ketika mereka berada di luar kelas, di perpustakaan, di laboratorium, dan sebagainya. Dalam hal menjadi guru perlu mengualitaskan (mewujudkan) kemampuannya dalam kegiatan sebagai berikut: 1) membimbing kegiatan belajar siswa, 2) membimbing pengalaman belajar para siswa. Membimbing kegiatan belajar siswa, khususnya ketika mengajar tidak hanya berarti ceramah do muka kelas saja, melainkan juga memberikan peluang seluaas-luasnya kepada siswa tersebut untuk melakukan aktifitas belajarnya. Contoh; jika para siswa sedang diajari menulis, maka para siswa itulah yang paling banyak mendapatkan peluang menulis, bukan guru. Tugas guru yang penting dalam hal ini adalah memberikan contoh dan dorongan parsuasif kepada siswa beserta menata lingkungan belajarnya, sehingga memungkinkan mereka belajar dengan mudah. Dalam membimbing pengalaman para siswa, guru dituntut untuk menghubungkan mereka dengan lingkungannya. Hal ini penting karena dalam pengalaman berinteraksi dengan lingkungannya itulah sesungguhnya siswa mengalami proses belajar. Dengan demikian, maka guru sepatutnya menjaga ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan komponen lingkungan pendidikan yang lain agar tetap dalam kondisi yang baik dana siap pakai. Selanjutnya selain membimbing dan mengajar, juga harus berarti membantu siswa agar berkembang dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan belajarnya. Alhasil, kegiatan mengajarkan sebuah materi pelajaran bukan semata-mata agar siswa menguasai pengetahuan/materi pelajaran tersebut lalu bisa naik kelas, melainkan agar ia memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya dala kehidupan sehari-hari. (Syah, 2010: 181-182) C. Pandangan-pandangan Pokok Mengenai Mengajar Pandangan pokok mengenai mengajar Ada dau pandangan yang berbeda dalam melihat profesi mengajar. Aliran pertama menganggap mengajar sebagai “ilmu”, sedangkan aliran kedua menganggap mengajar sebagai “seni”. a. Mengajar sebagai ilmu. Sebagian ahli memandang mengajar sebagai Ilmu. Oleh kerenanya, guru merupakan sosok pribadi manusia yang memang sengaja dibangun untuk menjadi tenaga profesional yang memiliki pengetahuan dan kemampuan yang tinggi dalam dunia pendidikan yang berkompeten untuk melakukan tugas belajar. Siapa pun, asal memiliki profesiensi dalam bidang I,mu pendidikan akan mampu melakukan perbuatan mengajar dengan baik. Penguasaan seorang guru atas materi pelajaran bidang tugasnya adalah penting, tetapi yang lebih penting ialah penguasaan atas ilmu-ilmu yang berhubungan dengan tugas mengajarnya. Aliran pandangan yang menganggap mengajar sebagai ilmu dapat menimbulkan konotasi bahwa seseoranag yang dikehendaki menjadi guru, misalnya oleh orang tuanya sendiri, akan dapat menjadi guru yang baik asal ia dididik di sekolah atau fakultas keguruan. Dari uraian di atas jelas bahwa aliran yang memandang mengajar sebagai ilmu itu diilhami oleh teori perkembangan klasik yang disebut empirisme yang dipelopori oleh Jhon Locke. Menurut teori ini pembawaan dan bakat yang diturunkan oleh ornag tua tidak berpengaruh terhadap perkembangan kehidupan sesorang, sebab pada dasarnyaa manusia lahir dalam keadaan kosong (Syah, 2010: 183). b. Mengajar sebagai seni. Sebagian ahli lainnya memandang bahwa mengajar adalah seni, bukan ilmu. Oleh karenanya tidak semua orang berilmu bisa menjadi guru yang piawai dalam hal mengajar. Sebagai contoh, seorang pakar yang “mumpuni” dalam sebuah bidang studi umpamanya bidang agama dan bahkan telah memiliki pengetahuan keguruan yan cukup, belum tentu mahir mengajar agama kepada orang lain. Dalam kenyataan sehari-hari terkadang kita saksikan seorang guru agama atau bahkan seorang yang berpredikat ulama sama sekali tidak menarik dan cenderung membosankan ketika ia berceramah atau berdiskusi mengenai masalah keagamaan. Berdasarkan kenyataan yang ada, seperti contoh yang ada, maka cukup kuatlah eksistensi aliran yang memandang bahwa mengajar adalah seni, dan kecakapan mengajar yang notabene artistik itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang memang berbakat, sedangkan bakat itu merupakan suatu pembawaan yang tidak bisa dipelajari (Syah, 2010: 184). Aliran pandangan ini sama dengan aliran nativisme yang dipelopori oleh Arthur Schopenhauer, yang berpendapat bahwa manusia sudah mempunyai bawaan sejak lahir. Daftar Pustaka Syah Muhibbi, 2010, Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru, PT Remaja Rosdaka: Bandung. Departemen Pendidikan Nasional Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:(Mursell, Nasution, 2006: 8 )(Hamalik, 2004: 44) (www.http/psikologi/MENGJAR/Model dan Metode pokok Mengajar.htm). http://fkmmu.blogspot.com/2011/12/metode-dan-strategi-mengajar.html http://fandanaksaleh18.blogspot.com/2013/06/arti-penting-metode-dan-contoh-mengajar.html