Minggu, 13 November 2016
Pengabdian Kepada Masyarakat
USULAN PROGRAM
IPTEK BAGI MASYARAKAT (IbM)
PEMANFAATAN POMPA AIR BEKAS BERTENAGA SEPEDA MOTOR SEBAGAI UPAYA MENEKAN BIAYA TENAGA KERJA DAN EFESIENSI WAKTU PADA MASYARAKAT DESA EMPONYANG KECAMATAN KAYAN HULU
KABUPATEN SINTANG
Oleh:
Warkintin 1127118401
Sapto Purnomo 1113077801
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSADA KHATULISTIWA SINTANG 2016
HALAM PENGESAHAN PROGRAM IPTEK BAGI MASYARAKAT
1. Judul IbM : Pemanfaatan Pompa Air Bekas Bertenaga
Sepeda Motor Sebagai Upaya Menekan Biaya
Tenaga Kerja dan Efesiensi Waktu
2. Nama Mitra Progran IbM : Desa Emponyang Kecamatan
Kayan Hulu Kabupaten Sintang
3. Ketua Tim Pengusul
a. Nama : Warkintin
b. NIDN : 1127118401
c. Jabatan/Golongan : Asisten Ahli/ III B
d. Program Studi : PGSD
e. Perguruan Tinggi : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang
f. Bidang Keahlian : Teknologi Pendidikan
g. Alamat Kantor/ Telp/Faks/surel : JL. Pertamina/085245787784/
warkintin_1984@yahoo.co.id
4. Anggota Tim Pengusul
a. Jumlah Anggota : Dosen 1 Orang
b. Nama Anggota I/bidang Keahlian : Sapto Purnomo/ Pendidikan Kewarganegaraan
c. Mahasiswa yang terlibat : 2 Orang
5. Lokasi Kegiatan/ Mitra (1)
Wilayah Mitra (Desa/Kecamatan) : Emponyang Kecamatan Kayan Hulu
Kabupaten/Kota : Sintang
Propinsi : Kalimantan Barat
Jarak PT ke Lokasi mitra (Km) : 107
6. Jangka waktu Pelaksanaan : 1 Tahun
7. Biaya Total Pelaksanaan : Rp 40.000.000
-DRPM : Rp 40.000.000
Mengetahui, Sintang, 23 Mei 2016
Ketua STKIP Persada Khatulistiwa Sintang Ketua Tim Pengusul
Drs. Rafael Suban Beding, M.Si Warkintin, M.Pd
NIP/NIK. 05250333009 NIDN. 1127118401
Mengetahui,
Ketua LPPM STKIP Persada Khatulistiwa Sintang
Dr. Yusuf Olang, M.Pd
NIP/NIK. 0820087902022
IDENTITAS DAN URAIAN UMUM
1. Judul Pengabdian kepada Masyarakat: Pemanfaatan Pompa Air Bekas Bertenaga Sepeda
Motor Sebagai Upaya Menekan Biaya Tenaga
Kerja dan Efesiensi Waktu
2. Tim Pelaksana
No Nama Jabatan Bidang
Keahlian Instansi Asal Alokasi waktu
(jam/minggu)
1. Warkintin Ketua Tim Pendidikan STKIP Persada Khatulistiwa Sintang
6 Jam
2. Sapto Purnomo Anggota Tim Pendidikan STKIP Persada Khatulistiwa Sintang
6 Jam
3. Objek (Khalayal sasaran) Pengabdian kepada Masyarakat: Masyarakat Desa Emponyang
4. Masa Pelaksanaan:
Mulai : bulan: Agustus tahun 2016
Berakhir : bulan : Juli tahun 2017
5. Lokasi Pengabdian kepada Masyarakat: Desa Emponyang Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang
6. Mitra yang terlibat Desa Emponyang Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang
Kontribusi mereka adalah sebagai pembantu pelaksanaan kegiatan dan tempat praktek iptek bagi masyarakat.Permasalah yang ditemukan dan solusi yang ditawarkan: permasalahannya adalah susah mendapatkan air karena berada pada ketinggian 18-200 meter dari permukaan laut, dengan Topografi lahan 62,74 persen merupakan wilayah perbukitan. Solusi yang ditawarkan memanfaatkan pompa air bekas bertenaga sepeda motor sebagai upaya menekan biaya tenaga kerja dan efesiensi waktu.
7. Rencana luaran berupa jasa, sistem, produk/barang, paten atau luaran lain yang ditargetkan adalah masyarakat mitra mampu memanfaatkan pompa air bekas bertenaga sepeda motor sehingga mampu menekan biaya tenaga kerja dan efesiensi waktu.
DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan i
Identitas dan Uraian Umum ii
Daftar Isi iii
Ringkasan Proposal iv
Bab 1 Pendahuluan 1
1.1 Analisis Situasi 1
1.2 Permasalahan Mitra 1
Bab 2. Solusi Dan Target Luaran 3
Bab 3. Metode Pelaksanaan 7
Bab 4. Kelayakan Perguruan Tinggi 8
Bab 5. Biaya Dan Jadwal Kegiatan 9
5.1 Anggaran Biaya 9
5.2 Jadwal Kegiatan 9
Referensi 10
Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota Tim Pengusul.............................................11
Lampiran 2. Gambaran Iptek yang akan ditransfer kepada mitra...............................20
Lampiran 3. Peta lokasi wilayah Desa Mitra..............................................................22
Lampiran 4. Surat Pernyataan Kesedian Bekerja sama dari Desa Mitra...................23
RINGKASAN PROPOSAL
Tujuan dari Iptek Bagi Masyarakat (IbM) adalah untuk mempermudah masyarakat mendapatkan sumber mata air yang sulit dan jauh serta lebih mudah untuk didapat, tingkat kelelahan tenaga pekerja bisa diminimalisir, biaya untuk tenaga kerja bisa ditekan menjadi lebih murah dan dari segi waktu lebih efisien, untuk irigasi di sawah dan penyiraman menjadi lebih mudah, serta untuk pemenuhan keperluan air didalam rumah tangga menjadi lebih mudah.
Target khusus yang ingin dicapai adalah Kabupaten Sintang Desa Emponyang Kecamatan Kayan Hulu berada pada ketinggian 18-200 meter dari permukaan laut, dengan Topografi lahan 62,74 persen merupakan wilayah perbukitan (BPS Sintang tahun 2014). Kondisi areal berbukit tanpa teras kontur sangat berpengaruh terhadap berbagai macam aktivitas di pertanian, diantaranya adalah aktivitas perawatan tanaman.
Metode dalam pencapaian tujuan ini adalah pendampingan secara lebih intensif kepada masyarakat Desa Emponyang Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang sehingga mereka menjadi mengerti didalam memanfaatkan pompa air bertenaga sepeda motor.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.2. Analisis Situasi
Kabupaten Sintang berada pada ketinggian 18-200 meter dari permukaan laut, dengan Topografi lahan 62,74 persen merupakan wilayah perbukitan (BPS Sintang tahun 2014). Kondisi areal berbukit tanpa teras kontur sangat berpengaruh terhadap berbagai macam aktivitas di pertanian, diantaranya adalah aktivitas perawatan tanaman.
Sirkulasi air sangat dipengaruhi oleh topografi (Jumin, 2005). Selain itu, sifat air yang selalu mengalir ke daerah yang lebih rendah menjadikan areal berbukit sangat sulit dalam hal ketersediaan air.
Menurut Penelitian Namsir 2012, produktifitas penyemprotan di areal berbukit hanya 60%-80% jika dibandingkan dengan prestasi pekerja semprot di areal datar. Hal ini terjadi karena sumber air yang jauh dan sulit dijangkau dan tingkat kelelahan tenaga kerja lebih cepat letih. Hal ini berakibat meningkatnya biaya tenaga kerja. Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dalam rangka pemeliharaan tanaman khususnya penyemprotan areal berbukit tanpa teras kontur sehingga dapat menekan biaya tenaga kerja dan efesiensi waktu. Pompa tenaga sepeda motor adalah pemamfaatan tenaga sepeda motor untuk memutar impeler pompa.
Menurut beberapa sumber pompa sepeda air sepeda motor ini dapat menyedot kedalaman 10 M dan mampu menyupai air 5 ltr/menit sehingga dapat dimanfaatkan untuk irigasi, penyiraman.
1.3. Permasalahan Mitra
Permasalahan yang terjadi di desa mitra yaitu Desa Emponyang Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang adalah berada pada ketinggian 18-200 meter dari permukaan laut, dengan Topografi lahan 62,74 persen merupakan wilayah perbukitan, menyebabkan kondisi areal berbukit tanpa teras kontur sangat berpengaruh terhadap berbagai macam aktivitas di pertanian, diantaranya adalah aktivitas perawatan tanaman, pengairan sawah dan kebutuhan air di rumah tangga juga susah, penerangan dari Pemerintah Kabupaten Sintang tidak sampai ke Desa Emponyang sehingga masyarakat kalau malam masih menggunakan pelita sebagai alat penerangan.
BAB 2 SOLUSI DAN TARGET LUARAN
Solusi yang kami tawarkan disini bagi desa mitra yaitu desa Emponyang Kecamatan kayan Hilir Kabupaten Sintang adalah dengan membuat Pompa tenaga sepeda motor adalah pemanfaatan tenaga sepeda motor untuk memutar impeler pompa. Menurut beberapa sumber pompa sepeda air sepeda motor ini dapat menyedot kedalaman 10 M dan mampu menyupai air 5 ltr/menit sehingga dapat dimanfaatkan untuk irigasi, penyiraman serta air untuk kebutuhan rumah tangga.
Luaran yang akan dihasilkan dari pemanfaatan tenaga sepeda motor tenaga lebih ringan untuk dikuras dan dari segi waktu sangat efesien, serta produk ini bisa diperkenalkan kepada desa-desa sekitar yang belum menjadi desa desa mitra
Dari segi biaya masih terjangkau karena hanya menggunakan pompa yang sudah rusak dan untuk desa mitra pasti sudah ada kendaraan berupa sepeda motor untuk mengoperasikan pompa air ini.
Berikut ini kami paparkan bahan-bahan yang diperlukan dan cara membuat pompa air bertenaga sepeda motor.
a. Cara membuat pompa:
1. Alat dan Bahan
a) Pompa Beka
b) Kunci sok 14 inc (sesuaikan dengan magnet motor)
c) Ulir ¾ inci (susiakan dengan ulir tutup magnet)
d) Perlengkapan Pemipaan.
2. Cara Membuat
a) Ambil bagian impeler pompa bekas
b) Buang bagian motor
c) Potong besi pemutar motor sesuai dengan panjang yang diperlukan
d) Las anak kunci sok 14 inc diujung besi pemutar yang telah kita potong.
(1) (2)
(3) (4)
b. Intalasi Pemipaan/Selang
Agar tekanan air untuk penyemprotan dapat bertekanan tinggi, maka intalasi selang mengikuti hasil rakitan.
Bahan :
1. Verloop sock ukuran 1/4"x1/2" atau 1/4"x3/4" (menyesuaikan instalasi pemipaan pompa.)
2. Ball valve / keran ukuran 1/4"
3. Female coupler (nepel selang) 1/4"
4. Male coupler (nepel selang) 1/4"
5. Selang tekanan tinggi / selang kompresor (panjang menyesuaikan kebutuhan)
6. Klem selan
7. Seal tip (bentuknya kaya pita gulungan warna putih)
(1) (2)
c. Cara Penggunaan.
1. Lepaskan tutup bag magnet sepeda motor
2. Pasang konector pompa pada bag magnet
3. Pasang pompa air ke sepeda motor
4. Sambungkan selang
5. Hidupkan sepeda motor
6. Lakukan Kalibrasi
(1) (2)
(3) (4)
RENCANA TARGET CAPAIAN LUARAN
No Jenis Luaran Indikator Capaian
1 Publikasi ilmiah di Jurnal/Prosiding Draf
2 Publikasi pada media masa (cetak/elektronik) Draf
3 Peningkatan omzet pada mitra yang bergerak dalam bidang ekonomi Ada
4 Peningkatan kuantitas dan kualitas produk Ada
5 Peningkatan pemahaman dan keterampilan masyarakat Ada
6 Peningkatan ketentraman/kesehatan masyarakat (mitra masyarakat umum) Ada
7 Jasa, model, rekayasa sosial, sistem produksi barang Penerapan
8 Hak kekayaan intelektual (paten, paten sederhana, hak cipta, merek dagang, rahasia dagang, desain produk industri, perlindungan varietas tanaman, perlindungan topograpi Draf
9 Buku ajar Tidak ada
BAB 3 METODE PELAKSANAAN
Metode yang ditempuh yaitu pedampingan dengan masyarakat mitra supaya masyarakat menjadi lebih mengerti dari apa yang disampaikan sehingga masyarakat mitra menjadi lebih paham bagaimana cara menggunakan pompa air bertenaga sepada motor.
Partisipasi masyarakat mitra terhadap program pengabdian pada masyarakat ini harapan kami masyarakat sangat senang dengan adanya iptek bagi masyarakat yang bisa meringankan tenaga didalam bekerja dan dari segi waktu lebih efesien serta sawah dan kebutuhan air dalam rumah tangga dapat terpenuhi.
BAB 4 KELAYAKAN PERGURUAN TINGGI
Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persada Khatulistiwa Sintang satu tahun terakhir ini aktif dilaksanakan yaitu satu semester 1 kali sehingga setiap dosen aktif melaksanakan pengabdian kepada Masyarakat.
Kepakaran yang dimiliki oleh ketua tim dan anggota tim pengusul sudah cukup ahli karena bahan yang akan digunakan hanya pompa bekas dan satu buah kendaraan sepeda motor dan hanya bekerjasama dengan bengkel las untuk memodifikasi pompa bekas yang tidak digunakan lagi.
No Nama Pengusul Jabatan Kepakaran dan tugas
1. Warkintin Ketua Perancang Pompa Air Bertenaga Sepeda Motor
2. Sapto Purnomo Anggota Mekanik yang memasang Pompa Air Bertenaga Sepeda Motor
BAB 5 BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN
5.1 Anggaran Biaya
No Komponen Biaya yang Diusulkan
(RP)
1. Honorarium untuk pelaksana, Pengumpul data, pengolah data, penganalisis data, dan honor pembuat sistem (maksimum 30% dan dibayarkan sesuai ketentuan) Rp. 13.500.000
2. Pembelian bahan habis pakai untuk pembelian ATK, fotokopy, surat menyurat, penyusunan laporan, cetak, penjilidan, publikasi, pulsa, internet, bahan pembuat alat/ mesin bagi mitra Rp. 20.000.000
3. Perjalanan untuk survei/sampling data, sosialisasi/pelatihan/pendamping/evaluasi, seminar/Workshop, Akomodasi-konsumsi, transport Rp. 6.500.000
Jumlah Rp. 40.000.0000
5.2 Jadwal Kegiatan
No Jenis Kegiatan Tahun ke-1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Survei ke Desa Mitra
2. Memperkenalkan program kepada desa mitra
3. Merancang pompa bertenaga sepeda motor
4. Membimbing masyarakat mitra untuk uji coba pompa air bertenaga sepeda motor
5. Evaluasi pelaksanaan kegiatan
6. Membuat laporan hasil pelaksanaan kegiatan
REFERENSI
BPS Sintang, Sintang dalam angka tahun 2014
Nasamsir , 2012 Karya ilmiah :Strategi Peningkatan Produktivitas Tenaga Kerja Pengendalian Gulma Secara Kimia Pada Areal Berbukit Tanpa Teras Kontur
Membuat Pompa sepeda motor https://www.youtube.com
Cara Pemasangan Pompa Air Penggerak Pakai Sepeda Motor-Cocok Untuk Irigasi,Banjir,Kolam https://www.youtube.com
Alkon Mini https://www.youtube.com
Cara mudah membuat sendiri mesin cuci mobil dan motor dirumah
https://www.putramelayu.web.id/2015
Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota Tim Pengusul
Biodata Ketua
A. Identitas Diri
1. Nama : Warkintin, M.Pd
2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
4. NIK Kepegawaian : 1227118403803
5. NIK Kependudukan : 6105082711840001
6. NIDN : 1127118401
7. Tempat / Tanggal Lahir : Pelaik, 27 Nopember 1984
8. Email : warkintin_1984@yahoo.co.id
9. No HP : +6285245787784
10. Alamat Kantor : Jl. Pertamina Sengkuang KM. 4 Sintang Kalimantan Barat
11. No. Telp/Faks :
12. Lulusan yang Dihasilkan : S-1 = 15 Orang, S-2 = 0 Orang, S-3 = 0 Orang
13. Mata Kuliah yang Diampu : 1. Media Pembelajaran SD
2. Keterampilan Dasar Mengajar
3. Perkembangan Peserta Didik
4. Pendidikan Pancasila
14. Website :
B. Riwayat Pendidikan
S-1 S-2 S-3
Nama Perguruan Tinggi STKIP PGRI Pontianak Universitas Tanjungpura Pontianak
Bidang Ilmu PPKn Teknologi Pembelajaran
Tahun Masuk-Lulus 2008 2012
Judul Skripsi/Tesis/Disertasi Komparasi Pelaksanaan Strategi pembelajaran antara SMP Gembala Baik Pontianak dan SMPK Immanuel Pontianak Perolehan Kecakapan Pemecahan Masalah Melalui Strategi Inquiri dalam Pembelajaran Matematika
Pada Siswa Kelas VIII SMPK Immanuel
Pontianak
Nama Pembimbing/Promotor Drs. Wanto Rivai’i, M.Si
Drs. Mastar Asran, S.Pd., M.Pd Prof. Dr. H Sutini Ibrahim, M.Pd
Muhammad Ali, M.Pd
C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber Jml (Juta Rp)
1.
D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan
Sumber Jml (Juta Rp)
1. 2013 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Manajemen keuangan didalam Keluarga STKIP Persada Khatulistiwa Sintang RP. 500.000
2. 2014 Pentingnya Pendidikan STKIP Persada Khatulistiwa Sintang RP. 500.000
3 2015 Pentingnya Pendidikan Politik Bagi Kehidupan Keluarga STKIP Persada Khatulistiwa Sintang RP. 500.000
E. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/ Nomor/ Halaman/ Tahun
1. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Webbed Pada Pembelajaran IPS Materi Dokumen Keluarga Kelas II Sekolah Dasar Panca Setya 2 Sintang Tahun Pelajaran 2014/2015 Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa 1/1/53-65/2015
2.
3.
F. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir
No. Nama Temu ilmiah /
Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan
Tempat
1.
2.
3.
G. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Buku Tahun Jumlah
Halaman Penerbit
1.
2.
H. Perolehan HKI dalam 10 Tahun Terakhir
No. Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID
1.
I. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya dalam 10 Tahun Terakhir
No. Judul/Tema/Jenis Rekayasa Sosial Lainnya
yang Telah Diterapkan Tahun Tempat
Penerapan Respon
Masyarakat
1.
J. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau institusi lainnya)
No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi
Penghargaan Tahun
1.
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan pengabdian kepada masyarakat.
Sintang, 23 Mei 2016
Ketua Pengusul,
Warkintin, M. Pd.
NIDN. 1127118401
Biodata Anggota
A. Identitas Diri
1. Nama : Sapto Purnomo, M.Pd
2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
4. NIK Kepegawaian : 111307782702
5. NIK Kependudukan : 3404061307780003
6. NIDN : 1113077801
7. Tempat / Tanggal Lahir : Sleman, 13 Juli 1978
8. Email : saptopurnomo@yahoo.com
9. No HP : +6285654540636
10. Alamat Kantor : Jl. Pertamina Sengkuang KM. 4 Sintang Kalimantan Barat
11. No. Telp/Faks :
12. Lulusan yang Dihasilkan : S-1 = 10 Orang, S-2 = 0 Orang, S-3 = 0 Orang
13. Mata Kuliah yang Diampu : 1. Ilmu Negara
2. Ilmu Kewarganegaraan
3. Pengantar Ilmu Sosial
14. Website :
B. Riwayat Pendidikan
S-1 S-2 S-3
Nama Perguruan Tinggi Universitas PGRI Yogyakarta Universitas Negeri Yogyakarta
Bidang Ilmu Pendidikan Kewarganegaraan Pendidikan Kewarganegaraan
Tahun Masuk-Lulus 1998-2002 2008-2010
Judul Skripsi/Tesis/Disertasi Hubungan Profesionalisme Guru PPKN dengan Prestasi Belajar PPKN Siswa Sekolah Menengah Umum di Kecamatan Seyegen Sleman 2001/2002 Peningkatan Sikap Nasionalisme Melalui MetodeSimulasi Pada Mata Pelajaran PKn di SMANegeri 1 Seyegon Sleman
Nama Pembimbing/Promotor Sri Rejeki, M. Pd 1. Prof. Zamroni, P.hD
2. Dr. Muhsinatunsiasah
C. Pengalaman Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul Penelitian Pendanaan
Sumber Jml (Juta Rp)
1.
D. Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 Tahun Terakhir
No. Tahun Judul Pengabdian Kepada Masyarakat Pendanaan
Sumber Jml (Juta Rp)
1. 2012 Peran Orang Tua dalam Pendidikan anak diera Globalisasi STKIP PK SINTANG Rp. 500.000
2. 2015 Internet Masuk Desa STKIP PK SINTANG Rp. 500.000
E. Publikasi Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Artikel Ilmiah Nama Jurnal Volume/ Nomor/ Halaman/ Tahun
1.
2.
3.
F. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation) dalam 5 Tahun Terakhir
No. Nama Temu ilmiah /
Seminar Judul Artikel Ilmiah Waktu dan
Tempat
1.
2.
3.
G. Karya Buku dalam 5 Tahun Terakhir
No. Judul Buku Tahun Jumlah
Halaman Penerbit
1.
2.
H. Perolehan HKI dalam 10 Tahun Terakhir
No. Judul/Tema HKI Tahun Jenis Nomor P/ID
1.
I. Pengalaman Merumuskan Kebijakan Publik/Rekayasa Sosial Lainnya dalam 10 Tahun Terakhir
No. Judul/Tema/Jenis Rekayasa Sosial Lainnya
yang Telah Diterapkan Tahun Tempat
Penerapan Respon
Masyarakat
1.
J. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau institusi lainnya)
No Jenis Penghargaan Institusi Pemberi
Penghargaan Tahun
1.
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam pengajuan pengabdiak kepada masyarakat.
Sintang, 23 Mei 2016
Ketua Pengusul,
Sapto Purnomo, M. Pd.
NIDN. 1113077801
Lampiran 2. Gambaran Iptek yang akan ditransfer kepada mitra
(1) (2)
(3) (4)
(5) (6)
(7) (8)
(9) (10)
Lampiran 3. Peta lokasi wilayah Desa Mitra
Lampiran 4. Surat Pernyataan Kesedian Bekerja sama dari Desa Mitra
PERNYATAAN BEKERJASA MITRA KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DI DESA EMPONYANG KECAMATAN KAYAN HULU KABUPATEN SINTANG
Yang bertandatangan di bawah ini:
Nama Desa : Emponyang
Nama Kepala Desa : Dimus
Alamat Kantor : Desa Emponyang Kecamatan Kayan Hulu Kabupaten Sintang
Propinsi Kalimantan Barat
Dengan ini menyatakan bersedia untuk bekerjasama dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat Tahun 2016 di Desa Emponyang Kecamatan Kayan Hilir Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat guna melaksanakan program kegiatan yang telah direncanakan.
Dengan ini menyatakan bersedia untuk turut membantu melaksanakan kegiatan program pengabdian pada masyarakat Tahun 2016 di Desa Emponyang Kacamatana Kayan Hulu Kabupaten Sintang Provinsi Kalimantan Barat selama program berjalan, dengan cara membantu dalam hal adminstarsi lainnya yang dianggap dapat mensukseskan kegiatan tersebut.
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab tanpa ada unsur pemaksaan didalam pembuatannya untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Jurnal Ilmiah
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN EXAMPLES NON EXAMPLES
TERHADAP KOGNITIF SISWA PADA MATERI MENGENAL
PENGGUNAAN UANG SESUAI DENGAN KEBUTUHAN
Warkintin, Bejo, Verdinandus Veri
STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, Jl. Pertamina-Sengkuang, Sintang
email: warkintin_1984@yahoo.co.id
Abstract: The purpose of the study to determine the effect of the methods Examples Non-Examples of the student's cognitive Know Your Content Usage In accordance with Exchange Requirements on Class III State Elementary School No. 47 Sinar Kasih. The method used descriptive quantitative method. Forms Quasi Experiment study. Results of teacher observation data analysis with a percentage of 100%, berkriteria well, while the observation data of students with an average percentage of 86.93% berkriteria well. Based on the calculation of student learning outcomes obtained by the average value of pretest for the experimental class 41.66, as well as the control class 46.85 and the average value of 77.59 posttest for the experimental class and control class 69.07. Improved Cognitive students Gains Index calculated by the formula and obtained value of 0.62 means that there is a significant rise after the students' cognitive learning methods examples of non examples. Data processing techniques using two-sample t-test for the number of students grade 27 experimental and 27 control classes as well as the normal distribution of data and homogeneous. The results of the hypothesis test results obtained At pretest known that the t value was -1.7 while the value t table at α = 5% by db (N1 + N2-2 = 52) was 2.011. This means tcount T tabelyaitu -1.7 2.011 ˂ then Ho is accepted, which means there is no significant difference between the students' cognitive experimental class and control class, while in the posttest results known that tcount is 2.79 while the value of the α ttabel = 5% by db (N1 + N2-2 = 52) was 2.011. This means tcount ˃ttabelyaitu 2.79 2.011 ˃ so Ha is received, which means there are significant differences between the students' cognitive experimental class and control class. Results of student questionnaire responses with an average of 88.15% with a very strong criteria.
Keywords: Non Examples Examples Learning Method and Cognitive Students
Abstrak: Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh metode Examples Non Examples terhadap kognitif siswa Pada Materi Mengenal Penggunaan Uang Sesuai dengan Kebutuhan di Kelas III Sekolah Dasar Negeri No 47 Sinar Kasih. Metode yang digunakan metode kuantitatif deskriptif. Bentuk penelitian Quasi-Eksperimen. Hasil analisis data observasi guru dengan persentase 100%, berkriteria baik, sedangkan data observasi siswa dengan persentase rata-rata 86,93% berkriteria baik. Berdasarkan perhitungan hasil belajar siswa diperoleh nilai rata-rata pretest untuk kelas eksperimen 41,66, serta kelas kontrol 46,85 dan nilai rata-rata posttest untuk kelas eksperimen 77,59, serta kelas kontrol 69,07. Peningkatan Kognitif siswa dihitung dengan rumus Indeks Gains dan didapat nilai 0,62 artinya terdapat peningkatan yang tinggi kognitif siswa setelah menggunakan metode pembelajaran examples non examples. Teknik pengolahan data menggunakan Uji t-dua sampel karena jumlah siswa 27 orang kelas ekperimen dan 27 orang kelas kontrol serta data berdistribusi normal dan homogen. Hasil dari uji hipotesis diperoleh Pada hasil pretest diketahui bahwa nilai thitung adalah -1,7 sedangkan nilai ttabel pada α = 5% dengan db (N1+N2-2 = 52) adalah 2,011. Hal ini berarti nilai thitung ˂ttabelyaitu -1,7 ˂ 2,011 maka Ho diterima yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan kognitif siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, sedangkan pada hasil posttest diketahui bahwa nilai thitung adalah 2,79 sedangkan nilai ttabel pada α = 5% dengan db (N1+N2-2 = 52) adalah 2,011. Hal ini berarti nilai thitung ˃ttabelyaitu 2,79 ˃ 2,011 maka Ha diterima yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan kognitif siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil angket respon siswa dengan rata-rata 88,15% dengan kriteria sangat kuat.
Kata Kunci: Metode Pembelajaran Examples Non Examples dan Kognitif Siswa
PENDAHULUAN
Pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi kegenerasi yang lain, (Umar Tirtarahardja dan S.L.La Sulo, 2008: 33). Perkembangan itu dimulai sejak makhluk hidup tersebut tercipta dan hidup berdampingan dengan makhluk yang lain. Tak terkecuali juga manusia, Piaget (Asri Budiningsih, 2005: 37) membagi tahap-tahap perkembangan kognitif menjadi empat yaitu “tahap sensorimotor (0-2 tahun), tahap praoprasional (2-7/8 tahun), tahap operasional konkret (7/8-11/12 tahun), dan tahap operasional formal (11/12-18 tahun)”. Sejak dilahirkan, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi menjadi kanak-kanak dan terjun kedunia pendidikan sampai menjadi dewasa. Interaksi pada anak dalam dunia sekolah diharapkan akan dapat menumbuhkan pengetahuan baru pada anak. Dimana interaksi yang terjadi antara anak dan anak, serta anak dengan guru akan membuat proses belajar dapat berjalan dengan baik dan memiliki keluwesan dalam pelaksanaannya. Keluwesan sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar, agar tidak ada jurang pemisah antara murid dengan guru maupun murid dengan murid. Dengan demikian maka akan terciptakan proses belajar yang menyenangkan sehingga membuat anak merasa senang dan memiliki keinginan untuk terus belajar. Proses pembelajaran timbal balik merupakan proses pembelajaran yang memperlihatkan keaktifan siswa dalam belajar, mengajukan pertanyaan mengenai hal yang belum dimengerti dalam proses pembelajaran. Dengan adanya timbal balik, maka kita dapat melihat dimana kekurangan dan kelebihan yang anak miliki dalam menangkap pembelajaran yang guru sampaikan. Kekurangan pada anak inilah yang nantinya harus diperbaiki dengan metode pembelajaran yang dapat merangkum kemampuan anak dalam menyerap pembelajaran. Metode pembelajaran merupakan cara-cara menyajikan materi pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan, serta berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.Untuk itu diperlukan salah satu cara untuk menumbuhkan minat belajar yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menghadapi permasalahan atau menemukan konsep-konsep dari permasalahan yang ada yaitu dengan metode pembelajaran yang cocok dan dapat mengoptimalkan kemampuan siswa dalam menghadapi permasalahan yang ada. Untuk menentukan suatu metode pembelajaran guru harus dapat memadukan antara materi dan metode pembelajaran agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan perencanaan. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada sekolah yang terletak di Desa Sinar Pekayau, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang yaitu Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih di kelas III, mata pelajaran IPS pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan semester genap Tahun Pelajaran 2014/2015, dari 58 siswa terdapat 20 siswa atau 35% siswa yang nilainya tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan nilai 65. Faktor utama yang menyebabkan banyak siswa tidak tuntas karena sebagian besar siswa mengalami kesulitan untuk memahami materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan. Salah satu upaya untuk meningkatkan ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran khususnya mata pelajaran IPS pada materimengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan, adalah dengan menerapkan metode pembelajaran examples non examples. (Ngalimun, 2013: 176) menyatakan bahwa: Metode pembelajaran examples non examples merupakan metode pembelajaran dengan mempersiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai dengan materi bahan ajar dan kompetensi, sajian gambar ditempel atau menggunakan OHP, dengan petunjuk gurusiswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi, dan refleksi. Pembelajaran examples non examples ini merupakan metode pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media yang dapat membantu dan mendorong siswa melatih diri dalam mengembangkan pola pikir dalam mengemukakan pendapat maupun ide-ide, dan dapat bermanfaat secara fungsional bagi siswa untuk aktif termotivasi dalam belajar. Metode pembelajaran ini juga lebih didominasi oleh peserta didik, guru sebagai fasilitator serta mengarahkan peserta didik, sehingga siswa memiliki pengalaman yang melekat pada dirinya akan materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan yang disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang: “Pengaruh Metode Pembelajaran Examples Non Examples Terhadap Kognitif Siswa pada Materi Mengenal Penggunaan Uang Sesuai dengan Kebutuhan Di Kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih”.
Berdasarkan uraian latar belakang, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Pengaruh metode pembelajaran examples non examples terhadap kognitif siswa pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih”. Penjabaran dari rumusan masalah umum dirumuskan sebagai berikut.Bagaimanakah aktivitas siswa dan guru saat diterapkan metode pembelajaran examples non examples pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas eksperimen pada Kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih. Apakah terdapat perbedaan kognitif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada pengukuran awal (pretest) pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih? Apakah terdapat perbedaan kognitif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada pengukuran akhir (posttest) pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih? Apakah terdapat perbedaan kognitif siswa pretest dan posttestpada kelas kontrol yang diberikan tanpa metode pembelajaran examples non examples pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih? Apakah terdapat perbedaan kognitif siswa pretest dan posttest pada kelas eksperimen dengan metode pembelajaran examples non examples pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan? Bagaimanakah tanggapan siswa kelas IIISekolah Dasar Negeri No.47 Sinar Kasih pada kelas eksperimen terhadap penggunaan metode pembelajaran examples non examples pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan? Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan umum dalam penelitiani ini adalah “Untuk mengetahui Pengaruh metode pembelajaran examples non examples terhadap kognitif siswa pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih”. Tujuan penelitian ini sebagai berikut. Untuk mengetahui aktivitas peserta didik dan guru saat digunakan metode pembelajaran examples non examples pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih. Untuk mengetahui perbedaan kognitif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada pengukuran awal (pretest)pada meterimengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III SekolahDasar Negeri No. 47 Sinar Kasih. Untuk mengetahui perbedaan kognitif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada pengukuran akhir (posttest) pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhandi kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih. Untuk mengetahui perbedaan hasil pretest dan posttest pada kelas kontrol yang diberikan pembelajaran tanpa diterapkannya metode pembelajaran examples non examples pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No.47 Sinar Kasih. Untuk mengetahui perbedaan hasil pretest dan posttest pada kelas eksperimen yang diberikan metode pembelajaran examples non examples pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih. Untuk mengetahui tanggapan siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih pada kelas eksperimen terhadap penggunaan metode pembelajaran examples non examples pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan.
METODE
Sugiyono (2013: 3), menyatakan bahwa “Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”. Pendekatan metode dalam penelitian ini adalah denganpendekatan kuantitatif. (Sugiyono, 2011: 7) menyebutkan ”Metode kuantitatif adalah data penelitian berupa angka-angka dan dianalisis menggunakan statistik”. Bentuk penelitian dalam penelitian ini adalah Quasi-eksperimen dengan desain penelitian Nonequivalent Control Group Design. Dalam desain ini diberikan pretest untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik sebelum perlakuan diberikan. Setelah diberikan perlakuan, tahap selanjutnya adalah memberikan posttest untuk mengetahui kemampuan peserta didik. Desain dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.1
Tabel 1.1
Rancangan Nonequivalent ControlGroup Design
Kelompok Pretest Treatment Posttest
Eksperimen O1 X O2
Kontrol O3 O4
Sumber. Sugiyono (2013: 116)
Keterangan:
O1 = Kelompok eksperimen sebelum diberikan perlakuan
O2 = Nilai kelompok eksperimen setelah diberikan perlakuan
O3 = Nilai awal kelompok kontrol
O4 = Nilai akhir kelompok kontrol
X = Perlakuan menggunakan metode pembelajaran examples non examples
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri No. 47 Sinar Kasih , yang berjumlah 54 siswa. Terdiri dari 27 siswa kelas IIIA dan 27 siswa kelas IIIB.
Tabel 1.2
Populasi Penelitian
Kelas Jumlah Siswa
III A 27
III B 27
JUMLAH 54
Sumber: (Data Siswa Kelas III SD Negeri No. 47 Sinar Kasih Semester Genap2014/2015)
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik Sampling Jenuh.Sampling Jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2013: 124). Sampel dalam penelitian ini adalah semua kelas III Sekolah Dasar Negeri no. 47 Sinar Kasih dimana kelas IIIA sebagai kelas eksperimen dan kelas IIIB sebagai kelas control. Adapun sampel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.3
Tabel 1.3
Sampel Penelitian
Kelas Jumlah Keterangan
III A 27 Ekperimen
III B 27 Kontrol
Sumber: (Data Siswa Kelas IIISD Negeri No. 47 Sinar Kasih Semester Genap2014/2015)
Sumber: ( Penggabean dalam Ege, 2010: 38)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis observasi guru pada pertemuan pertama dan kedua, maka didapat hasil persentase pertemuan pertama 100% dan pertemuan kedua 100%, sehingga didapat hasil persentase pelaksanaan dengan rata-rata 100% dengan kriteria Baik, artinya guru telah melaksanakan pembelajaran mulai dari pendahuluan sampai penutup pembelajaran dengan baik yaitu sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Hasil observasi guru selanjutnya dapat dilihat pada Gambar 1.4.
Gambar 1.4
Hasil Analisis Lembar Observasi Guru
Berdasarkan hasil observasi siswa yang diamati oleh tiga orang observer dengan jumlah siswa 27 orang, disimpulkan siswa memperhatikan penjelasan materi dengan metode examples non examples yaitu 92,59% pada pertemuan pertama dan 100% pada pertemuan kedua, siswa antusias dengan materi yang diberikan yaitu 100% pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua, siswa senang dengan gambar examples non examples yang digunakan yaitu 100% pada pertemuan pertama dan kedua, siswa berinteraksi dengan baik saat mengemukakan pendapat yaitu 66,66% pada pertemuan pertama dan 74,07% pada pertemuan kedua, siswa mencatat hal-hal penting yang dijelaskanpada buku catatannya yaitu 66,67% pada pertemua pertama dan 85,18% pada pertemuan kedua, siswa aktif bertanya dalam proses pembelajaran dengan metode examples non examples yaitu 59,25% pada pertemuan pertama dan 62,96% pada pertemuan kedua, siswa menjawab pertanyaan dengan baik yaitu 55,55% pada pertemuan pertama dan 66,66% pada pertemuan kedua, serta siswa dan gurumenyimpulkan pembelajaran yaitu 100% pada pertemuan pertama dan kedua. Hasil observasi siswa pada pertemuan pertama dengan rata-rata 80,08% dan pertemuan kedua dengan rata-rata 86,10%. Hasil rata-rata pertemuan pertama dan kedua yaitu 83,09% dan berada pada rentang 76% - 100% yang berkriteria Baik, artinya dari pertemuan pertama dan kedua siswa telah mengikuti pembelajaran mulai dari pendahuluan sampai penutup pembelajaran dengan baik. Hasil observasi siswa lebih lanjut dapat dilihat pada Gambar 1.5
Tabel. 1.5
Hasil Analisis Lembar Observasi Siswa
Gambar 4.2
Sebelum sampel penelitian diberikan perlakuan, terlebih dahulu peneliti memberikan tes awal (pretest) kepada siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri No.47 Sinar Kasih yang berjumlah 27 siswa untuk kelas IIIA sebagai kelas eksperimen dan 27 siswa kelas IIIB sebagai kelas kontrol. Tes awal (pretest) diperoleh nilai rata-rata 41,66 untuk kelas eksperimen dan 46,85 untuk kelas kontrol. Analisis hasil Pretest menunjukkan bahwa tidak terdapat siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan nilai 65. Nilai rata-rata tes akhir (posttest) untuk kelas eksperimen yang diperoleh sebesar 77,59 dimana terdapat 22 siswa atau 81,48% siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) sedangkan 5 siswa atau 18,52% siswa tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Rata-rata untuk kelas kontrol diperoleh 69,07 dimana terdapat 19 siswa atau 70,37% siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) sedangkan 8 siswa atau 29,63% siswa tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Perbandingan hasil pretest dan pottest dapat dilihat pada Gambar 1.6.
Gambar 1.6
Hasil Pretest dan Posttest
Hasil tes pada siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri No 47 Sinar Kasih di kelas eksperimen mengalami kenaikan nilai dengan kategori tinggi. Artinya pembelajaran dengan menggunakan metode examples non examples dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Karena kedua data berdistribusi normal dan homogen, maka selanjutnya dilakukan uji parametrik. Sampel yang digunakan oleh peneliti sebanyak 27 siswa pada kelas eksperimen dan 27 siswa pada kelas kontrol, sehingga langkah selanjutnya menggunakan Uji t- dua sampel. Hasil uji t-dua sampel data pretestdiketahui bahwa nilai thitung adalah -1,7 sedangkan nilai ttabel pada α = 5% dengan db (N+N-2 = 52) adalah 2,011. Hal ini berarti nilai thitung˂ttabelyaitu -1,7 ˂ 2,011 makaHo diterima, artinyaTidak terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan kognitif antara siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol sebelum pembelajaran.
Gambar 1.7
Hasil Uji T untuk Data Pretest
Setelah data posttest dihitung secara statistik dengan diketahui bahwa nilai thitung adalah 2,79 sedangkan nilai ttabel pada α = 5% dengan db (N+N-2 = 52) adalah 2,011. Hal ini berarti nilai thitung˃ttabelyaitu 2,79 ˃ 2,011 maka Haditerima Terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan kognitif antara siswa kelas eksperimen dan siswa kelas kontrol setelah pembelajaran.
Gambar 1.8
Hasil Uji T untuk Data Posttest
Dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata angket 88% berkriteria sangat kuat karena berada pada rentang 81% - 100%. Dapat disimpulkan bahwa respon siswa setelah proses pembelajaran dengan menggunakan metode examples non examples bernilai positif, yang artinya siswa sangat tertarik dengan metode yang diterapkan. Hasil angket respon siswa lebih lanjut dapat dilihat pada Gambar 1.9.
Gambar 1.9
Rata-rata Angket Respon Siswa
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan ”Terdapat pengaruh yang signifikan metode pembelajaran examplesnon examples terhadap kognitif siswa pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No.47 Sinar Kasih. Berdasarkan sub masalah penelitian, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut. Aktivitas siswa dan guru saat mengguanakan metode examples non examples pada meteri mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas IIISekolah Dasar Negeri No.47 Sinar Kasih pada kelas eksperimen berjalan dengan baik. Dari hasil observasi guru pertemuan pertama dan kedua diperoleh persentase 100%, artinya guru telah menyampaikan materi sesuai engan yang diharapkan. Aktivitas siswapada pertemuan pertama 80,08% dan pertemuan kedua 86,10% dengan rata-rata pertemuan pertama dan kedua 83,09% berkriteria Baik (B) karena berada pada rentang 76% - 100%. Kognitif siswa saat pengukuran awal (pretest). Hasil belajar tes awal (pretest) diberikan sebelum menggunakan metode examples non examples pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan dengan nilai rata-rata 41,66 pada kelas eksperimen dan di kelas kontrol sebelum mengunakan metode konvensional dengan nilai rata-rata 46,85.Kognitif siswa saat pengukuran akhir (posttest).Hasil belajar tesakhir (posttest) diberikan setelah diterapkan pembelajaran dengan metode examples non examples pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas eksperimen dengan nilai rata-rata 77,59 dan setelah diterapkan pembelajaran konvensional pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas kontrol dengan nilai rata rata 69,07. Kognitif siswa saat pengukuran awal (pretest). Hasil belajar tes awal(pretest) di kelas kontrol sebelum mengunakan metode konvensional pada materi mengenal pengguaan uang sesuai dengan kebutuhan dengan nilai rata-rata 46,85, dan pengukuran akhir (posttest) dengan nilai rata-rata 69,07. Kognitif siswa saat pengukuran awal(pretest). Hasil belajar tes awal(pretest) di kelas eksperimen sebelum mengunakan metode examples non examples pada materi mengenal pengguaan uang sesuai dengan kebutuhan dengan nilai rata-rata 41,66 dan pengukuran akhir (posttest) dengan nilai rata-rata 77,59. Dapat disimpulkan Pada hasil pretestdiketahui bahwa nilai thitung adalah -1,7 sedangkan nilai ttabel pada α = 5% dengan db (N1+N2-2 = 52) adalah 2,011. Hal ini berarti nilai thitung˂ttabelyaitu -1,7 ˂ 2,011 maka Ho diterima yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan kognitif siswa antara kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran examples non examplesdengan kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan. Pada hasil posttestdiketahui bahwa nilai thitung adalah 2,79 sedangkan nilai ttabel pada α = 5% dengan db (N1+N2-2 = 52) adalah 2,011. Hal ini berarti nilai thitung˃ttabel yaitu 2,79 ˃ 2,011 maka Haditerima yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan kognitif siswa antara kelas eksperimen yang menggunakan metode pembelajaran examples non examples dengan kelas kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan. Respon siswa setelah proses pembelajaran menggunakan metode examples non examples pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan di kelas III Sekolah Dasar Negeri No 47 Sinar Kasih dengan kategori sangat kuat, karena hasil analisis angket respon siswa rata-ratanya 88,15% dan berada pada rentang persentase 81%-100% sehingga respon siswa positif. Berdasarkan perolehan data hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti, maka peneliti mengemukakan beberapa saran sehingga dapat memberikan beberapa manfaat bagi pembaca maupun peneliti sendiri. Sebagai akhir dari penelitian ini, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut: Siswa diharapkan untuk selalu berperan aktif dalam proses pembelajaran seperti berani mengemukakan pendapat, tidak takut salah dan memiliki rasa ingin tahu. Dengan demikian, akan meningkatkan rasa percaya diri terhadap kemampuan yang telah dimiliki. Guru diharapkan memiliki empat kompetesi dasar yaitu kompetensi pedagogik, profesionalisme, kepribadian dan sosial, agar dapat masuk kedalam dunia anak yang memiliki karakter yang berbeda-beda sehingga dapat memberikan inovasi baru dalam proses pembelajaran. Guru diharapkan memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup sehingga dapat memilih metode pembelajaran yang kondusif, tepat dan sesuai dengan materi yang disajikan dan mampu melibatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Guru diharapkan dapat memahami metode pembelajaran examples non examplessehingga dapat menyikapi dengan baik kendala yang akan terjadiketika ingin menerapkan metode pembelejaran tersebut dalam proses pembelajaran. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan guru dapat menerapkan metode pembelajaran examples non examplesketika menyajikan materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan, karena metode pembelajaran ini dapat membuat siswa lebih mudah memahami materi. Mengingat penelitian ini hanya terbatas pada materi mengenal penggunaan uang sesuai dengan kebutuhan, maka perlu adanya penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui apakah metode pembelajaranexamples non examples dapat diterapkan dan memberikan hasil yang lebih baik lagi pada cakupan materi maupun mata pelajaran yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi. K. I. dan Amri. S. (2010). Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.
Arikunto. (2009). Dasar-Dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
BKG Tim. G.K.B.T. (2007). IPS Terpadu Untuk Sekolah Dasar Kelas III. Jakarta : Penerbit Erlangga.
Budiningsih. Asri. C. (2005). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Daryanto. (2001). Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Deti. (2014). Pengaruh Strategi Pembelajaran PQ4R(Preview, Question, Read, Reflect,Recite, Review) Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Budaya Demokrasi Di Kelas Xi Sekolah Menengah Atas Sinar Kasih Sintang Tahun Pelajaran 2013/2014. SkripsiSekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persada Khatulistiwa Sintang: Tidak diterbitkan.
Ege, B. (2010). Efektivitas Model pembelajaran Heuristik Vee Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Menengah Atas pada Konsep sistem saraf. Tesis Program Magister Pascasarjana UPI Bandung.Tidak Diterbitkan.
Eggen, Paul dan Donkauchak. (2012). Strategi dan Model Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Huda. M. (2013). Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Karno. R. ( 2014 ). Pengaruh metode team quiz terhadap kognitif siswa di kelas XI IPA pada materi sistem saraf manusia Di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sepauk Tahun Pelajaran 2013/2014. SkripsiSekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persada Khatulistiwa Sintang: Tidak diterbitkan.
Lestari, I. W. (2014). Pengaruh Penerapan Model Siklus Belajar (Learning Cycle) Terhadap Kognitif Siswa Pada Pokok Bahasan Ekosistem Kelas X Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sintang. Skripsi Pada Progrm Studi Pendidikan Biologi STKIP Persada Khatulistiwa Sintang: Tidak Diterbitkan.
Ngalimun. (2013). Strategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo
Purwanto. (2010). Evaluasi Hasil Pembelajaran. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Riduwan. (2008). Dasar-dasar Statistika. Bandung : Alfabeta.
Suardi Albinus. ( 2014 ).Pengaruh Media Herbarium Kering Terhadap Kognitif Siswa Pada Materi Struktur Dan Fungsi Jaringan Tumbuhan Di Kelas VIII Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Sepauk.SkripsiSekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persada Khatulistiwa Sintang: Tidak diterbitkan.
Sudjana. (2009). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: remaja rosdakarya.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan RD). Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan RD. Bandung: PT Alfabeta.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantiatif,dan R&D. Bandung : PT Alfabeta
Sulo. La. L. S. dan Tirtarahardja. Umar. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Suprijono Agus. (2014). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sutikno Subry.M. (2009). Belajar dan Pembelajaran “Upaya Kreatif dalam Mewujudkan Pembelajaran yang Berhasil. Bandung: Prospect.
Suwarno. (2011). Pengaruh Penerapan Model Pembalajaran Sains Teknologi Masyarakat Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas X pada Materi Virus Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Sintang 2011/2012. Skripsi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persada Khatulistiwa Sintang: Tidak diterbitkan.
Silabus KD IPS
SILABUS
1. IDENTITAS MATA KULIAH
Nama Mata Kuliah : KONSEP DASAR IPS SD
Kode Mata Kuliah :
Bobot : 3 SKS
Semester/Jenjang : I (SATU) /S1
Jurusan/Prodi : PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
Status Mata Kuliah : WAJIB
Dosen : WARKINTIN, M.Pd
2. TUJUAN
Setelah menyelesaikan perkuliahan ini diharapkan mahasiswa Prodi PGSD STKIP Persada Khatulistiwa mampu memahami dan menghayati rumpun ilmu sosial yang tergabung dalam pembelajaran IPS yang disajikan terpadu di jenjang sekolah dasar. Melalui mata kuliah ini di bahas secara menyeluruh konsep dasar geografi, sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi, hukum, dan psikologi.
4. PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Pendekatan : Ekspositori dan Komunikatif
Metode : ceramah, tanya jawab, diskusi, dan pemecahan masalah
Tugas : Laporan buku atau bab, penyusunan berbagai alat evaluasi
Media : OHP, LCD
5. EVALUASI
• Kehadiran (minimal 75%)
• Tugas terstruktur dan diskusi 20%
• UTS (30%)
• UAS (40%)
• Nilai Akhir :
6. RINCIAN MATERI PERKULIAHAN TIAP PERTEMUAN
Tatap Muka Kompetensi Dasar Indikator Materi Ajar Waktu Alat/Bahan/
Sumber Penilaian
1 dan 2 • IPS dan Ilmu Sosial Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu:
• Memahami Pengertian IPS
• Memahami pengertian social studies
• Memahami Pengertian dan rumpun ilmu sosial
• Memahami struktur ilmu sosial • Pengertian IPS
• Pengertian social studies
• Pengertian dan rumpun ilmu sosial
• Struktur ilmu sosial 200’ Laptop, Power point, Sapriya, 2007. Konsep Dasar IPS SD. UPI Bandung. Presentasi
3 dan 4 • Fakta, Konsep, Dan generalisasi • Memahami pengertian fakta, konsep, dan generalisasi
• Memahami fakta, konsep, dan generalisasi dalam IPS • Pengertian fakta, konsep, dan generalisasi
• Fakta, konsep, dan generalisasi dalam IPS 200’ Laptop, Power point, Sapriya, 2007. Konsep Dasar IPS SD. UPI Bandung. Presentasi
5 dan 6 Keterampilan Dasar Dalam Ilmu Sosial
• Memahami keterampilan bertanya
• Memahami keterampilan memperoleh, menganalisis, menyajikan, dan memanfaatkan informasi
• Memahami menyusun dan menguji generalisasi • Keterampilan bertanya
• Keterampilan memperoleh, menganalisis, menyajikan, dan memanfaatkan informasi
• Menyusun dan menguji generalisasi 200’ Laptop, Power point, Sapriya, 2007. Konsep Dasar IPS SD. UPI Bandung. Presentasi
7 Individu dan Masyarakat • Memahami Pengertian individu dan masyarakat
• Memahami struktur, pranata, dan proses sosial budaya
• Memahami interaksi individu dan masyarakat • Pengertian individu dan masyarakat
• Struktur, pranata, dan proses sosial budaya
• Interaksi individu dan masyarakat 200’ Laptop, Power point, Sapriya, 2007. Konsep Dasar IPS SD. UPI Bandung. Presentasi
Tes tertulis, lisan, dan unjuk kerja
9 Manusia dan Lingkungannya • Memahami fenomena fisik dan manusia
• Memahami kemajemukan agama, ras, dan etnik
• Memahami pembangunan di Indonesia • Fenomena fisik dan manusia
• Kemajemukan agama, ras, dan etnik
• Pembangunan di Indonesia 200’ Laptop, Power point, Sapriya, 2007. Konsep Dasar IPS SD. UPI Bandung.
10 dan 11 Pengaruh Kebudayaan luar terhadap kebudayaan Indonesia • Memahami kebudayaan Hindu Budha
• Memahami kebudayaan Islam
• Memahami kebudayaan Barat • Kebudayaan Hindu Budha
• Kebudayaan Islam
• Kebudayaan Barat 200’ Laptop, Power point, Sapriya, 2007. Konsep Dasar IPS SD. UPI Bandung.
Tes tertulis, lisan, dan unjuk kerja.
12 dan 13 Perjuangan Bangsa Indonesia menuju kemerdekaan • Memahami penjajahan di Indonesia dan akibatnya
• Memahami perjuangan bangsa Indonesia dan semangat kebangsaan menuju kemerdekaan • Penjajahan di Indonesia dan akibatnya
• Perjuangan bangsa Indonesia dan semangat kebangsaan menuju kemerdekaan 200’ Laptop, Power point
14 • Ekonomi dan Koperasi
• Memahami Pengertian ekonomi, koperasi, dan bisnis
• Memahami kondisi ekonomi, koperasi, dan bisnis di Indonesia
• Memahami sistem ekonomi global dan dampaknya • Pengertian ekonomi, koperasi, dan bisnis
• Kondisi ekonomi, koperasi, dan bisnis di Indonesia
• Sistem ekonomi global dan dampaknya 200’ Laptop, Power point,
Tes Lisan, laporan, dan tertulis
15 HAM, demokrasi, dan penegakan hukum • Memahami Hak Aasasi Manusia
• Memahami Konsep Demokrasi konstitusional
• Memahami penegakan hukum • Hak Aasasi Manusia
• Konsep Demokrasi konstitusional
• Penegakan hukum
7. DAFTAR BUKU
Sintang, ............... 2016
Kepala LPM Dosen Pengampu
ANA MARGANINGSIH,SE., M,Pd WARKINTIN, M.Pd
Rabu, 17 September 2014
(KDM) Keterampilan Bertanya
A.PENGERTIAN BERTANYA
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru sering memberikan pertanyaan kepada siswa baik yang diajukan kepada seluruh kelompok, kelompok kecil atau siswa secara individual. Hampir tidak ada suatu kegiatan belajar mengajar tanpa satupun pertanyaan yang dilontarkan oleh guru. Menurut Borich yang dikutif oleh Cole dan Chan bahwa pertanyaan adalah ungkapan verbal yang digunakan untuk mendapatkan tanggapan dari pihak lain. Pertanyaan digunakan oleh guru untuk melihat pikiran dan tanggapan siswa secara benar terhadap penjelasan guru. Disamping itu pertanyaan dapat mendorong siswa agar mengajukan pendapat, mengajak siswa berpikir, untuk mendapatkan umpan balik, jalan untuk meningkatkan pemahaman siswa dan sebagainya. Dalam PBM tujuan pertanyaan yang dijukan guru ialah agar siswa belajar yaitu memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir, baik berupa kalimat Tanya atau suruhan yang menuntut respon siswa. Cara yang digunakan oleh guru dalam mengajukan pertanyaan, berpengaruh dalam hasil belajar dan cara berpikir siswa. Cara yang mempunyai pengaruh positif bagi kegiatan belajar siswa merupakan cara yang tidak mudah. Pengajuan pertanyaan yang penu arti dan menarik, merupakan tugas yang sangat kompleks. Oleh sebab itu, guru perlu memahami dan menguasai keterampilan bertanya sebagai salah satu keterampilan mengajar. Fungsi pertanyaan guru adalah sebagai alat mengajar. Pada umumnya guru menggunakan teknik bertanya sebagai alat mengajar, walaupun sebagian besar dari pertanyaan yang diajukan masih berupa pertanyaan ingatan belaka.
B.TUJUAN BERTANYA
Dalam mengajukan pertanyaan guru mempunyai maksud-maksud tertentu, yang antara guru satu dengan guru yang lainnya bekum tentu tujuannya sama. Oleh karena itu jenis pertanyaan guru kalau diinventarisasikan akan banyak sekali. Tujuan pertanyaan yang diajukan guru antara lain mempunyai maksud sebagai berikut:
1.Memberikan batu loncatan (apersepsi) sebelum memasuki pokok bahasan baru
2.Mengenai apa yang telah diketahui siswa tentang pokok bahasan yang diajarkan
3.Memusatkan perhatian siswa pada pokok bahasan yang sedang disajikan
4.Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa pada suatu pokok bahasan yang diajarkan
5.Mengenal kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam menerima pelajaran
6.Mengembangkan cara belajar siswa aktif
7.Mmberikan rangsangan pada para siswa agar mereka berpikir kritis dan kreatif
8.Mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat
9.Mengajak para siswa untuk memecahkan masalah
10.Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengasimilasikan informasi
11.Untuk meninjau kembali apa yang dijelaskan guru
12.Menguji dan mengukur hasil belajar siswa dalam melaksanakan tugas
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pertanyaan yang diajukan guru mempunyai maksud macam-macam. Satu pertanyaan yang diajukan dapat mencapai beberapa tujuan sekaligus pada waktu yang sama. Kadang-kadang hal ini tidak disadari, baik oleh siswa maupun oleh guru itu sendiri, sebab pertanyaan itu berkembang.
C.PENGGUNAAN KETERAMPILAN BERTANYA
Dalam usaha mencapai tujuan di atas, guru perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1.Kehangatan dan Keantusiasan
Kelas akan kelihatan hidup apabila guru menunjukkan sikap yang antusias dan hangat. Sikap ini akan tampak pada gaya guru, ekspresi wajah, suara serta gerakan badan yang dapat mempengaruhi suasana kelas gembira dan akrab. Guru yang membawa persoalan dari rumah ke sekolah dan terbawa pada saat saat ia mengajar, akan menunjukkan sikap yang murung dan tidak gairah mengajar. Akibatnya suasana kelas akan terpengaruh juga oleh sikap guru yang kurang bergairah ini. Siswa akan enggan berpartisipasi karena melihat sikap guru yang murung dan kemungkinan besar menjadi cepat marah. Sikap ini harus dihindari. Betapapun beratnya persoalan dihadapi guru, di depan kelas ia harus bersikap wajar jangan perlihatkan sikap murung, sedih atau bersungut-sungut. Sikap hangat dan antusias ditunjukkan dalam mengajukan pertanyaan maupun menerima jawaban dari siswa.
2.Kebiasaan-kebiasaan yang perlu dihindari
Dalam mengajukan pertanyaan ada beberapa hal yang perlu dihindari, ialah:
a.mengulangi pertanyaan sendiri
Sebelum siswa dapat berpikir maksimal terhadap pertanyaan, guru mengulangi pertanyaan kembali akibatnya siswa tidak konsentrasi.
b.mengulangi jawaban siswa
Menyebabkan waktu terbuang, siswa tidak mendengar jawaban dari temanya yang lain karena guru akan mengulanginya
c.menjawab pertanyaan sendiri
Pertanyaan dijawab guru sebelum siswa mendapatkan kesempatan cukup untuk memikirkan jawabanya sehingga anak beranggapan tidak perlu memikirkan jawabanya karena guru akan memikirkan jawabanya.
d.pertanyaan yang menjawab jawaban serentak
contoh : Apa ibu kota RI?
Akibatnya guru tidak dapat mengetahui dengan pasti siapa yang benar dan menutut kemungkinan terjadi interaksi selanjutnya.
e.pertanyaan ganda
contoh : Siapa pemimpin orang belanda yang pertama datang ke Indonesia, mengapa mereka datang, dan apa akibat mereka itu bagi bangsa Indonesia.
Hal ini akan mematahkan semangat siswa yang hanya sanggup menyelesaikan satu dari semua tugas itu
f.menunjuk siswa tertentu sebelum memberikan pertanyaan
akibatnya anak yang tidak ditunjuk tidak memikirkan jawabannya.
D.KETERAMPILAN BERTANYA DASAR DAN LANJUTAN
Pertanyaan guru ada yang hanya meminta siswa untuk mengingat kembali fakta atau informasi yang telah diterima, tetapi ada pula pertanyaan yang menuntut tingkat berpikir yang lebih tinggi dari siswa. Oleh karena itu dalam mempelajari keterampilan bertanya dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1.Keterampilan bertanya dasar
Untuk dapat mencapai tujuan penggunaan pertanyaan di dalam kelas, guru perlu memahami komponen-komponen keterampilan bertanya dasar. Keterampilan bertanya dasar mempunyai komponen-komponen sebagai berikut:
a.pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat
b.pemberian acuan
c.pemusatan
d.pemindahan giliran
e.penyebaran
f.pemberian waktu berpikir
g.sambutan yang hangat dan antusias
h.pemberian tuntunan
2.Keterampilan bertanya lanjut
Penguasaan komponen bertanya lanjut, juga berlandaskan pengusaan komponen bertanya dasar, oleh karena itu semua komponen bertanya dasar juga masih dipakai dalam menerapkan keterampilan bertanya lanjut.
a.Penggunaan keterampilan bertanya lanjut:
Dalam menerapkan keterampilan bertanya lanjut, ada kebutuhan yang lebih tinggi sifatnya yang belum dapat dijangkau oleh keterampilan bertanya dasar ialah usaha siswa untuk mengembangkan kemampuan mengatasi masalah serta berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi. Oleh karena itu penggunaannya meliputi:
1)Mengembangkan kemampuan menemukan, mengorganisasi dan melalui informasi yang diperoleh
2)Meningkatkan kemampuan membentuk dan mengungkapkan pertanyaan berdasarkan informasi yang lengkap dan relevan
3)Mendorong siswa mengembangkan ide-ide serta mengemukakannya kepada kelompok secara timbal balik
4)Memberi kesempatan-kesempatan siswa memperoleh keberhasilan yang lebih daripada biasanya
b.Komponen-komponen keterampilan bertanya lanjut
1)Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan
2)Penagaturan urutan pertanyaan
3)Penggunaan pertanyaan pelacak
4)Peningkatan terjadinya interaksi
3.Klasifikasi Pertanyaan menurut Taksonomi Bloom
Pada uraian di atas telah disinggung bahwa pertanyaan yang hanya menuntut siswa mengingat kembali fakta/informasi yang telah diterima, namun ada pula pertanyaan yang menuntut tingkat berpikir yang lebih tinggi. Untuk memudahkan anda dalam membuat pertanyaan, taksonomi Bloom dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengklasifikasikan pertanyaan. Sebelumnya perlu anda ketahui bahwa taksonomi Bloom merupakan salah satu cara yang dipakai dalam merumuskan tujuan pengajaran. Taksonomi ini dapat juga diterapkan untuk mengklasifikasikan pertanyaan yang diajukan guru di kelas.
Ada tiga kawasan atau disebut juga ranah (domein) yang dikemukan Bloom dan kawan-kawan dalam taksonomi tersebut ialah: kognitif (yang menyangkut aspek pikir); afektif (yang menyangkut aspek sikap); psikomotor (yang menyangkut aspek keterampilan).
Dalam kaitannya dengan pertanyaan ini, kita gunakan domein yang pertama ialah kognitif oleh karena seseorang yang bertanya berarti ia berpikir (aspek pikir yang diutamakan). Untuk domein kognitif ini ada enam tingkatan, yang masing-masing tingkat dituntut proses berpikir yang berbeda. Sesuai dengan tingkat kesukarannya dari keenam tingkatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan ialah:
a.Pertanyaan kognitif tingkatan yang lebih rendah:
1)pengetahuan (knowledge)
2)pemahaman (comprehension)
3)penerapan (application)
b.Pertanyaan kognitif tingkatan yang lebih tinggi:
1)analisis (analysis)
2)sintesis (synthesis)
3)evaluasi (evaluation)
Dari keenam tingkatan tersebut secara berturut-turut akan diuraikan sebagai berikut:
a.Pertanyaan pengetahuan (knowledge)
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan penalaran dalam kategori yang terendah, yang hanya menuntut siswa untuk dapat mngungkapkan kembali pengetahuan tentang fakta, kejadian, definisi dan sebagainya. Siswa hanya dituntut mengingat kembali apa yang dipelajarinya.
Kata-kata yang sering digunakan untuk pertanyaan pengetahuan ini antara lain:
Apa? Sebutkan! Berilah nama!
Siapa? Ingatlah istilah! Golongkan!
Bilamana? Kemukakan definisi!
Di mana? Pasangkan!
b.Pertanyaan pemahaman (comprehension)
Pertanyaan ini meminta untuk menujukkan bahwa ia telah mengerti atau memahami sesuatu. Ia dikatakan memahami sesuatu berarti ia telah dapat mengorganisasikan dan mengutarakan kembali apa yang dipelajarinya dengan menggunakan kalimatnya sendiri. Jadi pada tingkat ini siswa sudah tidak lagi mengingat dan mengahfal informasi yang diperoleh, melainkan harus dapat memilih dan mengorganisasikan informasi tersebut.
Bentuk pertanyaan jenis ini adalah:
1)Memberkan penjelasan dengan kata-kata sendiri
2)Menyatakan ide-ide pokok tentang sesuatu dengan kata-kata sendiri
3)Membedakan atau membandingkan
4)Menerangkan dengan grafik
5)Mengubah bahan dari bentuk yang satu ke dalam bentuk lain
Untuk pertanyaan pemahaman perlu diingat bahwa informasi atau bahan pelajaran harus sudah diberikan/diajarkan kepada siswa, sehingga waktu guru memberikan pertanyaan yang maksudnya untuk mengetahui apakah informasi yang telah diberikan telah dipahami siswa, mereka sudah mempunyai bahan untuk menjawab.
Berapa kata yang dapat digunakan untuk pertanyaan pemahaman adalah:
Bedakanlah Terjemahkan
Terangkan Ubahlah
Simpulkan Berilah contoh
Bandingkanlah Berikan interpretasi
Jelaskan dengan kata-katamu sendiri
c.Pertanyaan penerapan (aplikasi)
Kalau pada tingkat lebih rendah siswa hanya diminta mengingat kembali, kemudian setelah memahami sesuatu pelajaran ia dapat mengungkapakan kembali yang telah dipelajari, maka kecakapan itu harus diingatkan lagi. Siswa harus dapat menggunakan informasi yang telah dipelajari itu untuk diterpkan pada suatu atau pada kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini, yang dimaksud dengan pertanyaan penerapan adalah pertanyaan pertanyaan yang menuntut suatu jawaban dengan menggunakan informasi yang telah diperoleh seelumnya.
Disini siswa dihadapkan pada pemecahan masalah sederhana dengan menggunakan pengetahuan yang telah dipelajarinya. Dengan menggunakan konsep, prinsip, aturan, hukum atau proses yang dipeajari sebelumnya, siswa diharapkan dapat menentukan suatu jawaban yang benar terhadap masalah itu. Beberapa kata yang sering digunakan untuk pertanyaan penerapan adalah:
Guankanlah Carilah hubungan
Tunjukkanlah Tuliskan suatu contoh
Demonstrasikan Siapkanlah
Buatlah sesuatu Klasifikasikanlah
d.Pertanyaan analisis
Pertanyaan ini merupakan jenjang pertama dari kelompok pertanyaan tingkat tinggi. Pertanyaan analisis menuntut siswa untuk berpikir secara mendalam, kritis, bahkan menciptakan sesuatu yang baru untuk menjawab pertanyaan analisis, siswa harus mampu menguraikan sebab-sebab, motif-motif atau mengadakan deduksi (dari suatu generalisasi/kesimpulan umum/hukum/teori, dicari fakta-faktanya). Oleh karena itu pertanyaan analisis tidak hanya mempunyai satu jawaban yang benar, melainkan berbagai alternatif. Siswa tidak lagi hanya mengahafal atau mengingat-ingat apakah yang telah dipelajari melainkan dituntut pemikiran kritis. Guru harus waspada dengan jawaban siswa, mungkin jawaban itu hanya diperoleh dari bagian bab dalam buku teks dan bukan hasil pemikirannya. Pertanyaan analisis menuntut siswa terlibat dalam proses kognitif sebagai berikut:
1)Menguraikan alasan atau sebab-sebab dari suatu kejadian
2)Mempertimbangkan dan menganalisis inforamsi yang tersedia agar mencapai suatu kesimpulan atau generalisasi berdasarkan informasi
3)Menganalisis kesimpulan atau generalisasi untuk menemukan bukti yang menunjang atau menyangkal kesimpulan/generalisasi itu
Dengan pertanyaan analisis dituntut kemampuan untuk meraikan suatu generalisasi ke dalam unsur-unsur atau komponen-komponen sehingga ide-ide itu dapat dimengerti dengan jelas. Kata-kata yang sering digunakan dalam pertanyaan analisis adalah:
a)Analisislah………….
b)Kemukakan bukti-bukti………..
c)Mengapa……….
d)Identifikasikan…………..
e)Tunjukkanlah sebabnya……….
f)Berilah alasan-alasan……….
e.Pertanyaan sintesis
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan tingakta tinggi yang menuntut siswa untuk berpikir orisinil dan kreatif. Dengan pertanyaan ini akan diperoleh kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian atau unsur-unsur agar dapat merupakan suatu kesatuan. Mereka dituntut untuk mendakan induksi (dari fakta-fakta/unsur-unsur/informasi, diambil suatu kesimpulan atau generalisasi). Siswa tidak hanya menerka jawaban, melainkan harus berpikir dengan sunguh-sunguh. Jenis pertanyaan ini akan dapat meningkatkan kreativitas serta daya penalaran siswa. Pertanyaan sintesis ini dapat berbentuk:
1)Pertanyaan yang meminta siswa mengadakan prediksi atau membuat ramalan
2)Pertanyaan yang diminta siswa mengungkapkan ide dan mengahasilkan komunikasi orisinil
3)Pertanyaan yang menuntut pemecahan masalah
Dengan jenis pertanyaan ini, guru dapat membantu siswa untuk mengembangkan daya kreasinya. Berikut ini adalah kata-kata yang sering digunakan dalam pertanyaan-pertanyaan sintesis:
Ramalkanlah……. Tulislah…….
Bentuk…. Bagaimana kita dapat memecahkan….
Ciptakanlah….. Apa yang terjadi seaindainya…
Susunlah…. Bagaimana kita dapat memperbaiki….
Rancanglah…. Kembangkan…..
f.Pertanyaan evaluasi
Pertanyaan ini menuntut proses berpikir yang paling tinggi, karena pekerjaan menialai hanya mungkin dilakukan dengan baik bila fungsi-fungsi kognitif yang lain, dari pengetahuan sampai dengan sintesis telah dikuasai. Untuk dapat menyatakan pendapat atau menilai berbagai ide, karya seni, pemecahan masalah serta alasan-alasan keputusannya, harus digunakan kriteria-kriteria tertentu, apakah berupa kriteria yang benar atau nilai-nilai yang dipilih oleh siswa sendiri.
Dalam pertanyaan evaluasi adanya standar atau kriteria pengukuran merupakan sesuatu yang mutlak. Penggunaan standar atau kriteria yang berbeda akan mengakibatkan jawaban yang berbeda pula. Tetapi dalam mengembangkan penalaran siswa, jawaban-jawaban yang berbeda tersebut memang diharapkan. Hal ini menunjukkan adanya pemikiran dari setiap siswa, berarti bukan hanya menghafal atau meniru jawaban orang lain. Pertanyaan evaluasi dapat dikategorikan sebagai berikut:
1)pertanyaan yang meminta siswa memberikan pendapat tentang berbagai persoalan
2)pertanyaan yang menilai suatu ide
3)pertanyaan yang meminta siswa menetapkan suatu cara pemecahan masalah
4)pertanyaan yang meminta siswa menetapkan karya seni terbaik
Dari pertanyaan di atas kita dapat melihat bahwa siswa akan dapat menjawab bila ia mempunya kriteria tertentu. Mereka harus menilai sejauh mana sesuatu itu memenuhi kriteria, baik yang menggunakan standar objektif maupun nilai yang bersifat pribadi. Kadang-kadang siswa mempunyai pandangan yang berbeda, oleh karena itu perlu didukung oleh alasan-alasan atau argumentasi tertentu. Dengan demikian siswa akan belajar menggunakan penalaran tingkat tinggi.
Kata-kata yang sering digunakan untuk pertanyaan ini ialah:
1)Berilah pendapat…..
2)Alternatif mana yang lebih baik….
3)Setujukah anda…..
4)Kritiklah….
5)Berilah alasan…
6)Nilailah…..
7)Bandingkan…..
8)Bedakanlah…….
Kamis, 24 Oktober 2013
Perencanaan Pembelajaran
PENDEKATAN SISTEM DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. PENGERTIAN SISTEM
Menurut etimologi pendekatan sistem lebih menekan padaprosedurnya dengan mendefinisikan sistem sebagai suatu jaringankerja dari prosedur – prosedur yang saling berhubungan,berkumpul bersama -sama untuk melakukan kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu, yang dimaksud adalah alat – alat pengendalian sosial untuk melanggengkan dalam system pengendalian.Sistem menurut terminologi adalah pendekatan sistem yang lebih menekan pada elemen atau komponennya, dengan mendefinisikan sistem yaitu kumpulan dari elemen – elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sistem merupakan satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem mempunyai tiga ciri, yaitu:
1. Setiap sistem memiliki tujuan
2. Setiap sistem memiliki fungsi
3. Setiap sistem memiliki komponen
Sistem pembelajaran
Sistem pembelajaran adalah suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Manusiawi ; guru, siswa, serta orang-orang yang mendukung pembelajaran
Material; berbagai bahan pelajaran yang dapat disajikan sebagai sumber belajar
Fasilitas dan perlengkapan; segala sesuatu yang dapat mendukung terhadap jalannya proses pembelajaran
Prosedur; kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran.
Konsep Sistem
Istilah sistem meliputi spektrum konsep yang sangat luas. Sebagai misal, seorang manusia, organisasi, mobil, susunan tata surya dan sekolah merupakan suatu sistem. Contoh-contoh tersebut memiliki batasan-batasan tersendiri yang satu sama lain berbeda. Meskipun demikian terdapat kesamaan dari segi prosesnya dalam hal ini terdapat masukan dan menghasilkan keluaran. Itulah sebabnya pengertian sistem tidak lain adalah suatu kesatuan unsur-unsur yang saling berinteraksi secara fungsional yang memperoleh masukan menjadi keluaran.
B. TUJUAN SISTEM
Tujuan merupakan komponen penting dalam sistem pembelajaran, karena tujuan mengandung arah pembelajaran. Tujuan menentukan kondisi siswa yang ingin dibentuk melalui proses tersebut. Tujuan dalam proses pembelajaran menempati posisi yang sangat penting, bagaikan jantung pada tubuh manusia. Ia merupakan komponen yang pertama dan utama dalam sistem pembelajaran. Indonesia, saat ini dengan KTSP nya mejadikan kompetensi sebagai tujuan, artinya bahwa tujuan yang diharapkan adalah siswa dapat menguasai sejumlah kompetensi yang tergambar dalam kompetensi dasar maupun dalam standar kompetensi.
kriteria yang mempengaruhi system pembelajaran
Faktor guru
Dalam sistem pembelajaran, guru berperan sebagai perencana (planer) atau desainer (desainer) pembelajaran, sebagai implementator atau mungkin sebagai keduanya. Dalam melaksanakan perannya sebagai implementator rencana dan desain pembelajaran bukan hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarinya akan tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran. Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi kualitas guru.
Faktor Siswa
Faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dari aspek siswa terdiri dari:
• Pupil formative experience, jenis kelamin dan latar belakang kehidupan sosial siswa.
• Pupil properties, segala seuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki oleh siswa.
Faktor sarana dan prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang secara langsung mendukung kelancaran proses pembelajaran. Sedangkan prsarana adalah segala sesuatu yang tidak langsung mendukung kelancaran proses pembelajaran. Terdapat beberapa keuntungan bagi lembaga pendidikan yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana, yaitu:
• Dapat menumbuhkan motivasi dan gairah guru dalam mengajar
• Dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar.
Faktor lingkungan
Dilihat dari lingkungan, ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu:
• Faktor organisasi kelas
Faktor ini meliputi jumlah siswa dalam suatu kelas. organisasi kelas yang terlalu besar kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran, sehingga kelas cenderung:
a. Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa sehingga waktu yang tersedia semakin sempit.
b. Kelompok belajar akan kurang mampu memanfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada.
c. Kepuasan belajar siswa cenderung akan menurun
d. Perbedaan individu antar anggota akan semakin nampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan.
e. Anggota kelompok yang terlalu banyak cenderung akan memaksa sebagian besar siswa menunggu.
f. Anggota kelompok yang terlalu banyak cenderung siswa kurang aktif dan berpartisifasi dalam belajar.
• Faktor iklim sosial-psikologis
Faktor sosial-psikologis adalah keharmonisan hubungan antar orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim ini terjadi secara internal (dalam sekolah ) dan eksternal (dengan dunia luar sekolah).
C. FUNGSI-FUGSI SISTEM
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, diperlukan berbagai fungsi yang beraktivitas. Misalnya seorang manusia agar dapat hidup dan menunaikan tugasnya di dalam dirinya diperlukan adanya fungsi koordinasi dan penggerak, fungsi pernafasan, fungsi perencanaan makanan, fungsi peredaran darah, fungsi penginderaan, fungsi perlindungan terhadap penyakit dan berbagai bahaya, serta fungsi pembiakan dan lain-lain.
D. KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM
Komponen-komponen system dalam pembelajaran terdiri dari :
1. Siswa
Proses pembelajaran pada hakekatnya diarahkan untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga siswa harus dijadikan sebagai pusat dari segala kegiatan.
2. Tujuan
Tujuan adalah komponen terpenting dalam pembelajaran setelah komponen siswa sebagai subjek belajar. Dalam dunia pendidikan, persoalan tujuan merupakan persoalan tentang visi dan misi lembaga pendidikan itu sendiri. Tujuan yang lebih umum diturunkan kepada tujuan yang lebih spesifik. Tujuan khusus yang direncanakan guru meliputi:
Pengetahuan, informasi, serta pemahaman sebagai bidang kognitif.
Sikap dan apresiasi sebagai bidang afektif
Berbagai kemampuan sebagai bidang motorik
3. Kondisi
Kondisi adalah berbagai pengalaman belajar yang dirancang agar siswa dapat mencapai tujuan khusus seperti yang telah dirumuskan. Pengalaman belajar harus mendorong siswa supaya aktif baik secara fisik maupun nonfisik.
4. Sumber-sumber belajar
Sumber belajar berkaitan dengan segala sesuatu yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengalaman belajar, yang meliputi lingkungan fisik dan fersonal. Desainer harus mampu menentukan sumber belajar apa dan bagaimana cara memanfaatkannya.
5. Hasil belajar
Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan. Tugas utama dalam hal ini adalah merancang instrumen yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran.
E. INTERAKSI ATAU SALING BERHUBUNGAN
Semua komponen dalam system pembelajaran haruslah saling berhubungan satu sama lain. Misalnya dalam proses pembelajran disajikan penyampaian pesan melalui media atau alat, seperti infocus, maka diperlukan adanya aliran listrik untuk membantu dalam proses belajar tersebut.
F. PENGGABUNGAN YANG MENIMBULAKAN JARINGAN KETERPADUAN
Penggabungan yang menimbulakan keterpaduan ini berdasar pada hokum Gestallt yang menyatakan bahwa suatu keseluruhan itu mempunyai nilai atau kemampuan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jumlah bagian-bagian dalam kaitan dengan kegiatan pembelajran,, para guru berusaha menjalin keterpaduan antara sesama guru.
G. PROSES TRANSFORMASI
Semua sistem mempunyai misi untuk mencapai suatu meksud atau tujuan tertentu. Untuk itu diperlukan suatu proses yang mengubah masukan (input) menajdi hasil (output).
SEPULUH LANGKAH MENDESAIN PEMBELAJARAN MENURUT DICK AND CARREY
Model Dick – Carey adalah model desain Instruksional yang dikembangkan oleh Walter Dick, Lou Carey dan James O Carey. Model ini adalah salah satu dari model prosedural, yaitu model yang menyarankan agar penerapan prinsip disain Instruksional disesuaikan dengan langkah-langkah yang harus di tempuh secara berurutan.
Model Dick – Carey tertuang dalam Bukunya The Systematic Design of Instruction edisi 6 tahun 2005. Perancangan Instruksional menurut sistem pendekatan model Dick & Carey terdapat beberapa komponen yang akan dilewati di dalam proses pengembangan dan perencanaan tersebut.
Model Dick and Carey terdiri dari 10 langkah. Setiap langkah sangat jelas maksud dan tujuannya sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah yang satu dengan yang lainya. Dengan kata lain, system yang terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya.
Model ini termasuk ke dalam model prosedural. Langkah–langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalaah :
1. Identifikasi Tujuan (Identity Instructional Goal(s)).
Sebagaimana kita ketahui bahwa tujan akhir pembelajaran adalah tercapainya tujuan umum pembelajarantersebut.Karena itu, setiap perancang harus mempertimbangkan secara mendalam tentang rumusan tujuan umum pembelajaran yang akan di tentukannya. Mempertimbangkan secara dalam artinya, untuk merumuskan tujuan umum pembelajaran harus mempertimbangkan karakteristik bidang studi, karakteristik siswa, dalam kondisi lapangan.
Dick and carrey(1985) menjelaskan bahwa tujuan pengajar adalah untuk menentukan apa yang dapat di lakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Di dalam buku akta mengajar v (Depdikbud, 1982) tujuan pembelajaran sangat penting dalam proses intruksional atau dalam setiap kegiatan belajar mengajar, sebab tujuan pembelajaran yang di rumuskan secara spesifik dan jelas, akan memberikan keuntungan kepada:
a. Siswa untuk dapat mengatur waktu, dan pemusatan perhatian pada tujuan yang ingin di capai;
b. Guru untuk dapat mengatur kegiatan instruksionalnya, metodenya, dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut;
c. Evaliator untuk dapat menyusun tes sesuai dengan apa yang harus di capai oleh anak didik.
Rumusan tujuan umum pembelajaran menurut Dick and carrey (1985) harus jelas dan dapat di ukur, terbentuk tingkah laku. Pandangan lain seperti (Uno Hamsah, 1993, juga Miarso, 1984) mengemukakan rumusan pembelajaran yang baik adalah (a) mengunakan istilah yang operasional, (b) berbentuk hasil belajar, (c) berbentuk tingkah laku,(d) jelas hanya mengukur satu tingkah laku. Pendapat lain dikemukakan Mudhofir (1990) rumusan tujuan pembelajaran yang baik (a) formulasi dalam bentuk yang operasional, (b) bentuk produk belajar, (c) dalam tingkah laku si pelajar, (d) jelas tingkah laku yang ingin di capai, (e) hanya mangandung satu tujuan belajar, (f) tingkah keluasan yang sesuai, (g) rumusan kondisi pembelajaran jelas dan cantumkan standar tingkah laku yang dapat di terima. Adapun (Degeng, 1989,juga Uno Hamzah, 1993) Mengemukakan ada tiga komponen utama dari suatu rumusan tujuan pembelajaran, yaitu prilaku , kondisi, dan derajat kriteria keberhasilan. Instruksional Development institute (IDI) menambahkan suatu komponen yang perlu lagi dispesifikasikan dalam rumusan tujuan, yaitu sasaran (Audience). Selanjutnya komponen-komponen ini oleh Degeng (1989), Uno Hamzah (1993) untuk lebih mudah mengingatnya di sebut dengan bantuan mnemonik ABCD (Audience, Behavioral, Conditions, dan Degree).
2. Melakukan analisis pembelajaran
Dengan cara analisis pembelajaran ini akan diidentifikasikasi keterampilan – keterampilan bawahan (subordinate skills). Jadi, posisi analisis pembelajaran dalam keseluruhan desain pembelajaran merupakan perilaku prasyarat , sebagai perilaku yang menurut urutan gerak fifik yang berlangsumg lebih dulu, perilaku yang menurut proses psikologis muncul lebih dulu atau secara kronologis terjadi lebih awal, sehingga analisis ini merupakan acuan dasar dalam melanjutkan langkah – langkah desain belajar tertentu.
Dick and carrey (1985) mengatakan bahwa tujuan pengajaran yang telah diidentifikasi perlu analisis untuk mengenali keterampilan – keterampilan bawahan (subordinate skills) yang mengharuskan anak didik belajar menguasainya dan langkah-langkah prosedural bawahan yang ada harus diikuti anak didik untuk dapat belajar tertentu .
Gagne,brigs, dan Wager (1988), tujuan analisis pengajaran adalah untuk menentukan keterampilan-keterampilan yang akan dijangkau oleh tujuan pembelajaran, serta memungkinkan untuk membuat keputusan yang diperlukan dalam urutan mengajar. Adapun atwi suparman (1991), analsisis instruksional adalah proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logik dan sistematik. Dengan melakukan analisis pembelajaran ini, akan tergambar susunan perilaku khusus yang paling awal sampai yang paling akhir.
Untuk menemukan keterampilan-keterampilan bawahan yang bersumber dari tujuan pembelajaran, digunakan pendekatan hierarki. Mengapa harus menggunakan pendekata hierarki, karena anak didik dituntut harus mampu memecahkan masalah atau melakukan kegiatan informasi yang tidak dijumpai sebelumnya, seperti mengklasifikasi dengan ciri-cirinya, menerapkan dalil atau prinsip untuk memecahkan masalah.
Menganalisis subordinate skills sangatlah diperlukan, karena iapabila ketermapilan bawahan yang seharusnya daka dikuasai tidak diajarkan, maka banyak anak didik tidak akan memiliki latar belakang diperlukan untuk mencapai tujuan , dengan demikian pembelajaran menjadi tidak efektif. Sebaliknya, apabila keterampilan bawahan yang berlebihan, pembelajaran akan memakan waktu yang lebih lama sebagaimana mestinya, dan ketermapilan yang tidak perlu diajarkan malah mengganggu anak didik dalam belajar menguasai keterampilan yang diperlukan.
Cara ynag digunakan untuk mengidentifikasi subordinate skills dengan cara memilih keterampilan bawahan yang berhubungan langsung dengan ranah tujuan pembelajaran. Biasanya untuk maa kuliah atau mata pelajaran tertentu keseluruhan tujuan merupakan keterampilan intelektual. Tekntik analisis keterampilan bawahanya menggunakan pendekatan hierarki, yaitu dengan memilih apa yang harus diketahui dan dilakukan oleh anak didik, sehingga denagan usaha pembelajaran sedikit mungkin untuk dikuasai atau dipelajari atau dikuasai melalui belajar.
3. Mengidentifikasi Tingkah Laku Masukan dan Karekteristik Mahasiswa
Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakterisitik siswa sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas perseorangan untuk dapat dijadikan sebagai petunjtu dalam mempreskripsikan strategi pengolahan pembelajaran. Aspek-aspek yang diungkap dalam kegiatan ini berupa bakat, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir, minat, atau keterampilan awal. Untuk mengungkap kemamouan awal mereka dapat dilakukan dengan pemberian panduan kurikulum. Adapun minat, motivasi, kemampuan berpikir, gaya belajar, dan lain-lainya dapat dilakukan dengan bantuan tes buku yang telah dirancang para ahli. Misalnya tes gaya belajar bisa menggunakan tes yang dibuat oleh keffe, (1992), tes berfikir formal menggunakan tes menurut piaget(1978) yang sudah pernah dilakukan di AS.
4. Merumuska Tujuan Performansi
Menutut dick and carrey (1985) menyatakan bahwa tujuan performansi terdiri atas:
(1) Tujuan harus menguraikan apa yang akan dpat dikerjakan, atau diperbuat oleh anak didik.
(2) Menyebutukan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat, yang hadir pada waktu anak didik berbuat.
(3) Menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik yang dimaksud pada tujan.
5. Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan
Tes acuan patokan terdiri atas soal-soal yang secara langsung mengukur istilah patokan yang dideskrpsikan dalam suatu pernagkap tujuan khusus. Istilah patokan (criterion) dipergunakan karena soal-soal tes merupakan rambu-rambu untuk menentukan kelayakan penampilan siswa dalam tujuan, keberhasilan siswa dalam tes ini menentukan apakah siswa telah mencapai tujuan khusus yang telah ditentukan atau belum, tes acuan patokan (criterion-referenced test) disebut juga tes acuan tujuan (objective-referenced test).
Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengmbangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk:
(1) Mendiagnosis dan menempatkannya dalam kurikulum;
(2) Mendorong hasil belajar dan menemukan kesalahan pengertian, sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutukan;
(3) Menjadi dokumen kemauan belajar;
Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, dick and carrey (1985), merekomendasikan 4 (empat) macam tes acuan patokan yaitu :
(1) Test entry behaviors merupakan tes acuan patokan untuk mengukur keterampilan sebagaimana adanya pada permulaan pembelajaran;
(2) Pretes merupakan tes acuan patokan yang berguna bagi keperluan tujuan yang telah dirancang sehinnga diketahui sejauh mana pengetahuan anak didik terhadap semua keterampilan yang berada diatas batas, yakni keterampilan prasyarat. Maksud dari pretes ini bukanlah untuk menetukan nilai akhir(perolehan belajar) tetapi lebih mengenai profil anak didik berkenaan analisis pembelajaran.
Tes sisipan merupakan tes acuan patokan yang melayani dua fungsi penting, yaitu (1) mengetes setelah satu atau dua tujuan pembelajaran diajarkan sebelum pascates, (2) untuk mengetes kemajuan anak didik, sehingga dapat dilakukan perbaikan (remedial) yang dibutuhkan sebelum pascates yang lebih formal. Pascates atau postes; merupakan tes acuan patokan yang menakup seluruh tujuan pembelajaran yang mencerminkan tingkat perolehan belajar sehingga dengan demikian dapat diidentifaksi bagian-bagian mana di antara tujuan pembelajaran yang belum tercapai.
Misalnya diterapkan pada mata kuliah perencanaan pengajaran, maka untuk melaksanakan tes entry behavioral dilaksanakan bersama-sama dengan ptites, mengapa? Hal ini didasarkan pada dua alternatif, yaitu (1) kedua tes tersebut sejauh mana keterampilan yang dimilki si belajar sebelum pembelajaran dimulai, sehingga bagi perancang dapat ditentukan star awal pembelajaran-nya; (2) jam yang tersedia menurut kurikulum sangat terbatas mengingat jumlah sks-nya hanya 3, sehingga jika dilakukan secara terpisah dianggap merugikan jam pembelajaran.
Untuk keperluan pascatest, mengapa? Hal ini disebabkan oleh 1) mata kuliah perencanaan pembelajaran mempunyai pascatest 30 soal. Sebagian besar tes tersebut adalah informasi verbal, sehingga si belajar ( mahasiswa) harus mengingat sejumlah konsep untuk keperluan pesintesian jawaban, dalam hal ini apabila dilakukan satu kali diperhitungkan waktu yang tersedia (100 menit) tidak cukup. Mengapa bentuk soal yang dibuat untuk keperluan pascates berbentuk essay? Hal ini sesuai dengan mata kuliah perencanaan pembelajaran yang telah ditentukan pada kurikulum, yaitu menganalisis, sehingga soal yang cocok untuk keperluan menganalisis adalah soal dengan bentuk esay. Untuk mempelajari masing-masing pokok bahasan mata kuliah perncanaan pengajaran dapat dilakukan secara terpisah tanpa tergantung pada bahasan pokok yang lain, sehingga pascates dapat dilakukan 3(tiga) kali, lebih baik jika dilakukan setiap satu pokok bahasan selesai diajarkan jika waktu yang tersedia pada kurikulum memungkinkan.
6. Mengembangkan strategi pembelajaran
Dalam strategi pembelajaran, menjelaskan komponen umum siswa suatu perangkat material pembelajaran dan mengembangkan materi secara prosedural haruslah berdasarkan karakreristik siswa. Karena material pembelajaran yang dikembangkan, pada akhirnya dimaksudkan untuk membantu siswa agar memperoleh kemuduahan dalam belaja. Untuk itu sebelim dikembangkan materi perlu dilihat kembali karakteristik siswa. Dalam tulisan lain dianjurkan melihat pula karakteristik materi. Dick dan carrey (1985), mengemukakan bahwa dalam perencanaan dalam satu unit pembelajaraan ada tiga tahap, yaitu (1) mengurutkan dan merumpunkan tujuan kedalam pembelajaran;(2)merencanakan pembelajaran,pengetesan, dan kegiatan tidak lanjut;(3) menyusun alokasi waktu berdasarkan strategi pembelajaran. Mengapa harus mengurutkan dan merumpunkan kedalam pembelajaran? Karena untuk mengembangkan material pembelajaran, menilai material yang ada, merevisi material, dan merencanakan pembelajaran . dengan mengurutkan tujuan ke dalam pembelajaran dapat lebih bermakna bagi isi belajar. Komponen-komponen hasil belajar terdiri atas; (a) kegiatan pra pembelajaran, (b) penyajian informas, (c) peran serta mahasisw,(d) pengetesan, dan (e) kegiatan tindak lanjut.
a. Kegiatan prapembelajaran
Mengapa harus ada kegiatan prapembelajaran? Kegiatan pra pembelajaran dianggap penting karena dapat memotivasi anak didik atau (mahasiswa) untuk mempelajari mata kuliah perencanaan pembelajaran misalnya. Disamping dapat memotivasi juga mereka akan dapat petunjuk-petunjuk yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran, sehingga pada akhir perkuliahan si belajar ( mahasiswa ) mampu mengusainya.
b. Penyajian informasi
Mengapa harus ada penyajian informasi? Karena dengan adanya penyajian informasi, anak didik ( siswa atau mahasiswa ) akan tahu seberapa jauh material pembelajaran yang harus meraka pelajari, disajikan sesuai dengan urutannya keterlibatan mereka dalam setiap urutan pembelajaran.
c. Peran serta mahasiswa
Mengapa peran serta si belajar ( siwa atau mahasiswa ) dianggap penting?
Anak didik harus diberikan kesempatan berlatih( terlibat ) dalam setiap langkah pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran, apakah itu dalam bentuk tanya jawab atau mengerjakan soal-soal latihan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kertas-kertas kerja, baik perorangan maupun kelompok setelah diberi komentar atau penilaian oleh dosen dikembalikan sebagai umpan balik untuk mereka terhadap apa yang telah dikerjakan. Semakin terlibat si belajar pada setiap kegiatan pembelajaran, diharapkan semakin baik perolehan belajar anak didik ( siswa atau mahasiswa) tersebut. Demikian juga halnya keterlibatan pembelajaran dalam dalam hal pemberian umpan balik tugas-tugas anak didik ( siwa atau mahasiswa).
d. Pengetesan
Untuk keperluan pengetesan ada empat macam tes acuan patokan yang dapat digunakan, yaitu :(1) tes tingkah laku masukan;(2) prates;(3) tes sisipan; dan (4) pascates. Apakah perlu keempat macam tes acuan patokan tersebut perlu dilakukan, karena sesuai dengan fungsinya akan memberikan umpan balik bagi pengajar untuk memperbaiki, merevis, baik material pembelajaran, strategi, maupun strategi pengetesan.
e. Kegiatan tindak lanjut
Apakah kegiatan tindak lanjut harus dilakukan? Mengapa? Karena rancngan pembelajaran dalam mata kuliah atau mata pelajaran tertentu dapat dikuasai seluruhnya oleh anak didik ( siswa atau mahasiswa) diukur pada penguasaan psacates. Dalam hal ini jika di bawah 80%, kepada mereka diberikan remedial dan tugas, kemudian diuji kembali sampai dinyatakan lulus. Bagaimana dengan si belajar (siswa atau mahasiswa) yang telah dinyatakan lulus? Bagi mereka yang sudah lulus, sementara yang lainya belum, maka kepada mereka akan diberikan bahan pengayaan( remedial ).
Mengapa harus ada penetapan alokasi waktu? Hal ini dimaksudkan agar menjadi pedoman bagi pengajar dalam melaksanakan pembelajaran ( tatap muka ) sehingga tidak menyimpang dari alokasi waktu yang telah ditetapkan. Setiap tatap muka terdiri atas 100 menit dengan rincian waktu; (i) pembukaan + penyajian informasi = 45 menit;(ii) tanya jawab atau diskusi = 30 menit;(iii) penyimpulan hasil diskusi oleh guru atau dosen = 25 menit. Jumlah pertemuan = 16 kali meliputi penyajian, diskusi, pnegetesan, dan remedial.
7. Mengembangkan dan memilih material pembelajaran
Dick and carrrey (1985) menyarankan ada tiga pola yang dapat diikuti oleh pengajar untuk merencang atau menyampaikan pembelajaran, yaitu sbb.
(1) Pengajar merancang bahan pembelajaran individual, semua tahap pembelajaran dimasukkan ke dalam bahan, kecuali prates dan pascates.
(2) Penagar memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan strategi pembelajaran. Peran pengajar akan bertambah dalam menyampaikan pembelajaran. Beberapa bahan mungkin saja disampaikan tanpa bantuan pengajar, jika tidak ada, pengajar harus memberi penjelasan.
(3) Pengajar tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut strategi pembelajaranya yang telah disusunya. Penegajar menggunakan strategi pembelajaranya yang telah disusunnya. Pengajar mengguanakan strategi pembelajarannya sebagai pedoman termasuk latihan dan kegiatan kelompok.
Kebaikan dari strategi ini adalah pengajar dapat segera memperbaiki dan memperbarui pembelajaran bila terjadi perubahan isi. Adapun kerugiannya adalah sebagian besar waktu tersita untuk menyampaikan informasi, sehingga sedikit sekali waktu untuk membantu anak didik .
Untuk keperlian program pengembangan mata pelajaran atau mata kuliah, misalnya mata kuliah perencanaan pembelajaran, khususnya untuk material pembelajarannya dipilih dari beberapa buku yang sesuai dengan keperluan pembelajaran mata kuliah tersebut. Sebagai contoh, salah satu buku yang diambil adalah buku yang disusun oleh Dr. Nyoman Sudana Degeng tentang pengembengan desain instruksioanal.
8. Mendesain dan melaksanakan Evaluasi Formatif
Mengapa evaliasi formatif perlu dilakukan? Karena evaluasi adalah salah satu langkah dalam mngembangkan desain pembelajaran yang berfungsi untuk mengumpulkan data untuk perbaikan pembelajaran. Dengan kata lain karena melalui evaluasi formatif dan ditemukan berbagai kekurangan yang terdapat kegiatan pembelajaran, sehingga kekurangan-kekuranagan tersebut dapat diperbaiki. Menurut dick and carrey ( 1985), ada tiga fase pokok penilaian formatif, yaitu (1) fase perorangan atau fase klinis. Pada fase ini perancang bekerja dengan siswa secara perorangan untuk memeperoleh d data guna untuk menyempurnakan bahan pelajaran. Data yang dimaksud di sini biasanya kesalahan-kesalahan. (2) fase kelompok kecil, yaitu sekelompok siswa yang terdiri atas delapan sampai sepuluh orang merupakan wakil cerminan populasi sasaran mempelajari bahan secara mandiri, dan kemudian diuji untuk memperoleh data yang diinginkan. (3) fase uji lapangan. Boleh diikuti oleh banyak siswa; sering 30 orang sudah mencukupi. Tekanan dalam uji coba lapangan ini adalah pada pengujian prosedur yang diperlukan untuk memberlakukanpembelajaran itu dalam suatu keadaan yang sangat nyata mungkin. Mengapa melakukan evaluasi kelompok kecil? Hal ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan perubahan yang telah dibuat, dan untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi anak didik jika menggunakan bahan tersebut. Mengapa uji coba lapangan perlu dilaksanakan? Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah perubahan- perubahan yang telah dibuat dari hasil penilaian perseorangan dan penilaian perseorangan dan penilaian kelompok kecil efektif jika digunakan dalam keperluan pembelajaran.
9. Merevisi Bahan Pembelajaran
Mengapa merevisi bahan pembelajaran perlu dilakukan? Untuk menyempurnakan bahan pembelajaran sehingga lebuh menarik, efektif bila digunakan dalam keperluan pembelajaran, sehingga memudahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Untuk dapat merevisi pembelajaran sesuai dengan data yang diperoleh dari evaluasi formatif, yaitu penilaina perseorangan, penilaian kelompok kecil, dan hasil akhir uji coba lapangan Dick and Carrey (1985) mengemukakan ada dua revisi yang perlu dipertimbangakan, yaitu (1) revisi terhadap isi atau subtansi bahan pembelajaran agar lebih cermat sebagai alat ajar, (2) revisi terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran. Untuk keperluan bahan pembelajaran ada empat macam keterangan pokok yang menjadi sumber dalam melakukan revisi, yaitu ( 1 ) ciri anak didik dan tingkah laku masukan; ( 2 ) tanggapan langsung terhadap pembelajaran termasuk tes sisipan; ( 3 ) hasil pembelajaran pascates; ( 4 ) jawaban terhadap kuisioner.
10. Mendesain dan melaksanakan Evaluasi sumatif
Mengapa perlu dilaksnakan evaluasi sumatif? Karena melalui evaluasi sumatif dapat ditetapkan dan diberikan nilai apakah suatau desain pembelajaran, di mana dasar keputusan penilaian di dasarkan pada keefektifan dan efisiansi dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, evaluasi sumatif diarahkan pada keberhasilan pencapaian tujuan yang telah di tetapkan, yang diperlihatkan oleh unjuk kerja siswa. Apa bila semua tujuan sudah dapat dicapai, efektivitas pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam mata pembelajaran tertentu dianggap berhasil dengan baik. Demikian pula jika keberhasilan siswa dicapai dalam rentangan waktu yang relatif pendek, maka dari segi efisiensi pembelajaran dapat dicapai. Dan terakhir, jika dengan rancangan pembelajaran ini mungkin dengan memberlakukan strategi yang baik, aktivitas belajar siswa meningkat, maka dari segi keberhasilan pada daya tarik pengajaran dapat dicapai. Dapatkah hal ini kita lakukan, semuanya terpeluang kepada guru yang merencanakan pembelajaran.
2. Tujuan penggunaan model belajar Dick and Carrey
Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar :
(1) pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan hal–hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran,
(2) adanya pertautan antara tiap komponen khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki,
(3) menerangkan langkah–langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.
Langganan:
Postingan (Atom)